BERITA TERKINI
Pasar Saham Berfluktuasi, Ini Lima Aplikasi Investasi yang Banyak Dipakai Pemula

Pasar Saham Berfluktuasi, Ini Lima Aplikasi Investasi yang Banyak Dipakai Pemula

Pergerakan pasar saham global dan domestik dalam beberapa pekan terakhir berlangsung dinamis di tengah ketegangan geopolitik serta perubahan ekspektasi makroekonomi. Volatilitas terlihat di Wall Street maupun di Bursa Efek Indonesia (BEI), dengan pelaku pasar mencermati arah suku bunga dan pergerakan nilai tukar.

Di Amerika Serikat, indeks S&P 500 dan Nasdaq 100 sempat mencetak rekor tertinggi baru. Kenaikan ini didorong derasnya investasi pada sektor kecerdasan buatan (AI) serta rilis kinerja korporasi yang solid. Disebutkan, perusahaan teknologi penyedia layanan cloud menggelontorkan belanja modal hingga ratusan miliar dolar.

Namun, kehati-hatian meningkat setelah sejumlah bank investasi global memperingatkan risiko jenuh beli (overbought) dan valuasi saham teknologi yang dinilai sudah premium. Tekanan terlihat ketika Nasdaq mencatat penurunan harian terdalamnya dalam 14 bulan terakhir akibat aksi ambil untung, di tengah proyeksi bahwa bank sentral AS (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama karena inflasi yang persisten.

Di dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mengalami fluktuasi tajam. IHSG sempat turun hingga ke zona psikologis 5.300, yang dikaitkan dengan depresiasi rupiah terhadap dolar AS dan aksi jual bersih investor asing pada saham berkapitalisasi besar, terutama sektor perbankan dan telekomunikasi.

Meski demikian, pasar domestik disebut menunjukkan resiliensi. Memasuki pertengahan Juni, IHSG dilaporkan rebound dan kembali ke level 5.900, didorong respons pasar terhadap kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI Rate) serta aksi beli saat harga dinilai relatif murah (bargain hunting) oleh investor lokal, khususnya pada sektor teknologi, energi, dan barang baku.

Ke depan, arah pasar dinilai bergantung pada rilis data inflasi AS serta stabilitas nilai tukar rupiah. Investor disarankan tetap selektif dengan fokus pada saham-saham berfundamental kuat.

Di tengah kondisi pasar yang bergejolak, pemilihan aplikasi investasi menjadi salah satu pintu masuk yang kerap dipertimbangkan investor pemula. Berikut lima aplikasi investasi yang disebut dalam materi referensi, beserta ringkasan fitur dan catatan risikonya.

1. Pluang
Pluang disebut memiliki ekosistem multi-aset dengan basis lebih dari 12 juta pengguna. Dalam satu aplikasi, pengguna dapat mengakses lebih dari 1.000 produk investasi, mulai dari crypto, saham dan ETF Amerika Serikat, emas, reksa dana, hingga crypto futures dan options saham AS. Aplikasi ini disebut berizin dan diawasi Bappebti dan OJK.

Fitur yang dicantumkan antara lain akses ke ribuan aset, ketersediaan ratusan saham dan ETF AS, kemudahan top-up melalui bank lokal dan metode pembayaran lain, serta pencatatan transaksi pada lembaga yang disebutkan seperti JFX, KBI, CFX, KKI, dan KSEI sesuai jenis produknya. Pluang juga mencantumkan fitur USD Yield, analisis berbasis AI, leverage pada produk tertentu, serta dukungan instrumen derivatif.

Catatan risiko: meski berada dalam pengawasan regulator, produk saham AS, ETF, dan options tetap memiliki risiko karena harga dapat berfluktuasi dan nilai options dapat menyusut saat jatuh tempo. Penggunaan leverage juga mengandung risiko.

2. M-Stock (Mirae Asset Sekuritas)
M-STOCK adalah platform investasi milik PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia yang berfokus pada perdagangan saham domestik. Aplikasi tersedia di Android dan iOS, dengan fitur web dan mobile trading (tampilan Lite dan Pro), dukungan grafik real-time, analisis teknikal, pelaporan, serta segmentasi akun. Platform ini disebut cocok bagi investor maupun trader yang menginginkan akses komprehensif ke saham Indonesia.

Catatan risiko: investasi saham tetap memiliki risiko pasar, serta terdapat biaya dan ketentuan pajak yang perlu diperhatikan. Investor disarankan memahami profil risiko dan dokumen biaya sebelum bertransaksi.

3. MotionTrade (MNC Sekuritas)
MotionTrade merupakan platform online trading dari PT MNC Sekuritas untuk akses perdagangan saham BEI, termasuk aksi korporasi rights issue (HMETD) dan instrumen warrants/waran terstruktur. Layanan tersedia melalui web dan aplikasi seluler, dan disebut ditujukan bagi investor maupun trader yang menginginkan akses penuh ke saham BEI.

Catatan risiko: saham berpotensi fluktuatif, sementara rights dan waran terstruktur memiliki karakteristik serta risiko tersendiri. Investor disarankan memahami ketentuan, biaya, dan implikasi pajak.

4. BCA Sekuritas
BCA Sekuritas menyediakan layanan pialang untuk perdagangan saham/ETF di Bursa Efek Indonesia serta akses instrumen pendapatan tetap seperti obligasi. Fitur yang disebutkan mencakup kanal web dan mobile, Automatic Order (Stop Loss/Take Profit), serta chart dan data pasar real-time.

Catatan risiko: investasi pasar modal mengandung risiko, termasuk fluktuasi harga saham/ETF serta risiko tingkat bunga dan kredit pada obligasi. Investor disarankan meninjau biaya dan kewajiban pajak.

5. BIONS (BNI Sekuritas)
BIONS adalah platform multi-investasi yang memungkinkan transaksi saham BEI dan reksa dana melalui web dan mobile dalam satu ekosistem. Produk yang dicantumkan meliputi akses ke saham yang tercatat di BEI dan produk reksa dana, dengan dukungan transaksi via aplikasi, desktop, dan web. Disebutkan pula adanya fitur limit order dan auto-order.

Catatan risiko: harga saham dan NAB reksa dana dapat berfluktuasi, serta terdapat biaya transaksi dan pajak yang perlu dipertimbangkan.

Pada bagian penutup materi referensi, disebutkan bahwa pemilihan aplikasi investasi pada 2026 tidak hanya mempertimbangkan aspek biaya, tetapi juga kelengkapan fitur dan dukungan strategi. Materi tersebut juga menilai Pluang sebagai salah satu pilihan dengan kombinasi kepatuhan regulasi dan fitur yang disebut berorientasi pada kebutuhan trading yang lebih kompleks.