Kesenjangan akses internet masih menjadi tantangan besar dalam transformasi digital Indonesia. Pemerintah mulai mengandalkan teknologi satelit generasi baru untuk mempercepat pemerataan konektivitas, terutama di wilayah geografis yang sulit dijangkau infrastruktur telekomunikasi konvensional.
Salah satu teknologi yang dinilai menjanjikan adalah satelit Non-Geostationary Satellite Orbit (NGSO), termasuk Low Earth Orbit (LEO). Teknologi ini diproyeksikan dapat menghadirkan akses internet ke daerah yang selama ini sulit dijangkau BTS maupun jaringan serat optik.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menilai kondisi geografis Indonesia—yang terdiri dari ribuan pulau, kawasan pegunungan, hingga daerah terpencil—membutuhkan pendekatan berbeda dalam pembangunan infrastruktur digital. Ia menyebut satelit NGSO, khususnya LEO, menawarkan manfaat yang sesuai dengan kebutuhan pada dimensi mendasar, strategis, dan praktis.
Nezar juga menegaskan pembangunan Base Transceiver Station (BTS) tidak selalu efektif untuk seluruh wilayah. Faktor topografi dan biaya investasi kerap menjadi kendala dalam memperluas jangkauan jaringan telekomunikasi. Karena itu, pemerintah mendorong pemanfaatan teknologi alternatif, termasuk satelit LEO, untuk menutup kesenjangan digital.
Menurutnya, tidak semua lokasi memungkinkan dibangun BTS. Pemerintah berupaya menerobos keterbatasan tersebut melalui berbagai opsi, seperti kabel serat optik, serta satelit LEO yang dinilai dapat menjadi salah satu solusi untuk memperluas akses internet.
Selain untuk pemerataan konektivitas, satelit LEO juga dipandang memiliki peran strategis saat terjadi situasi darurat dan bencana alam. Ketika jaringan komunikasi terestrial mengalami gangguan atau terputus, konektivitas berbasis satelit dapat menjadi jalur utama untuk mendukung komunikasi dan koordinasi penanganan darurat.
Nezar menyebut peran LEO terbukti krusial saat bencana yang menyebabkan komunikasi terputus di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Dalam kondisi tersebut, ia mengatakan konektivitas yang memungkinkan di daerah terdampak hanya dapat dilakukan melalui LEO.
Di sisi lain, upaya perluasan konektivitas digital juga menjadi perhatian dalam Indonesia Connectivity Forum 2026. Forum tersebut mendorong pemerataan akses untuk mendukung peningkatan layanan pendidikan, kesehatan, serta penguatan ekonomi masyarakat.