BERITA TERKINI
Komisi E DPRD DKI Kaji Penambahan Waktu Edukasi Kesehatan Reproduksi di Sekolah

Komisi E DPRD DKI Kaji Penambahan Waktu Edukasi Kesehatan Reproduksi di Sekolah

JAKARTA — Komisi E DPRD DKI Jakarta mengkaji usulan penambahan alokasi waktu khusus untuk edukasi kesehatan reproduksi di lingkungan sekolah. Upaya ini dinilai penting agar siswa memperoleh pemahaman yang memadai, berkelanjutan, dan terarah mengenai kesehatan reproduksi.

Ketua Komisi E DPRD DKI Jakarta, M. Subki, mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan DKI Jakarta terkait kemungkinan penerapan program tersebut di sekolah-sekolah. Menurutnya, sekolah perlu memiliki ruang dan waktu yang cukup untuk menyampaikan materi edukasi kesehatan reproduksi kepada peserta didik.

Subki menyebut penyampaian materi bisa dilakukan melalui kegiatan pembelajaran maupun aktivitas pendukung lainnya. “Baik melalui kegiatan intra maupun ekstra,” ujarnya di DPRD DKI Jakarta, beberapa waktu lalu.

Ia menilai edukasi kesehatan reproduksi perlu diberikan secara berkesinambungan agar informasi yang diterima siswa dapat dipahami dengan baik. Dengan pendekatan yang konsisten, siswa diharapkan mampu memahami berbagai risiko dan tantangan yang dihadapi pada masa remaja. “Kalau tidak bisa melalui intra, bisa melalui kegiatan ekstra,” kata Subki.

Selain mendorong penguatan edukkasi di sekolah, Komisi E DPRD DKI Jakarta juga menyoroti penggunaan gawai dan akses internet yang semakin luas di kalangan remaja. Subki menilai kondisi tersebut memerlukan perhatian serius dari orang tua maupun pihak sekolah.

Menurutnya, akses internet yang tidak terkontrol dapat membuka peluang bagi remaja untuk mengakses berbagai informasi yang belum tentu sesuai dengan usia dan tingkat kedewasaan mereka. “Anak-anak bisa mengakses internet 24 jam tanpa pengawasan dan ini sangat berbahaya,” tegas Subki.

Sementara itu, Konselor Kesehatan Jiwa dan HIV/AIDS, Dian Hariani Salamena, menilai metode penyampaian edukasi kepada remaja perlu disesuaikan dengan karakteristik generasi saat ini agar pesan lebih mudah diterima. Ia juga menekankan besarnya pengaruh teman sebaya dalam membentuk perilaku dan pola pikir remaja.

Karena itu, Dian menilai strategi edukasi perlu melibatkan pendekatan berbasis kelompok sebaya. “Anak-anak sekarang lebih banyak mendengar teman sebaya dibanding orangtua,” tutur Dian.

Komisi E DPRD DKI Jakarta berharap penguatan edukasi kesehatan reproduksi dapat menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman dan mendukung perkembangan remaja. Selain meningkatkan pemahaman siswa, program ini diharapkan membantu mencegah berbagai permasalahan sosial yang berpotensi muncul akibat minimnya literasi kesehatan reproduksi.