Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof Dr Arif Satria SP MSi menghadiri kuliah umum bertajuk “BRIN Goes to Campus” di Arsjad Rasjid Lecture Theatre, Universitas Hasanuddin (Unhas), Senin (8/7). Dalam kesempatan itu, Arif memaparkan arah transformasi riset dan inovasi nasional.
Arif menekankan penguatan riset sebagai kunci utama untuk menghadapi perubahan teknologi global yang dinilainya berlangsung semakin cepat. Ia juga menyoroti pentingnya konsistensi dan ketahanan jangka panjang dalam riset.
Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) periode 2017–2025 tersebut menyampaikan bahwa banyak terobosan besar lahir dari riset dasar. Menurutnya, hasil riset dasar memang bisa memerlukan waktu lama, namun berpotensi memberi dampak bagi perekonomian negara.
Selain itu, Arif menjelaskan alasan perlunya transformasi perguruan tinggi dari universitas pengajaran menjadi universitas riset dan inovasi. Ia menilai perubahan tersebut perlu didukung oleh laboratorium yang maju, arah riset yang jelas, serta ketersediaan sumber daya manusia peneliti.
Ia juga menyoroti sejumlah tantangan masa depan yang membutuhkan kesiapan riset lintas disiplin, antara lain kecerdasan buatan, bioinformatika, ketahanan pangan berbasis teknologi, energi hijau, dan material maju. Arif menilai perkembangan teknologi menuntut kolaborasi yang semakin erat antarbidang ilmu.
“Perkembangan keterampilan terjadi sangat cepat, sehingga keterampilan yang relevan hari ini belum tentu masih relevan lima tahun ke depan,” ujarnya.
Melalui program “BRIN Goes to Campus”, Arif berharap pemahaman bersama mengenai peran strategis riset dan inovasi dalam pembangunan nasional dapat semakin kuat. Ia juga mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk memandang riset sebagai investasi jangka panjang bagi kemajuan Indonesia.