BERITA TERKINI
Israel Disebut Retas Aplikasi Waktu Salat Iran untuk Sebarkan Seruan Pembelotan

Israel Disebut Retas Aplikasi Waktu Salat Iran untuk Sebarkan Seruan Pembelotan

Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran disebut memasuki fase baru yang tidak lagi terbatas pada serangan di wilayah darat atau udara, melainkan merambah ruang digital yang dapat menjangkau pengguna secara langsung. Perkembangan ini menyoroti bagaimana ruang siber kian menjadi bagian dari medan pertarungan modern.

Menurut laporan India Today, Israel disebut meretas aplikasi waktu salat populer di Iran, BadeSaba Calendar, untuk menyebarkan notifikasi berisi seruan kepada personel militer Iran agar membelot dari rezim. Aksi ini disebut terjadi seiring dengan operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menargetkan pusat komando di Teheran.

Dalam laporan tersebut juga disebutkan bahwa operasi militer yang dimaksud menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Informasi ini disampaikan sebagai bagian dari rangkaian peristiwa yang dikaitkan dengan serangan siber terhadap aplikasi tersebut.

BadeSaba Calendar dikenal sebagai kalender Hijriah digital yang menyediakan pengingat lima waktu salat—subuh, zuhur, asar, magrib, dan isya—disertai suara azan yang muncul di layar pengguna. Aplikasi ini juga memuat penanda hari besar Islam, termasuk peringatan kelahiran nabi serta hari raya lainnya.

Namun pada Sabtu pagi, notifikasi yang biasanya berisi pengingat ibadah dilaporkan berubah menjadi pesan bernuansa politik. Serangan itu disebut memanfaatkan kedekatan aplikasi dengan rutinitas spiritual pengguna, sehingga platform yang semula berfungsi sebagai pengingat ibadah berubah menjadi saluran penyebaran pesan psikologis.

Laporan yang sama menyebut serangan siber tersebut berlangsung bersamaan dengan gelombang serangan udara yang diarahkan ke pusat komando Iran. Pola ini digambarkan sebagai operasi multidomain, dengan serangan fisik ditujukan pada infrastruktur, sementara ruang digital digunakan untuk menyebarkan propaganda dan memengaruhi psikologi target.

Dengan kemampuan menjangkau banyak perangkat sekaligus, notifikasi yang disisipkan ke dalam aplikasi itu disebut ditujukan untuk menciptakan efek perlawanan tanpa mobilisasi pasukan secara langsung di lapangan. Peristiwa ini juga dinilai menunjukkan bahwa ruang siber semakin diposisikan sebagai medan konflik yang setara dengan darat, laut, dan udara.