Sektor pariwisata Vietnam mencatat pertumbuhan yang melampaui periode sebelum pandemi COVID-19. Pada 2025, Vietnam menyambut sekitar 21,2 juta pengunjung internasional dan melayani sekitar 137 juta wisatawan domestik, dengan total pendapatan pariwisata sekitar 1 triliun VND.
Tren kenaikan berlanjut pada awal 2026. Data Badan Pariwisata Nasional Vietnam menunjukkan, dalam tiga bulan pertama 2026 jumlah wisatawan internasional hampir mencapai 6,8 juta, naik 12,4% dibandingkan periode yang sama pada 2025. Jumlah wisatawan domestik tercatat 37 juta, sementara pendapatan pariwisata pada periode yang sama diperkirakan sekitar 267 triliun VND.
Pemulihan ini dinilai positif, namun sekaligus memunculkan tuntutan baru. Sejumlah pengelola dan pakar menilai pariwisata Vietnam perlu beralih dari model pertumbuhan ekstensif menuju pendekatan yang lebih bertumpu pada teknologi, data, inovasi, serta tata kelola yang cerdas agar dapat berkembang lebih cepat, berkelanjutan, dan kompetitif.
Pandangan tersebut mengemuka dalam seminar “Pariwisata Vietnam – Mempromosikan Transformasi Digital dan Aplikasi AI untuk Pembangunan yang Cepat dan Berkelanjutan” yang diselenggarakan Asosiasi Pariwisata Vietnam pada 9 April, dalam rangka Pameran Pariwisata Internasional Vietnam (VITM) Hanoi 2026.
Ketua Asosiasi Pariwisata Vietnam, Vu The Binh, mengatakan transformasi digital tidak lagi sekadar opsi, melainkan kebutuhan praktis bagi lembaga pengelola negara, asosiasi profesi, pemerintah daerah, destinasi, hingga pelaku usaha pariwisata. Menurut dia, terobosan kecerdasan buatan (AI) dan teknologi telah mengubah cara wisatawan mencari informasi, memilih destinasi, memesan layanan, menikmati perjalanan, dan membagikan pengalaman setelah bepergian.
Ia menilai AI membuka peluang baru bagi industri, mulai dari analisis tren pasar, personalisasi produk, optimalisasi promosi, peningkatan kualitas layanan, dukungan manajemen pendapatan, prediksi arus wisatawan, pengaturan beban destinasi, peningkatan layanan pelanggan, hingga pembentukan ekosistem pariwisata cerdas.
Wakil Direktur Administrasi Pariwisata Nasional Vietnam, Pham Van Thuy, menyampaikan bahwa dorongan penerapan teknologi dan AI di sektor pariwisata turut mendukung implementasi Resolusi 57 Politbiro terkait terobosan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, inovasi, serta transformasi digital nasional. Ia menekankan AI dapat membantu mempersonalisasi pengalaman wisatawan.
Melalui analisis big data, sistem berbasis AI dinilai dapat membaca preferensi dan perilaku pelanggan untuk memberikan rekomendasi destinasi, layanan, dan rencana perjalanan yang relevan. Menurut pemaparan dalam seminar, pendekatan ini tidak hanya meningkatkan efisiensi dan kepuasan, tetapi juga berpotensi meningkatkan pengeluaran serta lama tinggal wisatawan.
AI juga dipandang membantu pengelolaan destinasi melalui analisis data waktu nyata, perkiraan permintaan, dan identifikasi tren. Dengan dukungan tersebut, lembaga pengelola dapat mengambil keputusan lebih tepat waktu untuk mengatur arus wisatawan, mengurangi kepadatan, dan melindungi sumber daya pariwisata.
Dari sisi operasional bisnis, AI disebut dapat meningkatkan efisiensi melalui otomatisasi dan penyempurnaan layanan, seperti chatbot layanan pelanggan, sistem pemesanan cerdas, hingga manajemen operasional hotel. Teknologi ini juga dinilai dapat membantu memantau dampak lingkungan, mengelola sumber daya secara lebih efektif, serta mendukung pengembangan pariwisata hijau dan bertanggung jawab.
Meski demikian, para pelaku industri mengakui masih ada sejumlah hambatan dalam transformasi digital dan penerapan AI. Vu The Binh menyoroti persoalan data yang masih terfragmentasi, keterbatasan dalam menghubungkan dan berbagi data, serta kesenjangan kemampuan digital antar pelaku usaha. Ia juga menyebut sebagian besar bisnis pariwisata merupakan usaha kecil dan menengah sehingga kemampuan investasi teknologi terbatas, di tengah kekurangan sumber daya manusia yang memahami pariwisata sekaligus memiliki kompetensi teknologi, data, dan AI.
Direktur Institut Ekonomi Pariwisata, Dr. Nguyen Anh Tuan, menilai transformasi digital dan penerapan AI di pariwisata Vietnam masih memiliki banyak keterbatasan dan tertinggal dibanding sejumlah negara. Ia menyebut Vietnam belum memiliki ekosistem data terpadu sebagai fondasi transformasi digital. Menurut dia, penerapan AI masih terbatas dan terfragmentasi, terutama pada promosi dan komunikasi, serta belum diterapkan secara memadai dalam manajemen destinasi, manajemen kebijakan, maupun peramalan pasar.
Ia juga menyoroti keterbatasan kemampuan digital di kalangan pelaku usaha, kesulitan usaha kecil dan mikro dalam mengakses teknologi, serta kebutuhan akan mekanisme kebijakan yang inovatif dan strategi transformasi digital pariwisata nasional yang tersinkronisasi.
Untuk menjawab tantangan itu, Nguyen Anh Tuan menyarankan pembangunan ekosistem pariwisata digital nasional yang ditopang data pariwisata terbuka dan konektivitas multipemangku kepentingan antara lembaga pengelola, bisnis, dan wisatawan. Ia menilai AI perlu ditempatkan sebagai teknologi inti, terutama untuk prediksi tren, personalisasi pengalaman, dan manajemen destinasi. Ia juga menekankan pentingnya pengembangan pariwisata cerdas yang selaras dengan pertumbuhan hijau, dukungan transformasi digital bagi bisnis, serta penentuan prioritas tahapan penerapan AI.
Sementara itu, Pham Van Thuy mengingatkan transformasi digital dan AI bukan solusi instan untuk seluruh persoalan. Namun, ia menilai langkah tersebut merupakan jalur yang tidak terhindarkan bagi pariwisata Vietnam untuk meningkatkan daya saing di tingkat internasional. Ia menambahkan, Administrasi Pariwisata Nasional Vietnam akan terus meneliti dan mengusulkan perbaikan mekanisme serta kebijakan guna mendukung pelaku usaha dan daerah dalam transformasi digital, transformasi hijau, dan penerapan AI yang efektif ke depan.