Lintasarta memperkenalkan strategi Beyond AI Factory pada Juni 2026 sebagai langkah untuk menyediakan solusi infrastruktur kecerdasan artifisial (AI) yang terintegrasi bagi pelaku industri. Strategi ini dirancang untuk mendukung percepatan transformasi digital dan penguatan ekonomi nasional melalui pengembangan ekosistem AI di Indonesia.
Perusahaan menilai adopsi AI yang kian masif di berbagai sektor tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan komputasi. Implementasi AI juga membutuhkan kesiapan infrastruktur digital, keamanan siber, konektivitas, ketersediaan talenta, serta kolaborasi ekosistem yang kuat.
Director & Chief Financial Officer Lintasarta, Hariyadi Ramelan, menyatakan AI kini telah bergeser dari sekadar teknologi pendukung menjadi penggerak utama transformasi bisnis dan ekonomi digital. Pernyataan itu disampaikan dalam forum internasional TMT Finance APAC 2026, pada sesi diskusi bertajuk “What’s the Real Investment Case for AI Data Centre Models?”.
Dalam keterangannya pada Senin (1/6/2026), Hariyadi menekankan pengembangan AI perlu ditopang infrastruktur yang kuat, ekosistem yang kolaboratif, serta pendekatan berkelanjutan agar mampu menciptakan nilai jangka panjang.
Ia juga menyoroti kebutuhan pelanggan yang dinilai semakin kompleks. Menurutnya, perusahaan tidak hanya membutuhkan kapasitas komputasi AI, tetapi juga layanan cloud, konektivitas berkecepatan tinggi, keamanan siber, hingga dukungan ekosistem yang dapat mempercepat implementasi AI dalam operasional bisnis.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Lintasarta memperluas peran melalui strategi Beyond AI Factory dengan tujuan menghadirkan solusi AI yang lebih terintegrasi. Melalui pendekatan ini, pelanggan diharapkan dapat mengakses infrastruktur, platform, keamanan, dan kolaborasi yang dibutuhkan untuk mempercepat perjalanan transformasi AI.
Lintasarta, sebagai AI Factory milik Indosat Ooredoo Hutchison Group, mengembangkan pendekatan berbasis empat pilar utama atau 4C, yakni Connectivity, Cloud, Cybersecurity, dan Collaboration (AI Application Solution). Model ini ditujukan agar pelanggan memperoleh layanan AI yang mencakup konektivitas, komputasi, keamanan, hingga solusi aplikasi dalam satu ekosistem terintegrasi.
Selain penguatan infrastruktur dan ekosistem, Lintasarta juga menyebut keterlibatannya dalam pembangunan talenta digital melalui gerakan AI Merdeka. Inisiatif ini diarahkan untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pemain utama AI di tingkat regional.