JAKARTA — Kekayaan pangan lokal Indonesia dinilai masih menyimpan peluang besar untuk dikembangkan menjadi produk pangan fungsional yang bermanfaat bagi kesehatan masyarakat. Mahasiswa pun didorong untuk lebih aktif mengeksplorasi potensi tersebut melalui penelitian ilmiah yang inovatif dan relevan dengan kebutuhan masa depan.
Pesan itu disampaikan Ketua Tim Pakar Program IRN 2026–2027 sekaligus Guru Besar IPB, Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, M.Sc., dalam pembukaan Program IRN 2026–2027 yang kembali digelar.
Menurut Purwiyatno, peran pangan saat ini telah berkembang melampaui fungsi dasarnya sebagai sumber energi dan pemenuhan gizi. Pangan juga dinilai memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
“Ada hubungan yang erat antara pangan dan kesehatan. Pangan tidak lagi sekadar pemenuhan gizi dan energi, melainkan penopang kesehatan yang krusial, terutama dalam meningkatkan daya tahan tubuh melalui asupan pangan fungsional,” ujarnya dalam siaran pers, Selasa (9/6).
Ia menilai Indonesia memiliki beragam sumber daya alam dari sektor pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, dan kelautan yang berpotensi dikembangkan menjadi produk pangan fungsional bernilai tambah tinggi. Namun, pengembangan itu disebut membutuhkan dukungan penelitian yang kuat agar inovasi yang dihasilkan berbasis bukti ilmiah.
Melalui Program IRN 2026–2027 yang mengusung tema “Penelitian Pangan Fungsional Berbasis Potensi dan Kearifan Lokal”, mahasiswa di berbagai daerah didorong lebih peka terhadap potensi di lingkungan sekitarnya.
“Kami ingin mendorong mahasiswa di seluruh Indonesia untuk lebih peka, sensitif dan eksploratif dalam mengangkat kearifan lokal serta potensi di sekitar mereka, lalu mentransformasikannya menjadi inovasi pangan fungsional yang berbasis ilmiah,” kata Purwiyatno.
Program IRN merupakan bantuan dana riset bagi mahasiswa strata satu (S1) yang tengah menyelesaikan tugas akhir. Program ini terbuka bagi mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu, tidak terbatas pada bidang teknologi pangan, selama topik penelitian yang diajukan sesuai dengan tema dan cakupan yang ditentukan.
Purwiyatno juga menekankan pentingnya kualitas proposal penelitian. Menurutnya, keberhasilan proposal tidak hanya ditentukan aspek teknis penulisan, tetapi juga relevansi riset terhadap tema serta kontribusinya bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan masyarakat.
“Proposal yang kuat bukan hanya soal teknis penulisan, melainkan soal relevansi dan kejelasan kontribusi riset terhadap tema program. Kesesuaian topik penelitian dengan tema pangan fungsional menjadi hal yang penting. Pastikan latar belakang menjelaskan urgensi penelitian dengan baik, dan pastinya jangan lewatkan batas waktu pengumpulan,” ujarnya.
Ia menambahkan, tim pakar berharap dapat menemukan gagasan baru dari mahasiswa di seluruh Indonesia untuk menjawab tantangan pengembangan pangan sehat dan berkelanjutan pada masa depan.
Program IRN 2026–2027 menerima proposal penelitian yang berfokus pada eksplorasi sumber daya alam darat dan laut berbasis potensi serta kearifan lokal. Bidang penelitian yang dapat diajukan meliputi agro-teknologi atau budidaya, teknologi proses dan pengolahan, gizi dan kesehatan masyarakat, hingga sosial budaya, ekonomi, dan pemasaran.
Pendaftaran proposal dibuka hingga 31 Agustus 2026, sementara pengumuman penerima bantuan dana riset dijadwalkan pada Oktober 2026. Memasuki usia 20 tahun penyelenggaraan, Program IRN disebut telah menerima lebih dari 8.300 proposal penelitian dan mendanai lebih dari 1.100 riset mahasiswa dari lebih dari 200 perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Melalui program ini, diharapkan semakin banyak inovasi pangan berbasis kearifan lokal lahir dari tangan generasi muda Indonesia.