Selama bertahun-tahun, industri teknologi China kerap dipandang sebelah mata oleh negara-negara Barat. China sering dicap sebagai pihak yang hanya meniru inovasi kecerdasan buatan (AI) dari Amerika Serikat, seperti ChatGPT buatan OpenAI atau Gemini dari Google.
Namun, laporan terbaru Foreign Affairs menyebutkan situasi yang dinilai berbeda. Berdasarkan laporan tersebut, China disebut telah membangun “gudang senjata AI” sendiri, dengan kemampuan yang tidak lagi sekadar meniru, melainkan mulai memengaruhi arah pengembangan peperangan masa depan.
Dalam laporan itu, AI digambarkan bukan sekadar alat bantu untuk kebutuhan sipil seperti penulisan atau pembuatan gambar, melainkan instrumen yang dipandang strategis bagi kepentingan geopolitik dan militer Beijing.
Laporan Foreign Affairs tersebut merujuk pada riset tim peneliti Georgetown University's Center for Security and Emerging Technology (CSET). Tim ini menelaah ribuan dokumen pengadaan militer China yang dipublikasikan secara terbuka selama tiga tahun terakhir.
Riset itu juga menyoroti perbedaan pendekatan China dibanding lanskap teknologi di Silicon Valley, yang kerap diwarnai ketegangan antara perusahaan teknologi besar dan Pentagon. Di China, di bawah kepemimpinan Xi Jinping, batas antara perusahaan teknologi sipil dan militer (People's Liberation Army/PLA) disebut sengaja dilebur melalui strategi “integrasi sipil-militer”.
Melalui strategi tersebut, perusahaan teknologi besar seperti Baidu, Tencent, dan Alibaba disebut diwajibkan membagikan inovasi AI terbaru mereka kepada militer China. Dampaknya, teknologi yang awalnya dikembangkan untuk pasar komersial—seperti pengenalan wajah, pemrosesan bahasa alami, dan algoritma computer vision—dapat dengan cepat diadaptasi menjadi sistem pelacakan target serta analisis intelijen militer.
Salah satu fokus utama yang disorot dalam “gudang senjata AI” itu adalah pengembangan sistem tak berawak dan teknologi swarm atau kawanan drone. PLA disebut tidak hanya bereksperimen dengan drone tunggal, tetapi juga mengembangkan kawanan ratusan hingga ribuan drone kecil bertenaga AI yang mampu berkomunikasi satu sama lain.
Menurut laporan tersebut, drone-drone itu dirancang agar bisa beradaptasi dengan perubahan kondisi medan perang secara real-time serta mengambil keputusan menyerang tanpa perlu kendali operator manusia.