BERITA TERKINI
Google Cloud Bentuk Koridor Startup AI Asia Tenggara ke Silicon Valley, Indonesia Jadi Fokus Kemitraan

Google Cloud Bentuk Koridor Startup AI Asia Tenggara ke Silicon Valley, Indonesia Jadi Fokus Kemitraan

Google Cloud memperluas kolaborasi dengan sejumlah lembaga pemerintah dan inovasi di Asia Tenggara untuk membentuk koridor pengembangan startup kecerdasan buatan (AI) yang menghubungkan kawasan tersebut dengan Silicon Valley, Amerika Serikat.

Inisiatif yang diumumkan pada Selasa (3/6) ini melibatkan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Indonesia, Enterprise Singapore (EnterpriseSG), Vietnam National Innovation Center (NIC), serta Startup and Innovation Hub Ho Chi Minh City (SIHUB).

Melalui program baru bertajuk Google for Startups Accelerator: Southeast Asia, Google Cloud menargetkan percepatan pengembangan dan komersialisasi teknologi AI yang dibangun startup tahap awal hingga menengah di enam negara Asia Tenggara. Program ini disebut sebagai bagian dari strategi yang lebih luas untuk memperkuat posisi Asia Tenggara sebagai pusat inovasi AI yang menghasilkan solusi berdampak bagi masyarakat dan ekonomi.

Peluncuran program dilakukan dalam ajang Google for Startups Sprint di kantor pusat Google Asia Pasifik. Acara tersebut mempertemukan startup teknologi, investor, dan pemangku kepentingan sektor publik untuk membahas pengembangan ekosistem AI di kawasan.

Google menyatakan sejak 2018 program akselerator startup yang dijalankannya telah mendukung lebih dari 200 perusahaan rintisan di Asia Tenggara. Dari program tersebut, startup peserta disebut berhasil mengumpulkan pendanaan gabungan mencapai US$6,6 miliar dan menciptakan lebih dari 11.300 lapangan kerja. Sejumlah startup Indonesia yang tercatat sebagai alumni antara lain Analitica, Aruna, DayaTani, Kata.ai, Nexmedis, Noice, Pahamify, Privy, Riliv, hingga Good Doctor.

Head of Developer Ecosystems Asia Pacific Google Cloud, Sami Kizilbash, mengatakan program terbaru ini akan difokuskan pada startup AI tahap Seed hingga Series B yang mengembangkan berbagai solusi berbasis AI. “Melalui kemitraan publik-swasta dan berbagai inisiatif kami—termasuk Startup School: Agentic AI dan Gen AI Academy—kami mendukung para pengusaha dan pengembang di setiap tahap perjalanan mereka. Bersama-sama, kami membangun komunitas inovasi yang memperkuat posisi Asia Tenggara sebagai pusat terpercaya bagi solusi AI yang telah terbukti memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan ekonomi,” kata Sami, Kamis (04/06/2026).

Country Director Google Indonesia, Veronica Utami, menilai program Google for Startups selama ini membantu startup lokal meningkatkan kemampuan rekayasa AI untuk menghasilkan produk yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Menurutnya, sejumlah startup Indonesia telah memanfaatkan AI untuk menjawab persoalan di sektor pendidikan, pertanian, hingga kesehatan.

“Program Google for Startups telah menunjukkan dampak nyata dalam membantu startup Indonesia meningkatkan kapabilitas AI engineering mereka untuk mengembangkan solusi yang relevan dan berdampak bagi masyarakat,” ujar Veronica. Ia mencontohkan platform pembelajaran berbasis AI milik Analitica yang disebut telah membantu lebih dari 200.000 pelajar, teknologi agronomi DayaTani yang memberi panduan real-time bagi petani, serta solusi AI dari Nexmedis untuk membantu tenaga kesehatan mempercepat proses diagnosis dan dokumentasi layanan medis.

Veronica menambahkan, kerja sama dengan Komdigi diharapkan membuka akses yang lebih luas bagi startup Indonesia terhadap sumber daya teknologi global dan jejaring industri internasional.

Salah satu aspek utama program ini adalah kesempatan bagi startup terpilih mengikuti residensi teknis secara langsung di California, Amerika Serikat. Dalam residensi tersebut, para pendiri startup akan mendapatkan pelatihan dan pendampingan di sejumlah pusat teknologi, termasuk kampus Google di Mountain View dan San Francisco.

Selain itu, peserta akan memperoleh akses ke jaringan investor modal ventura di kawasan Sand Hill Road dan Palo Alto, yang dikenal sebagai pusat pembiayaan startup teknologi. Google menilai pengalaman tersebut dapat membantu startup menguji produk sesuai standar global sekaligus membangun relasi strategis untuk mendukung ekspansi internasional.

Di luar residensi, peserta juga akan mendapatkan dukungan teknologi dan sumber daya komputasi untuk mempercepat pengembangan produk. Google Cloud menyediakan akses ke sejumlah teknologi AI perusahaan, termasuk Tensor Processing Units (TPUs), Agentic Data Cloud, Gemini Enterprise Agent Platform, serta Google Antigravity.

Startup yang lolos seleksi juga berpeluang memperoleh dukungan hingga US$350.000 dalam bentuk kredit layanan cloud untuk kebutuhan pelatihan model, penyempurnaan sistem, hingga operasional agen AI. Peserta yang memenuhi kriteria tertentu disebut dapat memperoleh akses awal ke teknologi AI terbaru Google, termasuk model Gemini 3.5 dan perangkat agentic AI enterprise yang masih dalam tahap pengujian terbatas.

Program ini turut mencakup pelatihan teknis mendalam, antara lain mengenai agentic coding, AI context engineering, large language model operations (LLMOps), serta pengembangan sistem multi-agent melalui pusat inovasi Google dan mitra regional.

Google Cloud menargetkan 25 startup pertama untuk mengikuti Google for Startups Accelerator: Southeast Asia. Program berdurasi tiga bulan ini akan dimulai pada Agustus 2026 dan diselenggarakan tanpa pengambilan saham (equity-free), sehingga peserta dapat memperoleh dukungan teknis dan bisnis tanpa melepas kepemilikan perusahaan.

Melalui koridor inovasi yang menghubungkan Asia Tenggara dengan Silicon Valley, Google berharap lebih banyak startup regional dapat mempercepat pengembangan produk AI, memperluas pasar, dan meningkatkan daya saing teknologi kawasan di tingkat global.