Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Nezar Patria menilai akses internet yang semakin terjangkau dapat menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi baru, sekaligus membuka lebih banyak peluang bagi masyarakat untuk mengakses pendidikan, pekerjaan, dan layanan digital.
Nezar menyebut biaya internet di Indonesia saat ini masih berada di atas ambang batas yang ditetapkan International Telecommunication Union (ITU). ITU mematok internet basket di bawah 2 persen dari total produk domestik bruto (PDB) per kapita.
"Biaya internet di Indonesia masih di atas apa yang dipatok ITU. Mereka mematok internet basket di bawah 2 persen dari total GDP per kapita," ujar Nezar dalam siaran pers yang diterima pada Senin, 8 Juni 2026.
Menurutnya, semakin rendah biaya yang harus dikeluarkan masyarakat, semakin besar peluang mereka memanfaatkan internet untuk belajar, bekerja, berusaha, dan mengakses berbagai layanan publik berbasis digital.
"Kalau internet bisa murah, penetrasinya bisa bagus ke semua sektor masyarakat, maka ekonomi digital akan lebih dahsyat hasilnya," tegasnya.
Selain menekan biaya akses, pemerintah juga terus mengatasi kesenjangan digital melalui pembangunan infrastruktur telekomunikasi. Upaya tersebut mencakup pembangunan jaringan serat optik, Base Transceiver Station (BTS), serta pemanfaatan satelit orbit rendah atau Low Earth Orbit (LEO) untuk menjangkau wilayah yang sulit dilayani jaringan terestrial.
Meski demikian, Nezar menegaskan keberhasilan pembangunan digital tidak hanya diukur dari tersedianya jaringan internet. Ia menilai hal yang lebih penting adalah memastikan konektivitas memberikan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat. Karena itu, Kementerian Komdigi juga berfokus pada pembangunan talenta digital.
"Konektivitas yang bermakna memberikan dampak kepada kegiatan sosial, ekonomi, dan budaya. Itu sebabnya saat ini Kementerian Komdigi mencoba berfokus pada pembangunan talenta," katanya.
Kombinasi internet yang semakin terjangkau, konektivitas yang merata, dan talenta digital yang kompeten dinilai dapat menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia di era digital menuju Indonesia Emas 2045.