Penggunaan gadget dalam durasi panjang dengan jarak pandang yang terlalu dekat kian menjadi kebiasaan umum di kalangan mahasiswa, baik untuk kebutuhan akademik maupun non-akademik. Sejumlah kajian pustaka menyebut pola penggunaan gawai yang tidak ideal dapat memicu kelelahan mata (asthenopia) dan mengganggu fungsi penglihatan binokuler, terutama pada mekanisme akomodasi dan konvergensi.
Penglihatan binokuler adalah kemampuan kedua mata bekerja selaras untuk membentuk satu bayangan tunggal. Ketika fungsi ini terganggu, keluhan yang muncul tidak hanya berupa rasa tidak nyaman, tetapi juga dapat berdampak pada aktivitas belajar. Beberapa gejala yang kerap dilaporkan antara lain mata lelah, pandangan kabur, sakit kepala, pusing, hingga diplopia atau penglihatan ganda. Kondisi ini dinilai dapat mengganggu konsentrasi serta produktivitas harian mahasiswa.
Dalam pembahasan studi pustaka tersebut dijelaskan, saat menatap layar pada jarak dekat, mata dipaksa melakukan dua kerja visual sekaligus: akomodasi (memfokuskan objek dekat) dan vergens atau konvergensi (pergerakan kedua mata ke arah dalam agar bayangan tetap tunggal). Paparan layar digital yang berlangsung terus-menerus tanpa jeda istirahat dapat membebani otot-otot mata, menurunkan kemampuan akomodasi, dan mengganggu sistem vergens. Akumulasi beban ini disebut menjadi salah satu pemicu gangguan penglihatan binokuler yang bersifat fungsional pada usia dewasa muda.
Dampak gangguan tersebut kerap muncul sebagai kumpulan keluhan yang dikenal sebagai Computer Vision Syndrome (CVS). Sejumlah literatur juga mencatat adanya korelasi antara lamanya penggunaan gadget dan meningkatnya keluhan terkait kenyamanan visual. Salah satu temuan yang dirujuk menyebut durasi penggunaan gawai di atas 4–5 jam per hari berkaitan dengan peningkatan derajat keparahan gangguan kenyamanan binokuler.
Meski gangguan binokuler pada mahasiswa umumnya tidak berupa kerusakan struktural organ mata dan dapat membaik setelah beristirahat, paparan yang tidak ergonomis dalam jangka panjang dinilai tetap berisiko menimbulkan keluhan yang menetap. Karena itu, upaya pencegahan menjadi sorotan penting, mengingat ketergantungan mahasiswa terhadap perangkat digital untuk menunjang perkuliahan.
Studi tersebut menekankan pentingnya penerapan visual hygiene, termasuk pengaturan jarak pandang dan pencahayaan yang memadai, pembatasan durasi penggunaan gawai di luar kebutuhan akademik, serta jeda istirahat berkala. Salah satu prinsip yang disebut adalah aturan “20-20-20”, yakni setiap 20 menit melihat dekat, mata diistirahatkan selama 20 detik dengan melihat objek berjarak sekitar 20 kaki atau 6 meter. Selain itu, pemeriksaan refraksi dan evaluasi penglihatan binokuler secara berkala juga dinilai relevan untuk membantu deteksi dini dan pencegahan penurunan kualitas hidup mahasiswa.
Kesimpulan kajian pustaka ini menyatakan terdapat hubungan yang signifikan antara intensitas penggunaan gadget dan risiko gangguan penglihatan binokuler pada mahasiswa. Durasi paparan layar yang tinggi serta kebiasaan melihat dekat secara konstan dinilai membuat sistem akomodasi dan vergens bekerja berlebihan, sehingga memicu keluhan CVS yang dapat mengganggu konsentrasi dan produktivitas akademik.