BERITA TERKINI
Geoffrey Hinton Peringatkan AI Bisa Jadi “Makhluk Baru” yang Melampaui Manusia

Geoffrey Hinton Peringatkan AI Bisa Jadi “Makhluk Baru” yang Melampaui Manusia

Pakar ilmu komputer Geoffrey Hinton kembali menyampaikan peringatan mengenai arah perkembangan kecerdasan buatan (AI). Ilmuwan yang dijuluki “Bapak Kecerdasan Buatan” itu menilai manusia tidak sekadar menciptakan program komputer yang semakin canggih, melainkan sedang “melahirkan makhluk baru” yang pada akhirnya dapat melampaui kecerdasan manusia.

Hinton menyampaikan pandangan tersebut saat berbicara di Sana AI Summit di New York pekan lalu. Pada usia 77 tahun, ia memprediksi kemampuan AI akan segera melampaui batas kemampuan otak para penciptanya dalam waktu yang tidak lama.

Ia juga menyebut adanya kemungkinan 10 hingga 20 persen bahwa AI dapat memicu kepunahan manusia dalam 30 tahun ke depan. Hinton, yang mundur dari Google pada 2023, menekankan bahwa kekhawatirannya bukan sekadar teori.

Dalam penjelasannya, Hinton mencontohkan sebuah model AI yang disebut berhasil memecahkan salah satu teorema matematika kompleks milik Paul Erdos dengan menggunakan cabang matematika yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh siapa pun. Menurut Hinton, capaian itu menunjukkan bahwa AI sudah dapat menghasilkan asumsi sendiri, mengujinya, belajar dari kegagalan, lalu terus berkembang.

Ia membandingkan mekanisme tersebut dengan evolusi AlphaGo, program AI buatan Google DeepMind untuk permainan papan strategi Go. AlphaGo, menurut Hinton, pada awalnya meniru taktik pemain profesional, namun kemudian menjadi tak terkalahkan setelah mulai menyusun data pelatihannya sendiri.

“Saya rasa (AI) akan menjadi jauh lebih cerdas dari kita,” kata Hinton.

Ia menilai model bahasa besar (large language model/LLM) saat ini bergerak ke arah yang sama. Hinton menjelaskan, bila sebuah AI diberi keyakinan tertentu lalu didorong untuk menalar kesimpulan baru yang bertentangan dengan keyakinan awalnya, sistem tersebut dapat menemukan inkonsistensi. Inkonsistensi itu, menurutnya, dapat menjadi “sinyal pembelajaran” yang memungkinkan AI belajar secara mandiri tanpa memerlukan masukan data baru dari manusia.

Hinton mengatakan rekan sesama peraih Nobel, Demis Hassabis yang juga CEO Google DeepMind, turut menyetujui teori tersebut. Ia kemudian memproyeksikan bahwa dalam satu dekade ke depan AI berpotensi menyingkirkan para matematikawan terbaik dunia. Sementara dalam 20 tahun, ia memperkirakan kesenjangan kemampuan AI dengan otak jenius sekelas Albert Einstein akan sepenuhnya hilang.