BERITA TERKINI
Menekraf Hadiri Peluncuran Wolvesight, Aplikasi Keamanan Siber Berbasis AI Karya Anak Bangsa

Menekraf Hadiri Peluncuran Wolvesight, Aplikasi Keamanan Siber Berbasis AI Karya Anak Bangsa

Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menegaskan keamanan siber perlu menjadi fondasi utama agar transformasi digital Indonesia dapat berjalan berkelanjutan. Penegasan itu disampaikan saat ia menghadiri peluncuran Wolvesight, platform aplikasi inovasi keamanan siber berbasis artificial intelligence (AI) karya anak bangsa.

Teuku Riefky merujuk pidato Presiden Prabowo Subianto pada World Governments Summit 2025 yang menekankan visi transformasi digital Indonesia yang inklusif. Presiden menyatakan bahwa setiap warga Indonesia, dari pulau terpencil hingga pusat kota Jakarta, harus memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam ekonomi digital, belajar, berinovasi, dan mencapai kesejahteraan.

Menurut Teuku Riefky, visi tersebut membutuhkan dukungan keamanan siber yang kuat. Ia menyebut keamanan siber bukan lagi sekadar komponen teknis, melainkan fondasi kepercayaan yang menopang aktivitas ekonomi digital, perlindungan data, integritas platform, perlindungan kekayaan intelektual, serta keberlangsungan usaha para pelaku ekonomi kreatif.

Untuk mewujudkan visi Presiden sekaligus mendukung target Indonesia menjadi salah satu dari 20 kekuatan ekonomi terbesar dunia pada 2045, Teuku Riefky menekankan tiga prasyarat utama. Ketiganya meliputi pengembangan super platform yang andal dan aman, percepatan transformasi digital di seluruh lapisan ekosistem, serta produksi talenta digital berkualitas yang berdaya saing global.

Ia menilai kehadiran Wolvesight menunjukkan Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menghadirkan solusi digital yang inovatif dan kompetitif. Wolvesight disebut sebagai platform pertama di Asia Tenggara yang menggabungkan teknologi multi-agent AI dan evidence-first validation untuk mendukung proses penetration testing serta mengidentifikasi celah logika bisnis (business logic flaws) pada sistem industri dan perbankan.

Teuku Riefky juga menekankan bahwa inovasi tersebut lahir dari pengalaman, kompetensi, dan kreativitas talenta Indonesia yang memahami kebutuhan pasar serta tantangan keamanan digital di berbagai sektor. Ia menyebut peluncuran Wolvesight sejalan dengan upaya Kementerian Ekraf dalam mendorong penguatan ekosistem ekonomi kreatif berbasis digital yang aman, tangguh, dan berdaulat secara teknologi.

Sementara itu, Owner & Managing Director Spentera Group, Royke L. Tobing, mengatakan Wolvesight hadir sebagai hasil riset dan pengembangan talenta Indonesia untuk menjawab kebutuhan keamanan siber yang semakin kompleks. Ia menilai Indonesia perlu mendorong lahirnya lebih banyak produk keamanan siber lokal agar tidak hanya berperan sebagai konsultan atau distributor teknologi luar negeri, tetapi juga mampu menghasilkan inovasi sendiri yang berdaya saing global.

Royke menyebut pengembangan Wolvesight ditujukan untuk membantu organisasi melakukan penetration testing dan mengidentifikasi celah keamanan secara lebih cepat dan akurat. Saat ini, fokus pemanfaatannya diarahkan pada sistem industri dan perbankan yang memiliki kebutuhan keamanan digital tinggi.

Kehadiran Menteri Ekonomi Kreatif dalam peluncuran tersebut menegaskan komitmen pemerintah untuk mendorong lahirnya inovasi keamanan siber karya anak bangsa.