OpenAI dikabarkan berencana merombak ChatGPT dari chatbot sederhana menjadi “aplikasi super” yang mampu menangani beragam kebutuhan pengguna, dari pekerjaan profesional hingga aktivitas sehari-hari seperti memesan tiket perjalanan atau menjadwalkan janji temu. Para eksekutif perusahaan menilai era chatbot tradisional dan mesin pencari murni akan berangsur memudar, seiring pengguna semakin mencari alat AI yang tidak hanya menjawab pertanyaan, tetapi juga dapat mengambil tindakan.
Menurut laporan Financial Times, pembaruan ini akan disertai desain ulang antarmuka ChatGPT. OpenAI disebut akan menambahkan petunjuk dan fitur baru untuk mendorong pengguna mencoba berbagai alat, termasuk pemrograman, pembuatan gambar, serta integrasi dengan aplikasi pihak ketiga seperti Canva dan Booking.com. Target utama perombakan ini adalah mengarahkan pengguna dari fitur gratis ke produk dan layanan komersial dengan nilai lebih tinggi.
Perubahan tersebut juga disebut akan menempatkan Codex sebagai fokus yang lebih besar. Codex merupakan platform pemrograman AI OpenAI yang memungkinkan pengguna membuat perangkat lunak atau menulis kode dari persyaratan sederhana menggunakan bahasa alami. Sejak meluncurkan aplikasi desktop pada Februari 2026, pengguna aktif mingguan Codex dilaporkan meningkat enam kali lipat dan melampaui 5 juta.
Dalam jangka panjang, OpenAI dikabarkan berencana mengurangi ketergantungan pada perintah dan fitur manual. Perusahaan bertaruh bahwa model generasi berikutnya akan mampu memahami maksud pengguna secara otomatis ketika mereka memakai aplikasi atau mengakses situs web. OpenAI diperkirakan mulai meluncurkan pembaruan awal untuk aplikasi ChatGPT di ponsel dan peramban web dalam beberapa minggu ke depan.
Reuters melaporkan, rencana perombakan ini merupakan bagian dari strategi restrukturisasi produk OpenAI untuk memperkuat layanan yang menghasilkan pendapatan sekaligus meningkatkan daya saing, terutama menghadapi Anthropic di segmen pelanggan perusahaan.
Berdasarkan statistik Financial Times, aplikasi ChatGPT telah menarik hampir 1 miliar pengguna global sejak peluncuran pada 2022, namun sebagian besar masih memakai versi gratis. Di sisi lain, meski jumlah bisnis yang menggunakan produk OpenAI disebut baru sekitar 2 juta, kelompok ini menyumbang 40% dari total pendapatan perusahaan dan diproyeksikan naik menjadi 50% pada akhir tahun ini. Karena itu, OpenAI berupaya mengonversi basis pengguna besar tersebut menjadi aliran pendapatan yang lebih stabil melalui layanan berbayar.
Pergeseran strategi ini dinilai memiliki kemiripan dengan pendekatan Anthropic yang lebih menitikberatkan segmen perusahaan ketimbang konsumen massal dan disebut mengalami pertumbuhan cepat. OpenAI juga menghadapi tekanan untuk meningkatkan pendapatan dan menunjukkan jalur menuju profitabilitas menjelang rencana penawaran umum perdana (IPO) tahun ini.
Jenny Xiao, mitra di Leonis Capital sekaligus mantan peneliti OpenAI, mengatakan bahwa sekitar setahun lalu strategi OpenAI berfokus pada tujuan yang sangat ambisius, sementara Anthropic lebih memprioritaskan pendapatan. “Sekarang, kedua strategi ini bertemu karena kedua perusahaan tersebut mengincar IPO, dan investor lebih tertarik pada pendapatan aktual daripada mimpi,” ujarnya.
Secara keseluruhan, langkah OpenAI ini mengindikasikan taruhan perusahaan bahwa AI berbasis agen—yang dapat menjalankan tindakan atas nama pengguna—akan menjadi teknologi kunci pada fase berikutnya industri kecerdasan buatan, sekaligus menjadi bagian penting dalam meyakinkan investor menjelang rencana IPO.