BERITA TERKINI
Investasi AI Melesat, Sejumlah Perusahaan Teknologi Pangkas Karyawan

Investasi AI Melesat, Sejumlah Perusahaan Teknologi Pangkas Karyawan

Perkembangan kecerdasan buatan (AI) mendorong perusahaan teknologi menggelontorkan investasi besar untuk pengembangan sistem AI maupun pembangunan infrastruktur pendukung seperti pusat data. Namun, di tengah lonjakan belanja tersebut, sejumlah perusahaan justru melakukan pemangkasan tenaga kerja.

Dalam beberapa waktu terakhir, tren yang muncul menunjukkan perusahaan merumahkan karyawan dengan alasan transformasi bisnis atau restrukturisasi. Polanya dinilai serupa: pengurangan pegawai dilakukan saat perusahaan mengalihkan sumber daya untuk membiayai ekspansi AI, termasuk kemungkinan menggantikan sebagian peran manusia dengan teknologi.

Skala investasi yang dikucurkan untuk AI mencapai angka sangat besar. Amazon disebut mengalokasikan sekitar Rp 211 triliun untuk pusat data AI di Australia pada 2025. Perusahaan itu juga berkomitmen berinvestasi ke OpenAI senilai 50 miliar dolar AS atau sekitar Rp 840 triliun pada awal 2026.

Meta dilaporkan lebih agresif, dengan komitmen investasi AI lebih dari 100 miliar dolar AS atau sekitar Rp 1.764 triliun pada tahun ini. Total belanja modal perusahaan tersebut diperkirakan dapat menembus Rp 2.557 triliun.

Di sisi lain, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) terjadi di berbagai perusahaan. Meta merumahkan 8.000 karyawan pada 20 Mei 2026, sekitar 10 persen dari total tenaga kerja, terutama dari tim engineering dan produk. Sebelumnya, 7.000 karyawan disebut telah dipindahkan ke proyek AI baru.

Oracle memecat 30.000 karyawan atau 18 persen dari pegawai globalnya pada awal April 2026. Perusahaan menyampaikan alasan efisiensi untuk memfokuskan sumber daya pada AI dan infrastruktur pusat data.

Amazon memangkas 16.000 karyawan pada awal 2026, setelah sebelumnya memecat 14.000 karyawan pada Oktober 2025. CEO Andy Jassy menyatakan AI akan membuat perusahaan membutuhkan lebih sedikit orang untuk jenis pekerjaan tertentu.

Cisco memotong 4.000 karyawan pada Mei 2026. CEO Chuck Robbins menegaskan langkah tersebut dilakukan untuk memfokuskan investasi pada AI, dengan proyeksi pesanan infrastruktur AI yang dinaikkan menjadi 9 miliar dolar AS.

Block memecat lebih dari 4.000 karyawan atau sekitar 40 persen pegawainya pada Februari 2026. CEO Jack Dorsey menyebut tim yang lebih kecil dengan bantuan alat AI dapat mengerjakan lebih banyak hal dengan lebih baik.

Coinbase memberhentikan 700 karyawan pada awal Mei 2026. Alasannya terkait pasar kripto yang lesu dan kebutuhan struktur biaya yang lebih efisien melalui pemanfaatan AI.

Atlassian memangkas 1.600 karyawan pada Maret 2026 untuk memperbaiki profil keuangan serta menyesuaikan strategi kerja di era AI.

Microsoft menawarkan pensiun dini kepada 8.750 karyawan di Amerika Serikat pada akhir April 2026. Kebijakan ini disebut sebagai langkah menjaga arus kas di tengah lonjakan pengeluaran untuk pusat data, dan menjadi yang pertama kali dilakukan dalam 51 tahun sejarah perusahaan.

Meski AI kerap dikaitkan langsung dengan pemangkasan tenaga kerja, sejumlah pihak menilai situasinya tidak sesederhana itu. Chief AI Officer Cognizant, Babak Hodjat, menilai AI kerap dijadikan kambing hitam dalam restrukturisasi perusahaan.

Rangkaian langkah efisiensi tersebut memperlihatkan kontras antara belanja besar untuk teknologi baru dan tekanan terhadap tenaga kerja. Di tengah percepatan adopsi AI, arah kebijakan perusahaan teknologi terhadap kebutuhan sumber daya manusia menjadi sorotan.