Perkembangan bahasa di era digital berlangsung cepat, terutama di kalangan anak muda. Sejumlah istilah bahasa Inggris kian sering dipakai di berbagai platform media sosial seperti Facebook, TikTok, dan Instagram. Salah satu kata yang ramai digunakan adalah “lowkey”. Namun, penggunaan “lowkey” oleh sebagian anak muda kerap bergeser dari makna aslinya.
Secara etimologis, “lowkey” (ejaan lengkap: low-key) berawal dari konteks musik, yakni untuk menggambarkan rentang vokal yang rendah dan dalam. Pada abad ke-19, penulis Charles Dickens juga pernah memakai istilah tersebut untuk menggambarkan suara tokoh dalam salah satu novelnya. Dalam perkembangan berikutnya, “lowkey” digunakan dalam rujukan kebahasaan untuk menyebut suara yang rendah dan lembut, seperti bisikan.
Sebelum era 1890-an, “lowkey” juga dipakai sebagai metafora untuk sesuatu yang tenang, sederhana, atau moderat. Sekitar 100 tahun kemudian, cakupan maknanya meluas hingga merujuk pada kenyamanan dan kealamian.
Menurut Kamus Bahasa Inggris Cambridge, “lowkey” didefinisikan sebagai kata sifat untuk menggambarkan sesuatu yang tenang, sederhana, dan tidak menarik banyak perhatian atau keributan. Contohnya, kalimat “The wedding was a low-key affair, with less than 30 people attending” berarti pernikahan tersebut berlangsung sederhana dengan jumlah tamu kurang dari 30 orang.
Istilah ini juga dikenal populer di kalangan hip-hop Amerika sebelum menyebar lebih luas. Pada 2014, “low-key” disebut dalam lirik lagu Nicki Minaj berjudul “Only”. Dalam konteks itu, “low-key” dipakai untuk menyiratkan sesuatu yang dirahasiakan, sementara “high-key” merujuk pada sesuatu yang dipublikasikan.
Ketika masuk ke percakapan di media sosial Vietnam, “lowkey” mengalami pergeseran makna. Istilah tersebut kerap dipakai untuk menggambarkan seseorang yang memilih gaya hidup tertutup, tidak ingin menarik perhatian, atau tidak suka pamer di media sosial.
Penilaian itu bahkan sering didasarkan pada tampilan profil. Akun dengan avatar anonim, tanpa foto diri, jarang memperbarui status, dan minim interaksi bisa langsung dicap sebagai “kalem” atau “lowkey”. Ada pula pengguna yang membangun citra “sederhana” dengan menyembunyikan seluruh unggahan mereka.
Dalam praktiknya, sebagian orang juga disebut “lowkey” karena tidak membagikan cerita pribadi, keluhan, atau kesulitan terkait pekerjaan di media sosial, serta tidak memiliki banyak teman di platform tersebut. Seiring waktu, penggunaan istilah ini semakin melebar, termasuk untuk menyebut orang yang tidak mengikuti tren media sosial terbaru. Misalnya, seseorang bisa dikomentari “hidup lowkey” hanya karena tidak mengetahui kabar selebritas tertentu.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana istilah populer dapat berubah ketika masuk ke lingkungan bahasa dan budaya baru. Bagi sebagian anak muda, memodifikasi kata-kata umum dianggap sebagai permainan yang menyenangkan dan mengikuti tren. Namun, ada pula kekhawatiran dari sebagian generasi yang lebih tua bahwa perubahan yang terlalu jauh dapat membuat makna kata menjadi kabur. Mereka menilai penggunaan istilah gaul tanpa memahami arti awalnya berpotensi memicu salah tafsir dan menimbulkan kesalahpahaman dalam komunikasi.