BERITA TERKINI
Iran Pulihkan Akses Internet Global Usai Hampir Tiga Bulan Pembatasan

Iran Pulihkan Akses Internet Global Usai Hampir Tiga Bulan Pembatasan

Pemerintah Iran mulai membuka kembali akses internet global setelah hampir tiga bulan pembatasan digital yang diberlakukan di tengah gelombang protes dan perang yang memicu ketegangan geopolitik. Pemulihan konektivitas ini memicu reaksi emosional dari sebagian warga yang mengaku lega karena dapat kembali terhubung dengan dunia luar.

Menurut laporan, Iran mulai memulihkan sebagian layanan internet pada Selasa (26/5/2026). Pembatasan internet diketahui telah berlangsung sejak aksi protes massal meletus pada awal tahun ini, lalu berlanjut ketika perang pecah antara Iran melawan Israel dan Amerika Serikat.

Gelombang protes nasional disebut pecah pada akhir Desember dan meningkat pada awal Januari. Aksi tersebut terjadi setelah nilai rial Iran anjlok terhadap dolar AS di tengah tekanan ekonomi yang semakin berat. Pemerintah kemudian membatasi akses internet secara luas dan sempat menutup jaringan nasional untuk membatasi komunikasi serta penyebaran konten terkait demonstrasi.

Layanan internet sempat dipulihkan secara bertahap. Namun, pembatasan kembali diperketat setelah AS dan Israel menggempur Iran pada 28 Februari 2026. Saat itu, para pejabat Iran menyatakan pembatasan diperlukan untuk mencegah pengawasan, spionase, dan serangan siber.

Selama masa pembatasan, layanan internet domestik dan platform lokal masih beroperasi, tetapi akses internet global sebagian besar hanya bisa diperoleh melalui Virtual Private Network (VPN). Kantor berita Tasnim melaporkan pencabutan pembatasan dimulai setelah Presiden Iran Masoud Pezeshkian memerintahkan pemulihan akses internet ke kondisi sebelum Januari 2026. Warga disebut kembali dapat mengakses situs-situs internasional. Layanan seperti FTTH, VDSL, dan ADSL, serta internet seluler juga dilaporkan tersedia tanpa pembatasan.

Sejumlah warga menyatakan akses internet rumah kembali memungkinkan mereka membuka situs internasional, meski koneksi data seluler masih banyak mengalami gangguan. Seorang warga menggambarkan pengalaman setelah 88 hari pemblokiran seperti seorang tahanan yang dibebaskan setelah tiga bulan dipenjara. Ia juga mengatakan bisa kembali mengirim pesan melalui Telegram, WhatsApp, dan platform lain, serta hampir menangis karena bahagia saat menceritakannya kepada program Middle East Daily BBC, dikutip Jumat (29/5/2026).

Di media sosial, sebagian warganet Iran turut meluapkan kegembiraan. Seorang pengguna X menulis bahwa ia akhirnya dapat membuka YouTube tanpa VPN dan merasa seperti sedang bermimpi. Warga di berbagai wilayah juga mengaku akses Wi-Fi rumah mulai berfungsi, meski sebagian besar platform media sosial masih memerlukan VPN agar dapat diakses.

Di tengah rasa lega atas pemulihan konektivitas, muncul pula kekhawatiran terkait potensi meningkatnya penyensoran. Seorang mahasiswa ilmu komputer bernama Pantea mengatakan pemulihan internet dapat menguntungkan, termasuk bagi aktivitas usaha daring yang pernah ia jalankan, tetapi ia menilai persoalan penyensoran masih menjadi masalah. Pernyataan itu dikutip dari AP.

Media pemerintah Iran, termasuk IRNA dan Fars, mengklaim koneksi internet internasional telah kembali normal bagi pengguna layanan broadband rumah. Wakil Presiden Pertama Mohammad Reza Aref melalui platform X menyatakan pemerintah telah mengambil langkah awal menuju akses internet yang “bebas dan terkelola”. Ia menilai pembukaan kembali internet penting bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan ekonomi berbasis teknologi, dikutip Selasa (26/5/2026).