Ancaman keamanan siber kembali menyasar pengguna Android. Malware berbahaya bernama “NoVoice” dilaporkan telah menyusup ke lebih dari 50 aplikasi di Google Play Store, dengan total unduhan mencapai 2,3 juta kali.
Laporan yang dikutip dari Phone Arena pada Selasa (7/4/2026) menyebutkan temuan tersebut diungkap oleh Bleeping Computer, berdasarkan hasil penelitian tim keamanan McAfee. Malware “NoVoice” disebut disisipkan sebagai payload pada beragam jenis aplikasi, mulai dari pembersih sistem, game, hingga galeri foto—kategori aplikasi yang terlihat wajar dan kerap digunakan sehari-hari.
Modus ini dinilai berbahaya karena pelaku memanfaatkan aplikasi yang tampak tidak mencurigakan untuk menjebak pengguna. Setelah aplikasi terpasang, malware dapat berjalan di latar belakang dan mencoba mengeksploitasi celah keamanan Android guna memperoleh akses root.
Jika upaya tersebut berhasil, penyerang berpotensi mencuri data sensitif seperti username dan password, terutama dari aplikasi keuangan. Selain itu, malware juga dilaporkan mampu menginstal atau menghapus aplikasi di perangkat tanpa sepengetahuan pengguna. Dalam beberapa varian, “NoVoice” bahkan disebut sulit dihapus sepenuhnya, termasuk setelah perangkat dikembalikan ke pengaturan pabrik.
Di sisi lain, Google menyatakan perangkat Android yang telah menerima pembaruan keamanan sejak Mei 2021 relatif aman dari ancaman ini. Fitur Google Play Protect juga disebut dapat menghapus aplikasi berbahaya secara otomatis serta mencegah pemasangan aplikasi berisiko.
Peneliti juga menemukan indikasi bahwa malware ini tidak aktif di wilayah tertentu seperti Beijing dan Shenzhen, China. Temuan tersebut dinilai mengarah pada kemungkinan asal pengembangnya sekaligus menjadi taktik untuk menghindari penegakan hukum di negara asal.
Meski demikian, Bleeping Computer tidak membeberkan daftar lebih dari 50 aplikasi yang diduga terinfeksi. Namun, mereka sempat menampilkan tangkapan layar daftar aplikasi di Play Store, termasuk salah satu aplikasi bernama SwiftClean yang disebut membawa muatan berbahaya “NoVoice”. Aplikasi itu diketahui dikembangkan oleh Biodun Popoola.
Nama “NoVoice” disebut berasal dari teknik yang digunakan malware tersebut, yakni memanfaatkan file audio tanpa suara yang disisipkan dalam kode. File ini diputar diam-diam agar aktivitas berbahaya dapat berjalan di latar belakang tanpa disadari pengguna.
Google mengimbau pengguna untuk selalu memperbarui sistem keamanan perangkat dan hanya mengunduh aplikasi dari sumber tepercaya. Sejumlah langkah pencegahan yang disarankan antara lain memperbarui sistem operasi ke versi terbaru, memeriksa ulasan dan rating sebelum memasang aplikasi, menghindari aplikasi dengan permintaan izin akses yang tidak wajar, serta memastikan Google Play Protect aktif.
Kasus ini kembali menegaskan bahwa ancaman siber dapat muncul dari aplikasi yang tampak aman sekalipun, sehingga kewaspadaan pengguna tetap diperlukan.