BERITA TERKINI
Kebutuhan Energi Jaringan Seluler Meningkat Seiring Lonjakan Trafik Digital, BRIN Soroti Peran BTS

Kebutuhan Energi Jaringan Seluler Meningkat Seiring Lonjakan Trafik Digital, BRIN Soroti Peran BTS

Jakarta — Peningkatan layanan digital dan kebiasaan menonton video streaming mendorong naiknya trafik broadband di Indonesia. Kondisi ini membuat operator telekomunikasi perlu memperluas dan meningkatkan infrastruktur Base Transceiver Station (BTS), yang pada akhirnya ikut menaikkan kebutuhan energi jaringan seluler.

Peneliti Ahli Muda dari Kelompok Riset Communication and Signal Processing, Pusat Riset Telekomunikasi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Mochamad Mardi Marta Dinata, memaparkan kajian terkait kebutuhan energi jaringan telekomunikasi seluler di Indonesia serta tantangan efisiensi energi di tengah meningkatnya penggunaan layanan digital.

Menurut Mardi, hingga kini belum tersedia pemodelan energi jaringan seluler yang berbasis representasi stok BTS dan variasi komposisi yang bisa digunakan pada level makro. Karena itu, penelitian dilakukan untuk membantu memahami kebutuhan energi jaringan secara lebih menyeluruh.

Ia menjelaskan industri telekomunikasi menghadapi tantangan besar karena kebutuhan energi terus meningkat seiring pertumbuhan trafik data dan penggunaan internet masyarakat. “Sekitar 20 persen biaya operasional operator digunakan untuk energi, bahkan, berdasarkan laporan tahunan salah satu operator telekomunikasi di Indonesia, hampir 90 persen konsumsi energi berasal dari operasional BTS,” kata Mardi, dikutip dari situs BRIN, Jumat, 29 Mei 2026.

Mardi menambahkan, peningkatan penggunaan internet, layanan digital, dan komunikasi bergerak membuat kebutuhan energi jaringan seluler terus bertambah setiap tahun. Situasi ini mendorong operator mencari solusi agar operasional tetap efisien sekaligus ramah lingkungan.

Salah satu opsi yang disebutkan adalah pemanfaatan energi terbarukan melalui sistem hibrida, misalnya kombinasi panel surya, baterai, dan generator. Menurutnya, efisiensi energi tertinggi dapat dicapai apabila operator mampu menghasilkan energi sendiri dari sumber energi terbarukan.

Dalam kajian tersebut, tim peneliti menggunakan data sekitar 8.500 BTS yang tersebar di wilayah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Dari total itu, dipilih 40 sampel site yang mewakili pola konsumsi energi per jam untuk beberapa tipe BTS, seperti Macro, Micro, Pico, dan In-Building System (IBS).

Data tersebut kemudian dimanfaatkan untuk menyusun pemodelan kebutuhan energi jaringan seluler secara nasional. Melalui pendekatan ini, penelitian diharapkan dapat membantu operator telekomunikasi menyusun perencanaan jangka panjang dalam meningkatkan efisiensi energi sekaligus mendukung upaya dekarbonisasi jaringan BTS.