BERITA TERKINI
Laba Batu Bara Menurun, DSSA Percepat Ekspansi ke Bisnis Internet dan Pusat Data

Laba Batu Bara Menurun, DSSA Percepat Ekspansi ke Bisnis Internet dan Pusat Data

PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) mencatat penurunan kinerja pada bisnis utamanya, batu bara, namun dalam waktu berdekatan justru mengalami lonjakan jumlah pemegang saham. Dalam kurun satu bulan hingga akhir Mei 2026, jumlah investor DSSA bertambah 15.397 orang.

Pergerakan tersebut muncul di tengah kondisi keuangan yang menunjukkan tekanan dari normalisasi harga batu bara global. Pada 2025, batu bara masih menjadi penopang utama pendapatan DSSA, menyumbang lebih dari 89% dari total pemasukan. Namun, ketika harga komoditas kembali ke level yang lebih normal setelah periode lonjakan pada tahun-tahun sebelumnya, dampaknya tercermin pada kinerja perusahaan.

Sepanjang 2025, DSSA membukukan pendapatan sebesar 2,79 miliar dolar AS, turun 7,5% dibanding periode sebelumnya. Laba bersih juga melemah 33,5% menjadi 361,2 juta dolar AS. Kondisi ini menggambarkan karakter bisnis komoditas yang sangat dipengaruhi perubahan siklus harga energi global, yang pada akhirnya turut memengaruhi arus kas dan profitabilitas.

Di tengah dinamika tersebut, DSSA mulai menggeser arah strategi bisnisnya. Manajemen menargetkan porsi pendapatan dari bisnis teknologi meningkat dari 7,6% menjadi 19,0% pada 2026. Langkah ini menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan pada batu bara dan memperbesar kontribusi dari lini usaha yang dinilai lebih stabil.

Salah satu langkah yang telah berjalan adalah penggabungan dua penyedia layanan internet rumah, MyRepublic dan MORA. Proses penggabungan resmi berlangsung pada April 2026, dan DSSA memegang 50,5% saham pengendali pada entitas baru hasil penggabungan tersebut.

Melalui entitas ini, DSSA memiliki jaringan kabel optik sepanjang 116 ribu kilometer dan basis lebih dari 2,2 juta pelanggan berbayar. Model bisnis layanan internet rumah berbasis Fiber to the Home (FTTH) dikenal mengandalkan pendapatan berulang dari pelanggan, sehingga dapat memberikan arus pendapatan bulanan yang lebih stabil.

Selain memperkuat segmen ritel internet rumah, DSSA juga membidik pasar korporasi melalui pembangunan pusat data di kawasan pusat bisnis Jakarta. Fasilitas ini dirancang untuk mendukung beban kerja kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) yang membutuhkan konsumsi listrik besar. Perusahaan menargetkan pusat data tersebut mulai beroperasi pada akhir 2026.

Dengan ekspansi ke layanan internet dan pusat data, DSSA menempatkan bisnis teknologi sebagai salah satu tumpuan pertumbuhan baru. Di saat yang sama, perusahaan masih menghadapi tantangan dari fluktuasi sektor batu bara yang selama ini menjadi sumber pendapatan dominan.