BERITA TERKINI
Kekhawatiran "AI Bubble" Mencuat Usai Investor Besar Lepas Saham Nvidia, Analis Berbeda Pandangan

Kekhawatiran "AI Bubble" Mencuat Usai Investor Besar Lepas Saham Nvidia, Analis Berbeda Pandangan

Industri kecerdasan buatan (AI) yang tengah berada di puncak popularitas kembali dibayangi kekhawatiran soal potensi gelembung ekonomi atau AI bubble. Isu ini menguat setelah dua investor besar, Peter Thiel dan SoftBank, dilaporkan melepas seluruh saham Nvidia yang mereka pegang.

Langkah tersebut memicu kegelisahan pasar karena Nvidia selama dua tahun terakhir kerap dipandang sebagai barometer utama ledakan bisnis AI global. Pertanyaannya, apakah aksi jual ini menjadi sinyal bahwa pasar sedang bergerak menuju AI bubble?

Dalam konteks ini, AI bubble dapat dipahami sebagai situasi ketika tren AI sedang sangat populer—perusahaan berlomba mengadopsi AI dan investor mengucurkan dana besar—namun perkembangan maupun profit yang dihasilkan belum tentu secepat atau sebesar ekspektasi. Kondisi ini sering dianalogikan seperti gelembung sabun yang membesar dan dapat pecah jika tidak ditopang fondasi yang stabil.

Sejumlah analis menilai pasar AI saat ini menunjukkan ciri-ciri yang mirip dengan gelembung klasik, seperti era dot-com pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an. Namun, ada pula yang berpendapat ledakan AI berbeda karena didukung kinerja keuangan perusahaan besar yang relatif kuat.

Aksi jual investor besar dan kekhawatiran valuasi

Menurut laporan terbaru, hedge fund milik Peter Thiel, Thiel Macro, menjual seluruh 537.742 saham Nvidia yang dimilikinya pada kuartal III-2025. Nilainya diperkirakan mencapai 100 juta dollar AS pada harga penutupan 30 September. Penjualan ini terjadi hanya beberapa hari setelah SoftBank dilaporkan menjual seluruh saham Nvidia yang mereka pegang, senilai sekitar 5,8 miliar dollar AS.

Kedua aksi jual tersebut terjadi tepat sebelum Nvidia merilis laporan keuangan terbarunya. Di pasar saham, aksi profit-taking oleh investor institusi besar kerap dipandang sebagai sinyal bahwa ekspektasi pertumbuhan suatu perusahaan mulai dinilai terlalu tinggi.

Perkembangan itu kembali memicu kekhawatiran bahwa valuasi sektor AI “sudah kepenuhan”. Valuasi merujuk pada nilai total perusahaan berdasarkan perkiraan harga perusahaan jika dijual pada saat ini.

Hype AI dan lonjakan valuasi

Sejak kemunculan ChatGPT pada 2022, saham-saham yang terkait AI menjadi pendorong kuat pasar global. Menurut laporan Euro News, kontribusi sektor terkait AI disebut mencapai sekitar 75 persen dari return S&P 500, 80 persen pertumbuhan laba, dan 90 persen belanja modal.

Valuasi gabungan raksasa teknologi yang terdiri dari Nvidia, Microsoft, Apple, Alphabet, Amazon, Meta Platforms, dan Tesla—sering disebut “Magnificent Seven”—juga disebut setara atau lebih besar dari perekonomian negara besar dunia, seperti China.

Secara spesifik, valuasi Nvidia dilaporkan melonjak sekitar 300 persen dalam dua tahun terakhir dan menjadikannya satu-satunya perusahaan dengan valuasi lebih dari 4 triliun dollar AS. Padahal, pada Juli 2023, valuasi produsen chip AI tersebut masih berada di level 1 triliun dollar AS.

Contoh lain adalah OpenAI, pengembang ChatGPT. Berdasarkan data Crunchbase Unicorn Board per 6 Oktober 2025, valuasi OpenAI disebut mencapai 500 miliar dollar AS, menempatkannya di posisi teratas dan melampaui SpaceX serta ByteDance.

UBS: pola mirip gelembung dot-com

Andrew Garthwaite, Chief Global Equity Strategist UBS, menilai euforia AI saat ini menunjukkan pola yang mirip dengan gelembung klasik seperti dot-com. Ia menyebut salah satu tanda adalah maraknya perilaku “buy the dip”, ketika investor berbondong-bondong membeli saham perusahaan AI saat harga turun karena percaya nilainya akan naik kembali.

Tanda kedua, menurut Garthwaite, adalah keyakinan bahwa AI merupakan revolusi besar sehingga “kali ini pasti berbeda”—narasi yang menurutnya kerap muncul pada fase euforia pasar, serupa dengan keyakinan investor bahwa internet akan mengubah dunia pada era dot-com.

Ciri ketiga yang ia soroti adalah meningkatnya jumlah investor ritel yang masuk ke saham teknologi, didukung kondisi moneter yang masih longgar serta situasi ketika pertumbuhan laba perusahaan di luar 10 raksasa teknologi AS hampir stagnan. Garthwaite menyebut sekitar 21 persen rumah tangga di Amerika memiliki saham individu, dan angkanya naik menjadi 33 persen jika termasuk investasi lewat reksa dana atau instrumen lain.

Ia juga mengingatkan bahwa pertumbuhan laba dinilai terkonsentrasi pada segelintir perusahaan besar. “Di luar sepuluh perusahaan teratas di AS, proyeksi pertumbuhan laba per saham dalam 12 bulan ke depan hampir nol,” kata Garthwaite.

Goldman Sachs: lonjakan didukung fundamental

Namun, tidak semua analis setuju bahwa lonjakan sektor AI saat ini layak disamakan dengan gelembung dot-com. Peter Oppenheimer, analis ekuitas dari Goldman Sachs, menilai kondisi saat ini berbeda karena raksasa AI masa kini seperti Nvidia, Microsoft, dan Alphabet/Google bukan sekadar menjual harapan tanpa dukungan kinerja.

Menurut Oppenheimer, kenaikan harga saham perusahaan-perusahaan tersebut dalam dua tahun terakhir diiringi pertumbuhan laba yang konsisten. “Harga saham AI memang melonjak, tetapi itu sejalan dengan pertumbuhan pendapatan yang berkelanjutan, bukan sekadar spekulasi,” ujarnya.

Ia juga menilai valuasi tinggi perusahaan AI saat ini dipengaruhi faktor makroekonomi, seperti suku bunga rendah, tingginya tingkat tabungan global, dan siklus ekonomi panjang yang mendorong investor masuk ke aset berisiko, termasuk saham teknologi.

Oppenheimer turut membandingkan rasio valuasi. Berdasarkan data Goldman Sachs, median rasio price-to-earnings (P/E) forward 24 bulan untuk “Magnificent Seven” berada di sekitar 26,8 kali laba. Angka ini disebut hampir setengah dari median P/E tujuh perusahaan top dot-com yang berada di sekitar 52 kali laba.

22V Research: tantangan utama ada pada infrastruktur

Pandangan lain disampaikan Jordi Visser, Head of AI Macro Nexus Research di 22V Research. Ia menilai isu utama industri AI bukan terletak pada spekulasi atau valuasi semata, melainkan ketidakseimbangan antara permintaan dan kapasitas infrastruktur.

Menurut Visser, permintaan terhadap GPU, daya listrik, server, hingga pusat data tumbuh lebih cepat dibanding kemampuan industri untuk menyediakannya. Karena itu, ia menilai tantangan AI ke depan lebih terkait eksekusi, terutama bagi perusahaan yang mampu mengelola keterbatasan fisik seperti suplai listrik, kapasitas pusat data, dan ketersediaan chip.

Dengan perbedaan pandangan tersebut, arah masa depan “AI bubble” masih menjadi perdebatan. Sebagian analis melihat tanda-tanda euforia yang berisiko, sementara yang lain menilai lonjakan AI saat ini masih memiliki penopang fundamental dan tantangan utamanya justru ada pada kapasitas infrastruktur.