Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui PISCES Programme mengembangkan Living Lab ITB-PISCES sebagai ruang uji solusi sampah plastik dalam kondisi nyata. Fasilitas ini menjadi living lab kedua yang secara khusus berfokus pada isu sampah plastik, setelah sebelumnya dikembangkan di Banyuwangi. Melalui pendekatan tersebut, berbagai ide dan inovasi dapat diuji, dievaluasi, lalu dikembangkan agar lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Koordinator Living Lab ITB PISCES Programme sekaligus Guru Besar Kelompok Keahlian Pengelolaan Udara dan Limbah, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL) ITB, Prof. Emenda Sembiring, menjelaskan konsep living lab dalam PISCES berawal dari riset multidisiplin terkait pengelolaan sampah plastik di Indonesia (Plastics in Indonesia Society/PISCES) yang didukung pendanaan UK Research and Innovation (UKRI).
Menurut Emenda, riset tersebut melibatkan peneliti, pemerintah daerah, akademisi, masyarakat, dan berbagai pihak terkait untuk memahami persoalan sampah plastik secara lebih menyeluruh. Dari proses itu, berkembang metodologi living lab sebagai ruang yang menghubungkan riset, inovasi, dan kebutuhan nyata di lapangan.
“Dari situ muncul berbagai ide sebagai solusi atas permasalahan sampah. Melalui living lab, kita dapat melihat apakah ide tersebut dapat dikembangkan dan diimplementasikan oleh masyarakat,” ujar Emenda. Ia berharap Living Lab ITB-PISCES dapat membantu mengurangi jumlah sampah yang terbuang ke lingkungan serta menjadi pendekatan yang dapat diadopsi pemerintah daerah dan masyarakat sesuai konteks masing-masing wilayah.
Direktur Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran ITB, Prof. Dr.-Ing. Zulfiadi, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang dibangun melalui PISCES Programme. Ia menilai peluncuran Living Lab ITB-PISCES merupakan langkah penting untuk memperkuat peran riset dan inovasi dalam menjawab persoalan lingkungan.
“Living Lab ITB-PICSES ini bukan hanya fasilitas penelitian, tetapi juga gerakan kolaboratif yang menghubungkan pembelajaran, riset, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat. Inisiatif ini tentunya dapat mendukung ekonomi hijau dan keberlanjutan,” kata Zulfiadi.
Dari sisi pemerintah, Asisten Deputi Ekonomi Sirkular dan Dampak Lingkungan Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Rofi Alhanif, menekankan bahwa isu persampahan merupakan persoalan mendesak yang perlu ditangani bersama. Ia menyebut pendekatan ekonomi sirkular penting untuk mengurangi timbunan sampah dan limbah, meningkatkan efisiensi sumber daya, serta mendukung upaya ramah iklim.
“Kehadiran living lab merupakan komitmen dalam penanganan sampah dan pengurangan sampah plastik,” ujarnya. Rofi menambahkan, pengelolaan sampah tidak hanya berkaitan dengan infrastruktur, tetapi juga perlu menghubungkan aspek sains, sosial, perilaku, dan kebijakan. Karena itu, living lab diharapkan menjadi pusat pembelajaran bagi pemerintah daerah, akademisi, dan masyarakat, sekaligus wadah inkubasi inovasi.
“Harapannya, living lab ini menjadi contoh nyata bagaimana riset dapat memberi dampak langsung dan berkontribusi bagi pembangunan nasional,” kata Rofi.
Sementara itu, peneliti utama PISCES Programme dari Brunel University London, Prof. Susan Jobling, menilai Indonesia menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan sampah plastik, mulai dari kesadaran publik hingga kompleksitas sosial, ekonomi, budaya, politik, dan infrastruktur di berbagai daerah.
Susan menjelaskan PISCES Research Programme 2021–2025 dirancang untuk mendukung strategi pemerintah Indonesia dalam mengurangi sampah dan polusi plastik. “Program ini menggabungkan dimensi lingkungan, teknis, sosial, dan ekonomi untuk membantu mencegah serta menilai dampak polusi plastik,” katanya.
Ia juga menyampaikan PISCES mengembangkan metode untuk mengidentifikasi titik pencemaran plastik, memahami karakteristik sampah, serta menentukan prioritas jenis sampah plastik yang perlu ditangani. Hasil riset tersebut digunakan sebagai dasar untuk merancang intervensi yang lebih tepat sasaran dan sesuai dengan konteks lokal.
Dalam kerangka itu, Susan menyebut living lab sebagai lingkungan inovasi nyata yang mempertemukan peneliti, komunitas, pelaku usaha, pemerintah, dan pengguna untuk bersama-sama merancang, menguji, mengevaluasi, memperbaiki, hingga memperluas solusi atas persoalan yang dihadapi.
Menurutnya, Living Lab ITB-PISCES berperan menghasilkan wawasan berbasis bukti mengenai perilaku masyarakat dan pengelolaan sampah melalui intervensi langsung. Prosesnya meliputi identifikasi tantangan, perancangan solusi bersama, uji coba inovasi, pemantauan, evaluasi, dan penyempurnaan berkelanjutan.
“Living Lab ITB-PISCES diharapkan terus berkembang sebagai ruang eksperimen, pembelajaran, dan pengembangan inovasi. Inisiatif ini juga membuka peluang replikasi di berbagai wilayah, integrasi temuan riset ke dalam kebijakan, layanan riset dan pengembangan bagi pelaku usaha, dukungan kewirausahaan, serta pelatihan dan edukasi bagi masyarakat,” ujar Susan.