BERITA TERKINI
Kementan dan BRIN Perkuat Kolaborasi Riset dan Hilirisasi untuk Dukung Swasembada Pangan Berkelanjutan

Kementan dan BRIN Perkuat Kolaborasi Riset dan Hilirisasi untuk Dukung Swasembada Pangan Berkelanjutan

Kementerian Pertanian (Kementan) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat kolaborasi strategis dalam riset, inovasi, dan hilirisasi hasil penelitian pertanian. Kerja sama ini ditujukan untuk mendukung percepatan swasembada pangan serta pengembangan hilirisasi pertanian yang berkelanjutan.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan kesepakatan tersebut menjadi langkah penting untuk memperkuat fondasi pembangunan pertanian nasional berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. Ia menyebut kolaborasi Kementan dan BRIN sebagai momentum untuk mendorong kontribusi riset agar lebih nyata dalam mendukung pembangunan pertanian dan pencapaian swasembada pangan.

Menurut Amran, kerja sama ini juga menjadi payung untuk mempercepat lahirnya inovasi dan teknologi yang mampu menjawab tantangan sektor pangan, mulai dari peningkatan produksi hingga adaptasi terhadap perubahan iklim. Ia menambahkan, para periset dapat memanfaatkan fasilitas yang dimiliki Kementan agar komunikasi dan sinergi antar-lembaga semakin kuat, dengan tujuan mendukung ketahanan pangan.

Amran menegaskan ketahanan pangan tidak hanya mencakup komoditas padi, tetapi juga hortikultura, perkebunan, peternakan, dan subsektor lain yang menopang ketersediaan pangan nasional. Sebagai bentuk dukungan konkret, Kementan membuka akses bagi peneliti BRIN untuk menggunakan laboratorium, balai penelitian, dan fasilitas Kementan di berbagai daerah.

Ia menyatakan seluruh laboratorium dan kantor Kementan di 38 provinsi dapat dimanfaatkan peneliti BRIN. Amran menilai peningkatan produktivitas dapat terjadi secara signifikan apabila riset menghasilkan varietas baru, metode budidaya baru, maupun inovasi lain yang siap diterapkan.

Dalam implementasinya, Kementan berencana membangun klaster komoditas unggulan yang memiliki permintaan tinggi di pasar global, seperti kakao, kopi, jambu mete, tebu, kedelai, dan bawang putih. Para peneliti akan ditempatkan langsung di lokasi pengembangan komoditas agar hasil riset dapat segera diimplementasikan di lapangan.

Amran menyebut kedelai dan bawang putih menjadi prioritas karena dinilai masih memiliki ruang besar untuk meningkatkan produktivitas dan mengurangi ketergantungan impor. Untuk bawang putih, ia menyampaikan adanya target produktivitas 35 ton per hektare, yang menurutnya membutuhkan penguatan riset secara serius.

Pengembangan komoditas, lanjut Amran, akan dilakukan berdasarkan keunggulan komparatif tiap wilayah. Untuk bawang putih, pengembangan akan difokuskan pada daerah dengan agroklimat dan budaya budidaya yang sesuai, seperti Sembalun di Nusa Tenggara Barat, Sumatera Utara, serta Temanggung di Jawa Tengah. Ia menekankan pendekatan ini dimaksudkan agar riset dan implementasi lapangan menjadi satu kesatuan.

Amran juga menyatakan optimistis kemampuan peneliti Indonesia dapat menghasilkan inovasi yang tidak kalah dengan negara maju. Ia mencontohkan varietas padi IPB 3S yang disebut mampu menghasilkan produktivitas hingga 9 ton per hektare dan dapat mencapai 13 ton per hektare pada kondisi tertentu.

Sementara itu, Kepala BRIN menyampaikan lembaganya telah menghasilkan berbagai inovasi yang siap mendukung transformasi pertanian Indonesia. Inovasi tersebut antara lain varietas unggul yang tahan terhadap perubahan iklim, teknologi mesin pertanian, kecerdasan artifisial (AI), genomik, robotik, hingga sistem pertanian cerdas atau smart farming.

Kepala BRIN menekankan pembangunan pertanian modern memerlukan dukungan keilmuan lintas disiplin. Karena itu, BRIN akan mengerahkan kapasitas riset dan para periset lintas bidang untuk mendukung agenda besar pembangunan pertanian nasional melalui kolaborasi dengan Kementan.