Pakar ilmu komputer Geoffrey Hinton kembali menyampaikan peringatan keras mengenai perkembangan kecerdasan buatan (AI). Hinton, yang dijuluki “Bapak Kecerdasan Buatan” (Godfather of AI) dan disebut sebagai peraih Hadiah Nobel Fisika 2024, menilai manusia bukan sekadar menciptakan program komputer yang semakin canggih, melainkan sedang “melahirkan makhluk baru” yang kelak dapat melampaui kecerdasan manusia.
Pernyataan tersebut disampaikan Hinton saat berbicara dalam ajang Sana AI Summit di New York pekan lalu. Pada kesempatan itu, pria berusia 77 tahun tersebut memprediksi kemampuan AI akan melampaui kapasitas otak manusia dalam waktu yang tidak lama lagi.
Hinton juga menyebut adanya kemungkinan 10 hingga 20 persen bahwa AI dapat memicu kepunahan manusia dalam 30 tahun mendatang. Ilmuwan yang mundur dari Google pada 2023 ini menekankan bahwa kekhawatirannya tidak hanya bersifat teoritis.
Ia mencontohkan sebuah model AI yang disebutnya baru-baru ini berhasil memecahkan salah satu teorema matematika kompleks milik Paul Erdos dengan menggunakan cabang matematika yang sebelumnya tidak terpikirkan. Bagi Hinton, capaian tersebut menunjukkan AI mampu membangun asumsi sendiri, mengujinya, belajar dari kegagalan, dan terus berkembang.
Hinton membandingkan mekanisme itu dengan evolusi AlphaGo, program AI buatan Google DeepMind untuk permainan papan strategi Go. Menurutnya, AlphaGo awalnya meniru taktik pemain profesional, namun kemudian menjadi tak terkalahkan setelah mulai menyusun data pelatihannya sendiri.
“Saya rasa (AI) akan menjadi jauh lebih cerdas dari kita,” kata Hinton.
Ia menilai model bahasa besar (Large Language Model/LLM) saat ini bergerak ke arah yang sama. Hinton menjelaskan, jika sebuah AI diberi keyakinan tertentu lalu didorong untuk menarik kesimpulan yang bertentangan dengan keyakinan awalnya, AI akan menemukan inkonsistensi. Inkonsistensi itu, menurutnya, dapat menjadi “sinyal pembelajaran” mandiri tanpa perlu tambahan data baru dari manusia.
Hinton menambahkan bahwa rekan sesama peraih Nobel, Demis Hassabis yang juga CEO Google DeepMind, disebutnya sependapat dengan teori tersebut.
Dalam proyeksinya, Hinton memperkirakan dalam satu dekade ke depan AI akan menyingkirkan para matematikawan terbaik dunia. Sementara dalam 20 tahun, ia memprediksi kesenjangan kemampuan antara AI dan otak jenius sekelas Albert Einstein akan sepenuhnya hilang.