BERITA TERKINI
NTSB Ungkap Suara Pilot Korban Kecelakaan 2025 Direkonstruksi dengan AI dan Beredar di Internet

NTSB Ungkap Suara Pilot Korban Kecelakaan 2025 Direkonstruksi dengan AI dan Beredar di Internet

National Transportation Safety Board (NTSB) mengungkap temuan terkait penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam kasus kecelakaan pesawat tahun 2025. Menurut NTSB, suara pilot yang tewas dalam insiden tersebut berhasil direkonstruksi menggunakan teknologi deepfake, lalu menyebar di internet.

Rekonstruksi itu disebut memanfaatkan data spektogram yang berasal dari rekaman kotak hitam. Data tersebut sejatinya digunakan untuk kepentingan investigasi kecelakaan, namun kemudian digunakan untuk menghasilkan audio yang terdengar sangat mirip dengan suara asli pilot.

TechCrunch melaporkan, pelaku memanfaatkan file spektogram dan menggabungkannya dengan transkrip narasi yang tersedia. Dengan bantuan alat AI seperti Codex, data frekuensi suara dari rekaman kokpit dipakai untuk melatih model agar mampu meniru intonasi, jeda, dan nuansa vokal pilot. Hasilnya berupa audio yang terdengar seolah-olah pilot masih berbicara, termasuk menirukan percakapan terakhir sebelum pesawat jatuh.

YouTuber teknologi Scott Manley menilai peristiwa ini bukan sekadar rekayasa suara biasa. Ia menyebutnya sebagai pemulihan suara dari jejak digital yang tidak terduga, ketika data yang seharusnya hanya menjadi bagian dari proses investigasi dapat diolah menjadi rekaman palsu yang meyakinkan. Manley juga memperingatkan adanya celah keamanan pada sistem penyimpanan data kecelakaan pesawat yang berpotensi dimanfaatkan untuk tujuan tidak etis.

Merespons temuan tersebut, NTSB mengambil langkah dengan mengisolasi dan membatasi akses ke seluruh arsip audio kecelakaan, termasuk yang sebelumnya bersifat publik. NTSB menyatakan pembatasan dilakukan untuk melindungi keluarga korban sekaligus mencegah penyalahgunaan lanjutan yang dapat mengaburkan fakta investigasi atau memicu kepanikan publik.

Kasus ini turut memicu pembahasan lebih luas mengenai etika penggunaan AI. Di satu sisi, teknologi rekonstruksi suara dinilai memiliki potensi, misalnya untuk keperluan terapi atau dokumentasi sejarah. Namun di sisi lain, peristiwa ini menyoroti kerentanan sistem yang selama ini mengandalkan data sebagai bukti, ketika data tersebut dapat dimanipulasi sehingga sulit dibedakan dari rekaman asli.

Di tengah perkembangan teknologi yang kian cepat, pertanyaan tentang cara membedakan audio asli dan buatan kembali mengemuka di kalangan regulator, ilmuwan, dan keluarga korban. Isu mengenai tanggung jawab ketika informasi yang beredar tidak lagi dapat dipastikan keasliannya juga menjadi sorotan dalam diskusi tersebut.