Microsoft menyatakan kini memiliki ruang gerak yang lebih leluasa untuk mengembangkan kecerdasan buatan (AI) canggih secara mandiri, setelah perubahan dalam kerja sama dengan OpenAI. Kepala Microsoft AI, Mustafa Suleyman, mengatakan perusahaan baru sekitar enam bulan terakhir terbebas dari sejumlah batasan yang sebelumnya muncul akibat kedekatan kemitraan dengan OpenAI.
“Kami sebenarnya baru bisa benar-benar leluasa, sekitar enam bulan lalu, setelah tidak lagi terikat oleh kontrak dengan OpenAI untuk secara resmi mengejar pengembangan superintelligence,” kata Suleyman. Ia menambahkan bahwa upaya tersebut masih berada pada tahap awal.
Pernyataan itu disampaikan Suleyman dalam rangkaian konferensi pengembang Build 2026 yang digelar Microsoft pekan ini. Dalam konteks ini, Microsoft menyebut target ambisiusnya adalah membangun “superintelligence”, yakni AI dengan kemampuan yang melampaui manusia.
Selama beberapa tahun terakhir, Microsoft dikenal sebagai investor dan mitra terbesar OpenAI. Perusahaan yang dipimpin Satya Nadella itu telah mengucurkan investasi miliaran dolar AS serta menjadi penyedia infrastruktur cloud utama bagi ChatGPT dan berbagai produk OpenAI lainnya.
Namun, menurut Suleyman, hubungan kedua perusahaan kini mulai berubah seiring perubahan kesepakatan yang memungkinkan Microsoft membangun model AI frontier miliknya sendiri tanpa terikat pembatasan yang sebelumnya berlaku. Meski demikian, Microsoft disebut tetap mempertahankan hak akses terhadap teknologi OpenAI hingga 2032 sesuai perjanjian yang telah disepakati.
Perubahan arah ini terlihat dalam ajang Build 2026, ketika Microsoft memperkenalkan tujuh model AI baru yang dikembangkan secara internal dalam keluarga Microsoft AI (MAI). Model-model tersebut mencakup kemampuan penalaran (reasoning), pemrograman (coding), pembuatan gambar, sintesis suara, hingga transkripsi suara.
Salah satu model yang diperkenalkan adalah MAI-Thinking-1, yang dirancang untuk menangani tugas kompleks seperti analisis, pemecahan masalah, dan pengembangan perangkat lunak. Microsoft juga memperkenalkan MAI-Code-1 untuk kebutuhan pemrograman serta MAI-Image-2.5 untuk pembuatan gambar berbasis AI, disertai sejumlah model suara dan transkripsi yang direncanakan digunakan di berbagai layanan Microsoft.
Peluncuran model-model tersebut menandai upaya Microsoft untuk memiliki teknologi AI inti sendiri, tidak lagi semata mengandalkan model dari OpenAI.