Kompetisi Kreatif Pemuda dan Anak-Anak yang digelar rutin di wilayah Viet Tri kembali digelar pada 2026 dengan tujuan membangkitkan potensi serta mendorong pola pikir kreatif di kalangan pelajar. Wakil Ketua Komite Rakyat Kelurahan Viet Tri, Nguyen Van Biet, mengatakan ajang ini diharapkan membantu anak-anak dan remaja memperluas pengetahuan, mengasah keterampilan, serta memupuk mimpi menjadi ilmuwan dan penemu di masa depan.
Menurutnya, kompetisi juga dirancang sebagai ruang yang mendukung siswa mengembangkan kemampuan inovasi. Selain itu, kegiatan ini dinilai berkontribusi terhadap pembentukan sumber daya manusia muda berkualitas untuk menjawab kebutuhan pengembangan sains dan teknologi, inovasi, serta transformasi digital.
Pada penyelenggaraan 2026, kompetisi di distrik Viet Tri diikuti 20 peserta dari jenjang sekolah dasar dan menengah. Karya yang dilombakan mencakup beragam bidang, mulai dari perlengkapan sekolah, perangkat lunak komputer, produk ramah lingkungan, solusi teknis adaptasi perubahan iklim, hingga gagasan terkait perlindungan lingkungan dan pembangunan ekonomi. Sejumlah model disebut tidak hanya menonjol dari sisi kreativitas, tetapi juga memperlihatkan kemampuan siswa dalam mengakses sains dan teknologi, berpikir inovatif, serta menunjukkan tanggung jawab terhadap masyarakat.
Salah satu karya yang mencuri perhatian adalah model “Perpustakaan pintar dan ramah yang menggunakan energi surya” dari kelompok siswa kelas 8A3 Sekolah Menengah Gia Cam, yang meraih hadiah pertama pada kompetisi tingkat kelurahan tahun 2026. Ide tersebut berangkat dari kondisi sejumlah perpustakaan sekolah yang memiliki keterbatasan infrastruktur listrik, sehingga memunculkan risiko keselamatan dan biaya operasional yang tinggi. Para siswa kemudian mengusulkan pemanfaatan energi terbarukan yang dipadukan dengan sistem sensor pintar untuk membangun perpustakaan yang lebih modern, aman, dan hemat energi.
Nguyen Hoang Bao Han, siswa kelas 8A3, menjelaskan model itu dirancang ringkas, berbiaya rendah, mudah dibangun, serta menggunakan bahan yang aman dan ramah lingkungan. Ia menyebut salah satu keunggulan terletak pada sistem sensor cerdas, antara lain sensor gerak untuk mengatur pencahayaan otomatis; sensor api, kelembaban, getaran, dan jarak yang terhubung dengan relai, sirene, serta kipas untuk memberi peringatan kebakaran, banjir, dan getaran; serta panduan audio saat seseorang memasuki perpustakaan. Dengan sistem tersebut, operasional berjalan otomatis, menghemat energi, meningkatkan keamanan, dan memperbaiki pengalaman pengguna.
Model perpustakaan bertenaga surya itu dinilai memiliki nilai praktis dalam mendorong konsep “perpustakaan hijau dan cerdas”. Selain itu, karya tersebut juga disebut dapat meningkatkan kesadaran dan menginspirasi minat penelitian ilmiah serta kreativitas siswa, sejalan dengan arah transformasi digital dan pembangunan berkelanjutan di sektor pendidikan.
Hadiah pertama lainnya diraih proyek “Belajar Sastra Menyenangkan dengan AI” dari kelompok siswa Sekolah Dasar Minh Nong. Karya ini bertujuan menjawab tantangan yang dihadapi banyak siswa saat belajar pemahaman bacaan bahasa Vietnam secara mandiri, yang kerap berlangsung pasif dan kurang mendapat dukungan tepat waktu.
Proyek tersebut menitikberatkan pada penguatan pemahaman bacaan dengan menggabungkan elemen multimedia, seperti video visual, teknologi text-to-speech untuk latihan pengucapan, serta latihan interaktif yang disesuaikan dengan berbagai tingkatan. Di dalamnya terdapat chatbot “AI Tutor” yang dapat menjelaskan pelajaran, mengajukan pertanyaan yang mendorong nalar, serta mempersonalisasi materi sesuai kemampuan tiap siswa. Sistem ini juga dirancang agar mudah digunakan sehingga siswa dapat mengakses materi, berlatih membaca, dan mengerjakan latihan secara lebih mandiri.
Berdasarkan hasil uji coba yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, minat siswa terhadap pelajaran bahasa Vietnam meningkat dan pemahaman bacaan serta prestasi akademik disebut mengalami peningkatan signifikan. Proyek ini juga dipandang membantu mengurangi beban biaya les tambahan bagi orang tua, sekaligus menjadi alat pendukung bagi guru untuk mengembangkan metode pengajaran.
Selain dua karya unggulan itu, kompetisi juga menampilkan berbagai model lain, seperti sistem peringatan tanah longsor dan banjir bandang untuk wilayah pegunungan, aplikasi Excel untuk mencari informasi komune dan kelurahan di Provinsi Phu Tho, serta model siang-malam. Ragam karya tersebut menunjukkan ketelitian dan kemampuan siswa menerapkan sains dan teknologi untuk menjawab persoalan praktis.
Penyelenggara menilai wadah seperti Kompetisi Inovasi Pemuda dan Anak-Anak dapat membantu membangkitkan semangat penelitian ilmiah secara bertahap di kalangan generasi muda. Melalui proses tersebut, siswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga dilatih mengamati praktik, mengenali masalah, serta mencari solusi dengan pendekatan ilmiah, teknologi, dan inovasi.
Untuk menjaga keberlanjutan pengembangan penelitian ilmiah di kalangan anak-anak dan remaja, dukungan disebut perlu datang dari berbagai pihak, tidak hanya sektor pendidikan. Dalam catatan yang disampaikan, dukungan berkelanjutan dari pemerintah di berbagai tingkatan, sekolah, keluarga, dan masyarakat diperlukan, termasuk melalui perluasan ruang bermain intelektual, peningkatan fasilitas dan peralatan belajar, dorongan bagi guru untuk membimbing riset, serta penguatan pendidikan STEM dan pendidikan digital di sekolah.
Upaya membangkitkan minat riset sejak dini dinilai penting untuk menyiapkan tenaga kerja berkualitas tinggi pada masa depan. Gagasan yang lahir dari kegiatan semacam ini, meski sederhana, dipandang dapat menjadi fondasi bagi lahirnya warga yang inovatif dan memperkuat peran sains serta teknologi sebagai pendorong pembangunan nasional yang cepat dan berkelanjutan.