Fenomena konten bertema “Petugas Polisi” yang belakangan ramai di media sosial menarik perhatian publik. Sejumlah warganet menilai video-video dari akun resmi kepolisian kini tampil lebih menarik, mudah dipahami, dan menghibur, bahkan disebut lebih memikat daripada sebagian klip video pendek yang beredar luas.
Tokoh media sosial Tran Chi Hieu (Hieu Orion) menyoroti pergeseran cara komunikasi lembaga penegak hukum. Ia menilai kehadiran polisi melalui video edukasi keselamatan lalu lintas di YouTube dan kanal resmi berverifikasi yang aktif berinteraksi telah memunculkan antusiasme baru di masyarakat. Menurutnya, pendekatan ini merupakan pertanda baik karena membuat informasi keselamatan dan hukum lebih mudah diterima.
Dalam konteks ruang digital saat ini, tantangan yang dihadapi tidak lagi semata-mata berupa “musuh” dalam pengertian tradisional. Yang dihadapi adalah berita palsu, penipuan, konten berbahaya, serta manipulasi opini publik yang dinilai dapat memengaruhi masyarakat, termasuk generasi muda. Karena itu, muncul pandangan bahwa ketika kejahatan dan misinformasi hadir di platform seperti TikTok atau YouTube, maka saluran informasi resmi juga perlu hadir di sana, menggunakan bahasa yang dekat dengan kebiasaan warganet.
Sejumlah unit kepolisian dan personel di berbagai wilayah dilaporkan mulai mengubah akun media sosial menjadi kanal penyebaran informasi hukum, pencegahan kejahatan, dan edukasi publik. Mereka membangun fanpage serta memproduksi konten yang dirancang untuk memperluas jangkauan sekaligus memperkuat interaksi dengan komunitas daring.
Vietnam disebut termasuk negara dengan perkembangan internet yang cepat, dengan sekitar 70% penduduk berpartisipasi dalam media sosial. Disebutkan pula terdapat sekitar 80 juta akun Facebook, serta jumlah akun TikTok yang hampir setara. Dalam situasi ini, kehadiran “petugas polisi” di ruang digital diposisikan sebagai upaya mengikuti tempat berkumpulnya masyarakat sekaligus merespons dinamika tren yang cepat berubah.
Salah satu contoh yang mencuat adalah konten dari unit propaganda Departemen Polisi Lalu Lintas dan Departemen Urusan Politik Kepolisian Hanoi yang mengikuti tren “jus tebu” dan “polisi lalu lintas”. Tren ini bermula ketika warganet menemukan bahwa pria penjual jus tebu di Jalan Buoi ternyata seorang Letnan Kolonel di Polisi Lalu Lintas. Dari situ, serangkaian video promosi keselamatan lalu lintas diproduksi, termasuk menampilkan Letnan Kolonel Polisi Lalu Lintas Nguyen Ngoc Tien yang berperan sebagai penjual jus tebu.
Dalam salah satu video, ia terlibat dialog jenaka dengan rekan-rekannya dalam format mirip “Siapa Ingin Menjadi Jutawan” versi polisi lalu lintas, dengan pesan utama “Jika Anda minum alkohol, jangan mengemudi.” Video lain menampilkan dirinya saat bertugas dan mendapati sosok yang disebut sebagai “mantan pacar” melanggar aturan lalu lintas, yang kemudian memancing respons warganet. Setelah itu, polisi lalu lintas Hanoi kembali merilis video bertema “zona terlarang” yang menargetkan pelanggaran mengemudi di bawah pengaruh alkohol, kembali memasukkan kata kunci “mantan pacar”, dan memicu komentar netizen yang membandingkannya dengan tontonan drama romantis.
Konten serupa juga muncul dari berbagai daerah. Akun media sosial “Công An Bản” milik Mayor Nguyen Van Sang dari Departemen Kepolisian Kriminal Kepolisian Provinsi Lao Cai disebut menampilkan video lucu yang menggabungkan pengetahuan hukum dan pencegahan kejahatan hingga menjadi viral. Sementara itu, fanpage anti-narkoba Departemen Kepolisian Kota Ho Chi Minh disebut menimbulkan perhatian besar bahkan hanya melalui satu pembaruan status. Disebutkan pula fanpage Departemen Investigasi Kejahatan Narkoba mencapai 1.000.000 pengikut pada 23 Mei, sedangkan fanpage Departemen Kepolisian Lalu Lintas memiliki 1.400.000 pengikut.
Meski tema seperti sosialisasi hukum, pencegahan kejahatan, dan penanggulangan masalah sosial kerap dianggap “serius” dan berpotensi membosankan, sejumlah akun resmi kepolisian tetap berhasil menarik perhatian publik. Sejumlah narasumber di lingkungan kepolisian memaparkan pendekatan yang digunakan dalam membangun konten.
Letnan Phan Anh Linh dari Departemen Investigasi Kejahatan Narkoba Kepolisian Kota Ho Chi Minh menyebut konten yang baik untuk fanpage polisi perlu memenuhi tiga unsur: akurat, relevan, dan menyentuh. Akurat berarti tepat, standar, serta membantu membimbing opini publik. Relevan berarti memakai bahasa sehari-hari yang mudah dipahami dan terkait dengan kehidupan masyarakat. Sementara menyentuh berarti mampu memicu emosi, kebanggaan, rasa ingin tahu, atau kebutuhan audiens.
Kapten Phan Hoang Su dari Kepolisian Kota Tan Bien, Dong Nai—yang memiliki dua akun media sosial terverifikasi di TikTok dan Facebook—menekankan pentingnya mematuhi pedoman komunitas platform, fokus pada isu seperti penyalahgunaan narkoba dan penipuan, serta menjaga konsistensi citra pribadi lintas platform. Ia menilai konsistensi elemen visual seperti foto, skema warna, logo, dan latar belakang penting untuk memudahkan identifikasi sekaligus mencegah peniruan identitas.
Pada akun media sosialnya, Kapten Phan Hoang Su menggunakan nama asli, menampilkan avatar bergaya “polisi pria”, serta mencantumkan latar belakang yang memuat informasi identitas dan pandangan, termasuk nomor telepon dan pernyataan prinsip “Kehormatan pribadi - tanggung jawab kepada masyarakat - demi kedamaian hidup.”
Terkait fanpage polisi komune/kelurahan, ia menilai selain tampilan profesional dan modern, konten perlu fokus pada isu lokal. Ia menyarankan tulisan dibuat ringkas dan langsung pada inti, menghindari unggahan panjang. Ia juga mendorong pembuatan seri video edukatif, instruktif, dan preventif agar penonton yang melihat bagian tertentu terdorong mencari bagian sebelumnya. Ia menambahkan, video pendek di bawah tiga menit dinilai lebih sesuai dengan kecenderungan algoritma media sosial.
Sejumlah pandangan juga menilai algoritma media sosial cenderung mengutamakan konten edukatif sekaligus menghibur. Karena banyak video dari petugas memadukan dua unsur tersebut, konten menjadi lebih mudah menyebar luas. Kondisi ini dipandang sebagai peluang untuk memperkuat penyebaran informasi hukum dan pencegahan perilaku menyimpang di ruang digital.
Namun, Letnan Phan Anh Linh juga mengakui masih ada fanpage kepolisian yang kontennya kurang menarik karena tetap memakai pendekatan “berbasis teks” seperti laporan kegiatan dan prestasi dengan gaya administratif. Ia menilai “liputan informasi hijau” untuk melawan informasi berbahaya dan beracun serta membersihkan lingkungan daring merupakan pendekatan penting. Dalam pandangannya, tujuan fanpage polisi bukan hanya memuat aktivitas, melainkan juga mengisi ruang daring dengan informasi yang positif, resmi, dan manusiawi.
Ia membagikan komposisi konten yang ia gunakan: 70% informasi positif, 20% peringatan dan bimbingan, serta 10% bantahan. Rinciannya, 70% berisi kisah positif, teladan, dan kegiatan untuk masyarakat; 20% berisi peringatan modus kejahatan, keterampilan pencegahan, dan pengetahuan hukum; 10% berisi upaya melawan berita palsu, informasi yang dipelintir, dan kebohongan. Menurutnya, masyarakat cenderung lebih suka membagikan konten positif dibanding konten yang terlalu kritis atau kaku, sehingga pendekatan ini dinilai dapat memperkuat ketahanan publik terhadap informasi berbahaya.
Komposer Le Tam menilai keterlibatan polisi dengan masyarakat tidak terbatas pada penyampaian informasi melalui dokumen tertulis atau pertemuan. Ia melihat video yang viral membuat pesan diterima secara sukarela dan antusias, baik disadari maupun tidak. Dengan cara ini, petugas dipersepsikan lebih dekat dan ramah, sejalan dengan gagasan “sedekat mungkin dengan masyarakat” serta gerakan “Tiga Terbaik” di kepolisian.
Letnan Kolonel Pham Anh Quan dari Departemen Investigasi Kejahatan Narkoba Kementerian Keamanan Publik, yang juga penulis buku “Polisi Kawasan Lama”, menyatakan untuk menarik pembaca dan pemirsa muda, konten perlu mudah diakses dan mengikuti tren. Menurutnya, di tengah banjir informasi yang membuat kaum muda kewalahan, kanal resmi penting untuk memberikan panduan, terutama pengetahuan. Ia juga menekankan bahwa meskipun kanal resmi perlu menarik banyak pemirsa dan tanda suka, upaya tersebut tidak boleh dilakukan dengan cara-cara yang sekadar mengejar tayangan dan tidak sejalan dengan prinsip yang berlaku.
Pada 26 Mei, Departemen Urusan Politik yang berkoordinasi dengan Departemen Keamanan Siber dan Pencegahan Kejahatan Teknologi Tinggi Kementerian Keamanan Publik menyelenggarakan pelatihan komunikasi daring di lingkungan Kepolisian Rakyat. Kegiatan ini disebut menjadi kesempatan bagi perwira dan prajurit untuk meningkatkan keterampilan komunikasi digital, dengan tujuan memperluas penyebaran informasi yang bermanfaat, positif, dan manusiawi di ruang daring.
Selain itu, Kementerian Keamanan Publik bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Pelatihan meluncurkan kontes pembuatan video klip “Tanah Air Damai”. Ajang ini diposisikan sebagai wadah bagi petugas kepolisian untuk berkreasi dan menceritakan profesi serta kehidupan mereka melalui bahasa sehari-hari yang dipadukan dengan teknologi, sekaligus meningkatkan kemampuan komunikasi di ruang digital.