Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni meluncurkan aplikasi “Ayo ke Taman Nasional” sebagai bagian dari percepatan transformasi digital dalam pengelolaan kawasan konservasi. Platform digital ini ditujukan untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi dan layanan kunjungan ke taman nasional di seluruh Indonesia secara lebih cepat dan terintegrasi.
Raja Juli mengatakan, aplikasi tersebut menjadi upaya modernisasi layanan publik di sektor kehutanan. Melalui satu platform, masyarakat dapat membeli tiket masuk taman nasional, memperoleh informasi destinasi wisata alam, serta mengakses layanan pendukung lainnya.
“Ini sebuah platform yang kami harapkan dapat memudahkan masyarakat membeli tiket dan mencari informasi dengan lebih cepat. Transformasi digital merupakan salah satu cita-cita yang kini telah berjalan sekitar 93 persen dan diperkuat dengan hadirnya aplikasi ini,” kata Raja Juli dalam keterangannya, Kamis, 4 Juni 2026.
Ia menjelaskan, Indonesia saat ini memiliki 57 taman nasional dan 143 taman wisata alam. Jumlah kunjungan ke kawasan-kawasan tersebut disebut terus meningkat dari tahun ke tahun. Karena itu, Kementerian Kehutanan menyatakan berkomitmen memastikan setiap kawasan konservasi mampu memberikan pengalaman wisata yang aman, nyaman, dan berkualitas bagi pengunjung.
“Saya sebagai Menteri Kehutanan memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan taman nasional dan taman wisata alam yang masyarakat kunjungi menjadi tempat yang aman, nyaman, dan memberikan pengalaman yang baik bagi seluruh pengunjung,” ujarnya.
Raja Juli juga menyoroti perubahan dalam sistem layanan tiket. Ia menyebut, saat awal menjabat, sebagian besar taman nasional masih menggunakan sistem tiket manual.
“Satu setengah tahun lalu saya masuk ke Kementerian Kehutanan, sistem tiketnya masih sistem sobek. Saya merasa ini tidak efektif, tidak efisien, sekaligus tidak transparan dan akuntabel,” ujarnya.
Menurutnya, Kementerian Kehutanan kemudian mempercepat penerapan sistem tiket elektronik di kawasan konservasi. Saat ini, sekitar 93 persen taman nasional telah menggunakan e-ticketing. Meski demikian, masih ada sejumlah lokasi yang menghadapi kendala jaringan internet dan pasokan listrik.
“Sekarang sudah 93 persen kita melakukan e-ticketing di taman nasional kita. Masih ada beberapa tempat yang mengalami kendala internet dan listrik, tetapi kami mencari teknologi yang paling efisien, termasuk pemanfaatan solar panel, sehingga di tempat-tempat terpelosok sekalipun kita bisa menawarkan layanan e-ticketing yang lebih baik,” kata Raja Juli.