BERITA TERKINI
Gelombang PHK Dipicu AI, CEO Nvidia Nilai Teknologi Ini Bisa Jadi Peluang bagi Lulusan Baru

Gelombang PHK Dipicu AI, CEO Nvidia Nilai Teknologi Ini Bisa Jadi Peluang bagi Lulusan Baru

Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang dikaitkan dengan pemanfaatan artificial intelligence (AI) tengah menjadi sorotan di industri teknologi. Sejumlah perusahaan menyatakan penggunaan AI berkontribusi pada efisiensi kerja, bahkan sampai menggantikan peran manusia di beberapa lini.

King, pengembang gim Candy Crush, secara terbuka mengakui mengganti pekerja manusia dengan AI. Sementara itu, Meta—perusahaan induk Facebook—memangkas ribuan karyawan dan meningkatkan belanja untuk infrastruktur AI.

Di tengah tren tersebut, CEO Nvidia Jensen Huang menyampaikan pandangan yang lebih optimistis. Dalam pidato wisuda di Carnegie Mellon University pada pekan lalu, Huang mengatakan era saat ini justru menjadi waktu terbaik sepanjang sejarah bagi lulusan baru untuk memulai karier.

“Sekarang adalah waktunya bagi Anda untuk mewujudkan impian Anda, dan momentumnya tidak mungkin lebih sempurna dari ini,” ujar Huang di hadapan para wisudawan.

Menurut Huang, AI dapat berperan sebagai jembatan yang menutup “kesenjangan teknologi”. Ia menilai akses terhadap AI membuat lebih banyak orang memiliki kemampuan untuk membangun sesuatu yang bermanfaat, yang pada akhirnya dapat membuka peluang baru bagi generasi muda pada tahun-tahun mendatang.

Pernyataan itu juga merefleksikan perjalanan karier Huang. Ia lulus dari Oregon State University dengan gelar sarjana teknik elektro pada 1984, kemudian meraih gelar master di bidang yang sama dari Stanford University. Pada 1993, ia mendirikan Nvidia, bertepatan dengan awal revolusi internet—sebuah periode yang ia anggap sebanding dengan momentum yang dihadapi lulusan saat ini.

Namun, optimisme tersebut berseberangan dengan kecemasan publik yang meningkat terhadap AI. Studi Pew Research Center menunjukkan sekitar separuh masyarakat Amerika Serikat merasa “lebih khawatir daripada bersemangat” melihat penggunaan AI yang semakin luas dalam kehidupan sehari-hari.

Penolakan juga muncul di tingkat lokal. Sejumlah warga di AS disebut aktif menolak pembangunan pusat data (data center) baru di lingkungan mereka, meski fasilitas tersebut menjadi penopang utama layanan AI seperti chatbot.

Di dunia kerja, dampak AI dinilai semakin terasa. Setidaknya belasan perusahaan besar, termasuk Cloudflare dan Snap, secara terbuka menyebut peningkatan efisiensi berkat AI sebagai salah satu alasan utama PHK terhadap ribuan karyawan tahun ini.

Bagi lulusan baru, situasi ini turut memengaruhi proses mencari kerja. Disebutkan bahwa tahapan wawancara menjadi lebih panjang dan rumit seiring perubahan kebutuhan perusahaan di era adopsi AI yang kian cepat.