MAXY Academy meluncurkan ekosistem pembelajaran kecerdasan buatan (AI) yang ditujukan untuk mencetak generasi baru AI Content Creator di Indonesia. Inisiatif ini diwujudkan melalui rangkaian program, mulai dari webinar gratis hingga kelas intensif bertajuk “AI for Content Creator” yang dijadwalkan berlangsung pada 4–5 Juni 2026 di MAXY AI Hub, Jakarta Selatan.
Program tersebut dirancang untuk merespons tuntutan industri kreatif modern yang kian mengarah pada otomasi dan efisiensi kerja. Dalam skema pembelajarannya, peserta dibimbing oleh praktisi untuk mengintegrasikan sejumlah perangkat AI—seperti Claude, ChatGPT, hingga AI video generator—ke dalam sistem kerja yang lebih terstruktur.
MAXY Academy menilai urgensi peningkatan keterampilan digital bagi kreator tidak sekadar mengikuti tren. Mereka merujuk pada data global, salah satunya laporan Ramp AI Index yang menyebut lebih dari 50.000 perusahaan di dunia mulai beralih menggunakan platform AI Claude dari Anthropic dengan pangsa pasar 34,4%.
Dalam laporan yang sama, posisi ChatGPT disebut berada di angka 32,3%. Pergeseran ini dipandang sebagai sinyal bahwa industri membutuhkan talenta yang mampu beradaptasi di berbagai ekosistem AI, bukan hanya mengandalkan kemampuan membuat prompt.
Di sisi lain, lanskap bisnis global juga disebut tengah bergerak cepat seiring meningkatnya investasi terkait integrasi AI. MAXY Academy menyebut OpenAI menggelontorkan investasi senilai US$4 miliar untuk mendukung integrasi AI di berbagai sektor, disusul Anthropic yang meluncurkan proyek konsultansi AI senilai US$1,5 miliar untuk memodernisasi sistem kerja industri kreatif.
Namun, pemanfaatan teknologi ini dinilai belum maksimal di banyak organisasi. Dalam materi yang disampaikan, disebut sekitar 50% eksekutif dunia mengaku belum dapat mengoptimalkan AI karena kekurangan talenta lokal yang memahami cara mengoperasikannya. Contoh dampak adopsi AI juga disampaikan, salah satunya JD.com yang disebut mengalami kenaikan pendapatan 18,8% setelah mengadopsi teknologi Agentic AI dalam sistem mereka.
CEO MAXY Academy, Isaac Munandar, mengatakan perubahan besar di industri kreatif perlu diimbangi dengan akses edukasi yang lebih terbuka dan aplikatif. Menurutnya, kebutuhan industri saat ini bergeser dari produksi manual menuju pemanfaatan AI untuk mempercepat dan mempertajam relevansi karya.
“Dunia tidak lagi membutuhkan kreator yang hanya bisa membuat konten secara manual. Dunia membutuhkan kreator yang mampu memanfaatkan AI untuk menghasilkan karya yang cepat, relevan, dan berdampak,” ujar Isaac.
Untuk menjangkau berbagai tingkat kemampuan, MAXY Academy menyiapkan jalur belajar yang dapat disesuaikan. Bagi pemula, tersedia webinar gratis, termasuk “Produksi Konten 30 Hari dalam 1 Jam dengan AI”, serta kelas sinematik bermodal ponsel.
Sementara itu, untuk peserta tingkat lanjut, MAXY Academy menawarkan Intensive Class “AI for Content Creator” selama dua hari. Program ini menargetkan peserta agar mampu membangun sistem produksi konten otomatis, dengan pelaksanaan di MAXY AI Hub Jakarta dan pendampingan mentor berpengalaman yang membahas strategi membangun audiens di media sosial.
CTO MAXY Academy, Andy Febrico Bintoro, menekankan bahwa penguasaan satu platform AI saja dinilai tidak lagi memadai. Ia menilai fleksibilitas menggunakan berbagai perangkat AI telah berubah dari nilai tambah menjadi kebutuhan.
“Pergeseran dari ChatGPT ke Claude di pasar korporat menunjukkan bahwa kreator dan profesional masa depan harus mampu beradaptasi dengan berbagai ekosistem AI sekaligus. Pendekatan berbasis multi-tools bukan lagi nilai tambah, ini sudah menjadi keharusan,” kata Andy.
MAXY Academy juga menyatakan komitmen jangka panjang melalui pelatihan AI kreatif yang menyasar komunitas, sekolah, dan profesional muda. Melalui program berkelanjutan tersebut, mereka menargetkan lahirnya talenta lokal yang mampu memberi dampak bagi perekonomian dan masyarakat.