Google Cloud resmi memperluas kemitraan strategis dengan Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (Komdigi) serta mitra regional di Asia Tenggara untuk membangun koridor inovasi bagi startup berbasis kecerdasan buatan (AI). Inisiatif ini ditujukan untuk menghubungkan ekosistem startup lokal dengan pusat teknologi global di Silicon Valley, Amerika Serikat, sekaligus membuka jalur bagi inovator dalam negeri untuk masuk ke pasar internasional.
Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui program Google for Startups Accelerator: Southeast Asia. Program ini dirancang untuk membantu para pendiri startup mengembangkan dan mengomersialkan produk-produk AI agentik, dengan dukungan teknis terintegrasi serta kemitraan strategi masuk pasar (go-to-market) agar peluang ekspansi startup, termasuk dari Indonesia, semakin luas.
Country Director Google Indonesia, Veronica Utami, menyampaikan bahwa inisiatif ini dinilai telah memberi dampak nyata bagi perkembangan inovasi di Indonesia. Ia mencontohkan sejumlah startup lokal yang memanfaatkan AI untuk menjawab kebutuhan masyarakat, seperti Analitica yang membantu ratusan ribu pelajar, DayaTani yang menggunakan agen AI untuk mengoptimalkan hasil panen, serta Nexmedis yang disebut berkontribusi mempercepat layanan medis di wilayah terpencil.
“Kolaborasi kami dengan Komdigi dalam koridor inovasi ini akan menghubungkan lebih banyak founder lokal dengan sumber daya kelas dunia. Mereka dapat membangun solusi yang mendukung prioritas nasional sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat Indonesia yang beragam,” ujar Veronica.
Dari pihak pemerintah, Direktur Jenderal Ekosistem Digital Komdigi, Edwin Hidayat Abdullah, menekankan pentingnya penguatan ekosistem AI sebagai bagian dari transformasi digital Indonesia yang inklusif. Ia berharap program tersebut dapat mendorong lahirnya lebih banyak pendiri startup yang menghasilkan inovasi digital bermanfaat, sehingga dampak perkembangan teknologi dapat dirasakan oleh berbagai lapisan masyarakat.
Google menyebut program akselerator ini telah berjalan sejak 2018 dan mencatat capaian di kawasan Asia Tenggara. Dalam periode tersebut, program diklaim telah membantu lebih dari 200 startup tahap awal, dengan total pendanaan yang diperoleh peserta mencapai US$ 6,6 miliar serta menciptakan lebih dari 11.300 lapangan kerja. Negara yang tercatat aktif dalam program meliputi Indonesia, Singapura, Vietnam, Malaysia, Filipina, dan Thailand.
Untuk batch terbaru, program menargetkan 25 startup dengan jadwal pelaksanaan mulai Agustus 2026. Pendaftaran untuk 25 startup pertama disebut telah dibuka. Program intensif ini berlangsung selama tiga bulan dan dinyatakan tidak mengambil ekuitas perusahaan peserta (equity-free).
Sejumlah fasilitas disiapkan bagi startup terpilih, antara lain kredit Google Cloud hingga US$ 350.000 untuk pelatihan dan pengembangan model AI, akses untuk mencoba model AI seperti Gemini 3.5 sebelum rilis publik, serta kesempatan mengikuti residensi di Silicon Valley melalui rangkaian kegiatan di kampus Google (Mountain View dan San Francisco) dan pertemuan dengan investor di Sand Hill Road. Peserta juga dijanjikan pendampingan teknis dari tim engineering Google DeepMind serta para ahli dari Android, Google Ads, dan Google Play.
Melalui koridor inovasi ini, Google Cloud dan Komdigi menargetkan penguatan ekosistem AI di Asia Tenggara, dengan harapan Indonesia kian diperhitungkan sebagai salah satu pusat pengembangan AI. Inisiatif tersebut juga diposisikan sebagai bagian dari upaya jangka panjang agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar teknologi, tetapi turut membangun kapasitas dan daya saing dalam industri kecerdasan buatan.