Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., mendorong perguruan tinggi memperkuat budaya riset, inovasi, dan pengembangan sumber daya manusia sebagai fondasi pembangunan nasional dan daerah yang berkelanjutan.
Pesan tersebut disampaikan Arif saat menjadi pembicara utama dalam kuliah tamu dan silaturahmi akademik di Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Senin, 8 Juni 2026. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Rapat Senat Lantai 17 Gedung Iqra Unismuh Makassar itu mengangkat tema “Arah Kebijakan Riset Nasional dalam Mendukung Pembangunan Daerah yang Berdampak.”
Arif hadir didampingi Deputi Bidang Fasilitasi Riset dan Inovasi BRIN Prof. Dr. Eng. Agus Haryono. Acara dimoderatori Wakil Rektor I Unismuh Makassar Prof. Dr. H. Andi Syukri Syamsuri, M.Hum., serta dihadiri Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan Prof. Dr. H. Ambo Asse, M.Ag., Rektor Unismuh Dr. Ir. Abd Rakhim Nanda, ST, MT, Wakil Rektor II Dr. Hj. Ihyani Malik, S.Sos., M.Si., Wakil Rektor III Dr. Mawardi Pewangi, M.Pd.I., Wakil Rektor IV Dr. Burhanuddin, M.Si., para dekan, pimpinan lembaga, dan dosen penerima hibah penelitian.
Dalam paparannya, Arif menegaskan masa depan Indonesia sangat bergantung pada kekuatan riset dan inovasi. Ia menilai negara yang ingin maju tidak bisa hanya mengandalkan sumber daya alam, melainkan harus memperkuat riset yang berdampak bagi industri, masyarakat, lingkungan, dan kebijakan publik.
“Indonesia ke depan sangat bergantung pada kekuatan riset dan inovasi. Jika ingin menjadi negara maju, maka tidak ada pilihan selain memperkuat riset yang berdampak bagi industri, masyarakat, lingkungan, dan kebijakan publik,” ujarnya.
Arif menjelaskan BRIN membuka ruang kolaborasi dengan perguruan tinggi melalui sejumlah program strategis, mulai dari penguatan kelompok riset, kolaborasi riset strategis, hingga program penguatan talenta riset yang dapat diikuti dosen maupun mahasiswa jenjang S1, S2, dan S3.
Ia juga memperkenalkan konsep Rumah Inovasi Daerah sebagai ekosistem kolaborasi yang mempertemukan akademisi, inovator, inventor, industri, pemerintah, dan masyarakat. Menurutnya, kampus memiliki peran besar karena kekuatan inovasi daerah sangat ditentukan oleh kualitas riset perguruan tinggi.
“Di daerah akan bisa tumbuh inovasi, dan orkestrasi itu dilakukan oleh pemerintah provinsi. Kampus punya peran besar karena kekuatan daerah sangat tergantung pada kekuatan riset di kampus,” katanya.
Selain menyoroti agenda riset, Arif mengulas sejumlah tantangan global, mulai dari perubahan iklim, perubahan geopolitik, krisis energi, persoalan kemiskinan, hingga percepatan teknologi digital dan kecerdasan buatan. Ia menekankan perguruan tinggi perlu beradaptasi cepat, termasuk dengan kemampuan membaca tren masa depan agar institusi tidak tertinggal.
Arif kemudian mengaitkan urgensi riset dan inovasi dengan Teori Pertumbuhan Endogen yang dikembangkan ekonom Paul Romer pada akhir 1980-an. Ia menyebut teori tersebut menempatkan pengetahuan, inovasi, teknologi, pendidikan, dan investasi sumber daya manusia sebagai faktor utama pertumbuhan ekonomi jangka panjang, berbeda dengan teori pertumbuhan neoklasik Robert Solow yang memandang kemajuan teknologi sebagai faktor eksternal.
“Pengetahuan merupakan faktor produksi yang sangat penting karena mampu meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan,” kata Arif.
Ia menambahkan, terdapat empat asumsi utama dalam teori pertumbuhan endogen, yakni pengetahuan dan teknologi sebagai sumber pertumbuhan ekonomi, investasi pendidikan yang meningkatkan produktivitas tenaga kerja, inovasi sebagai penggerak pertumbuhan jangka panjang, serta kebijakan pemerintah yang mendukung pendidikan, riset, dan pengembangan teknologi.
Arif juga menyinggung tantangan bonus demografi Indonesia. Menurutnya, bonus demografi hanya akan menjadi keuntungan jika didukung kualitas sumber daya manusia, kemampuan inovasi, serta kesiapan teknologi. Ia mengingatkan Indonesia tidak boleh sekadar menjadi konsumen teknologi, melainkan perlu mempelajari, mengembangkan, dan melahirkan inovasi baru dari teknologi yang masuk.
“Kalau hanya menjadi konsumen teknologi, kita akan tertinggal. Teknologi yang masuk harus dipelajari, dikembangkan, lalu melahirkan inovasi baru,” tegasnya.
Dalam konteks adaptasi perubahan teknologi, Arif mencontohkan perusahaan besar seperti Nokia dan Kodak yang dinilai gagal mempertahankan posisinya karena tidak cukup cepat mengikuti perubahan inovasi. “Jangan sampai demi mempertahankan masa lalu, kita mengorbankan masa depan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Arif menegaskan perguruan tinggi saat ini dinilai tidak cukup hanya bergerak dari teaching university menuju research university. Menurutnya, kampus perlu melangkah lebih jauh menjadi innovation university, yakni perguruan tinggi yang tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga riset berdampak dan terhubung dengan kebutuhan industri, masyarakat, serta pembangunan daerah.
“BRIN diharapkan bisa menjadi partner dalam membangun innovation university. Dari innovation university akan lahir banyak inovasi yang bisa dihasilkan,” katanya.
Arif juga menyebut sejumlah bidang riset strategis masa depan, di antaranya kecerdasan artifisial, genomik pangan, keamanan digital, dekarbonisasi energi, teknologi baterai, carbon capture, serta hilirisasi sumber daya alam. Bidang-bidang tersebut dinilai perlu menjadi perhatian perguruan tinggi dalam menyusun arah riset yang relevan dengan kebutuhan masa depan.
Rektor Unismuh Makassar Dr. Ir. H. Abd. Rakhim Nanda, S.T., M.T., IPU., menyampaikan apresiasi atas kehadiran Kepala BRIN dan jajaran. Ia menilai paparan Arif membuka peluang bagi Unismuh untuk mempercepat transformasi menuju research university.
“Kami berharap seluruh sumber daya manusia, khususnya para peneliti dan dosen, mampu menangkap peluang yang telah disampaikan langsung oleh Kepala BRIN dan jajaran. Ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan kapasitas riset dan kolaborasi,” kata Rakhim.
Menurut Rakhim, penguatan sumber daya manusia menjadi salah satu kunci utama dalam mewujudkan visi pengembangan Unismuh. Karena itu, dukungan program BRIN dinilai relevan untuk memperkuat riset, inovasi, dan kolaborasi akademik.
Menutup paparannya, Arif menegaskan komitmen BRIN untuk menjadi mitra strategis perguruan tinggi dalam membangun ekosistem riset dan inovasi nasional. Ia menilai percepatan pembangunan daerah membutuhkan kolaborasi erat antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, lembaga riset, dan masyarakat.
“Perguruan tinggi harus menjadi pusat lahirnya solusi dan teknologi yang berdampak bagi pembangunan daerah,” tandasnya.