Sejumlah pemimpin teknologi global menyerukan penerapan regulasi yang lebih ketat untuk mencegah kecerdasan buatan (AI) dimanfaatkan dalam pengembangan senjata biologis. Seruan itu disampaikan melalui surat terbuka kepada Kongres Amerika Serikat yang ditandatangani tokoh-tokoh industri AI, termasuk Sam Altman (OpenAI), Dario Amodei (Anthropic), dan Mustafa Suleyman (Microsoft).
Surat tersebut juga ditandatangani Demis Hassabis (Google DeepMind), Alexandr Wang (Meta), serta eksekutif dari perusahaan bioteknologi seperti Twist Bioscience dan Ansa Biotechnologies. Mereka memperingatkan bahwa kemajuan AI dapat memungkinkan individu tanpa keahlian biologi mendalam untuk merancang urutan DNA atau RNA berbahaya, memesan materi genetik secara daring, lalu merakitnya menjadi patogen mematikan.
Surat terbuka itu diinisiasi oleh dua lembaga pemikir, Foundation for American Innovation dan Institute for Progress. Salah satu usulan utama yang disampaikan adalah mewajibkan perusahaan penjual bahan genetik sintetis memindai setiap pesanan untuk mendeteksi urutan yang berpotensi digunakan dalam pembuatan agen biologis berbahaya.
Para penandatangani menilai ancaman tersebut bukan lagi sekadar fiksi ilmiah. Mereka menyebut AI mampu menganalisis jutaan kemungkinan urutan genetik dalam hitungan detik, menggantikan proses yang sebelumnya bisa memerlukan waktu bertahun-tahun serta dukungan laboratorium berteknologi tinggi. Di sisi lain, akses terhadap layanan pengiriman DNA secara global dinilai membuat celah keamanan biologis semakin rentan.
Pernyataan bersama itu dipandang sebagai langkah yang jarang terjadi di tengah persaingan ketat antar perusahaan AI. Kekhawatiran yang disampaikan juga dikaitkan dengan peringatan ilmuwan selama bertahun-tahun mengenai potensi rekonstruksi virus berbahaya—termasuk contoh rekonstruksi poxvirus kuda yang pernah dilakukan pada 2018—yang dinilai dapat menjadi preseden jika prosesnya dipercepat oleh AI.
Dalam surat itu, para penandatangani menekankan bahwa regulasi seharusnya tidak menghambat inovasi, namun perlu memastikan kemajuan ilmiah tidak dimanfaatkan untuk tujuan kejahatan. Mereka mendesak Kongres AS segera mengesahkan undang-undang yang mewajibkan pelacakan, verifikasi, dan pelaporan transaksi bahan genetik, sekaligus mendorong kerja sama internasional untuk menutup celah regulasi yang dinilai masih terbuka.
Menurut mereka, tanpa tindakan cepat, dunia berisiko menghadapi pandemi yang bukan berasal dari alam, melainkan dipicu oleh kode yang dirancang manusia.