BERITA TERKINI
Menagih Orientasi Riset dan Inovasi yang Lebih Bertanggung Jawab

Menagih Orientasi Riset dan Inovasi yang Lebih Bertanggung Jawab

Dunia akademik Indonesia dinilai berada di titik persimpangan yang menentukan arah peradaban. Di satu sisi, komunitas ilmiah terus didorong mengejar ketertinggalan dalam lanskap publikasi global. Namun di sisi lain, pertanyaan mendasar mengenai makna dan tujuan riset kerap terabaikan.

Selama puluhan tahun, perguruan tinggi di Indonesia disebut telah bertransformasi menjadi mesin produksi karya tulis yang sangat prolifik. Meski demikian, dampak substantifnya bagi kehidupan nyata masyarakat masih dinilai minim.

Dalam konteks kegelisahan tersebut, konsep Responsible Research and Innovation (RRI) yang dipopulerkan Uni Eropa melalui program Horizon Europe dinilai relevan untuk Indonesia. Namun, adopsinya diingatkan agar tidak berhenti sebagai ornamen kebijakan atau sekadar pemanis retorika dalam proposal hibah, melainkan menjadi reorientasi yang menyeluruh terhadap moralitas intelektual.

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) disebut perlu merujuk pada kerangka normatif Uni Eropa, di mana RRI mewajibkan antisipasi mendalam terhadap dampak lingkungan dan sosial dari setiap aktivitas ilmiah. Di Indonesia, transformasi ini dipandang tidak cukup dilakukan melalui perubahan teknis administratif, melainkan harus menjadi upaya untuk menyelaraskan nilai-nilai global dengan konteks sosiokultural masyarakat lokal yang beragam.

Kritik juga diarahkan kepada pemerintah terkait penerapan paradigma “output-sentris” yang dinilai secara sistemis membelenggu daya cipta peneliti. Keberhasilan riset kerap seolah hanya diakui ketika artikel terbit di jurnal bereputasi internasional atau ketika sertifikat paten resmi diterima.

Pola tersebut dinilai berisiko mereduksi makna keilmuan. Merujuk pemikiran Prof. Arif Satria, Kepala Badan Riset dan Inovasi (BRIN), perguruan tinggi dan lembaga penelitian didorong memiliki keberanian epistemologis untuk beralih dari paradigma menghitung jumlah publikasi menuju pengukuran yang lebih bermakna, yakni Indikator Dampak (Impact Indicator).

Indikator dampak ditekankan bukan semata soal seberapa sering karya peneliti dikutip dalam literatur akademik, melainkan sejauh mana inovasi memberi perubahan nyata. Contohnya, peningkatan produksi pertanian di tengah perubahan iklim, perbaikan kualitas air yang digunakan masyarakat, penguatan kesejahteraan warga miskin melalui bank sampah, pelibatan warga menjaga kebersihan lingkungan melalui program Pro-poor Payment for Environmental Services, hingga peningkatan pemahaman masyarakat tentang penggunaan tanaman obat.

Riset yang bertanggung jawab juga dituntut mampu merespons tantangan peradaban yang konkret, termasuk transisi menuju Ekonomi Sirkular (Circular Economy) dan Ekonomi Hijau (Green Economy) sebagai wujud kepedulian terhadap krisis iklim global.

Tanpa indikator dampak yang terukur dan bermakna, kegiatan riset dipandang berisiko menjadi pemborosan sumber daya negara, meski dibungkus jargon saintifik yang terkesan megah.