Wakil Presiden Gibran Rakabuming mendorong pelajar untuk menguasai teknologi sekaligus etika kecerdasan artifisial (AI) saat meninjau program AI Ready ASEAN bertajuk “Empowering Students for the Future: AI Literacy for a Digital ASEAN” di Bandung, Jawa Barat, Rabu.
Lokakarya tersebut diikuti sekitar 500 siswa dan ditujukan untuk memperluas literasi AI, serta membekali pelajar dengan pemahaman dasar pemanfaatan teknologi itu dalam kehidupan sehari-hari.
Kunjungan ini disebut sejalan dengan pelaksanaan Astacita Presiden Prabowo Subianto, terutama terkait penguatan sumber daya manusia unggul, percepatan transformasi digital, dan peningkatan kualitas pendidikan berbasis teknologi untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi persaingan global di era ekonomi digital.
Dalam sambutannya, Gibran menekankan pentingnya pengenalan teknologi sejak dini agar generasi muda Indonesia tidak tertinggal dari perkembangan teknologi global. Ia juga menjelaskan kunjungan ke sejumlah sekolah di Jawa Barat bertujuan memperkenalkan literasi AI, robotik, serta mengembangkan minat siswa pada bidang teknologi digital.
“Kita fokus mengunjungi sekolah-sekolah untuk mengenalkan AI, pelajaran robotik. Tadi di salah satu sekolah juga dikenalkan ekstrakurikuler yang fokus ke e-sport. Bahkan ada game yang bisa dipertandingkan di kompetisi tingkat internasional,” ujar Gibran.
Ia menambahkan, penggunaan AI kini semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari, termasuk dalam proses belajar-mengajar di sekolah. Namun, menurutnya, pemanfaatan AI harus disertai pemahaman mengenai aturan dan etika.
“Intinya penggunaan AI ini penting sekali untuk kehidupan sehari-hari, terutama untuk menunjang kegiatan belajar-mengajar. Tapi di satu sisi kita juga harus tahu bahwa AI ini ada aturan main dan etikanya, jadi itu yang perlu diperhatikan,” katanya.
Gibran juga menyampaikan apresiasi kepada ASEAN Foundation dan Google.org yang mendukung penyelenggaraan program literasi AI bagi pelajar di Indonesia. Menurutnya, pengenalan teknologi digital kepada siswa perlu terus diperluas agar generasi muda mampu menjawab tantangan zaman.
“Terima kasih sekali kepada ASEAN Foundation dan Google.org atas dukungannya untuk anak-anak kita. Kita tidak ingin anak-anak kita ketinggalan dalam perkembangan teknologi, khususnya AI,” ujar Gibran.
Dalam kesempatan tersebut, Gibran berdialog dengan para siswa. Salah seorang siswa, Mirza Ali Musyafa, menanyakan pandangan Wapres mengenai dampak lingkungan dari perkembangan teknologi AI, khususnya terkait penggunaan sumber daya air dalam operasional pusat data.
Menanggapi hal itu, Gibran menekankan perlunya menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan kelestarian lingkungan. “Yang namanya kemajuan zaman pasti ada plus minusnya terhadap lingkungan. Tantangannya adalah mencari titik tengah. Kita ingin teknologi berkembang, kita ingin AI digunakan secara luas, tetapi keberlanjutan lingkungan juga harus tetap diperhatikan,” ujarnya.
AI Ready ASEAN merupakan program yang diselenggarakan ASEAN Foundation dengan dukungan Google.org untuk memperluas literasi AI di kawasan Asia Tenggara. Melalui program ini, pelajar diperkenalkan pada konsep dasar AI, etika penggunaan teknologi, serta pemanfaatannya dalam berbagai aspek kehidupan.
Direktur Eksekutif ASEAN Foundation Piti Srisangnam menyatakan program tersebut bertujuan memberikan kesempatan yang setara bagi pelajar untuk memahami AI dan memanfaatkannya secara bertanggung jawab.
“Kami percaya setiap pelajar, di mana pun mereka berada, berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk memahami dan memanfaatkan kecerdasan artifisial. Transformasi digital bukan sekadar tentang teknologi, tetapi tentang membuka peluang bagi generasi muda untuk berinovasi dan memberi dampak positif bagi komunitasnya,” kata Piti.