BERITA TERKINI
F5 Perkenalkan Pembaruan Keamanan ADSP untuk Aplikasi Enterprise di Era AI dan Pascakuantum

F5 Perkenalkan Pembaruan Keamanan ADSP untuk Aplikasi Enterprise di Era AI dan Pascakuantum

JAKARTA, 1 April 2026 — F5 memperkenalkan kemampuan keamanan terbaru dalam F5 Application Delivery and Security Platform (ADSP) untuk memperkuat perlindungan aplikasi modern dan berbasis AI. Diumumkan di ajang AppWorld, pembaruan ini menggabungkan perlindungan berbasis AI, kontrol akses zero trust, serta arsitektur kriptografi yang crypto-agile guna membantu perusahaan mengamankan aplikasi terdistribusi di lingkungan hybrid multicloud sekaligus bersiap menghadapi risiko di era pascakuantum.

Chief Product Officer F5, Kunal Anand, menyatakan bahwa fokus utama tim keamanan bukan menambah jumlah peringatan, melainkan mengurangi celah. Menurutnya, ADSP ditujukan untuk memperpendek siklus dari identifikasi risiko hingga penerapan perlindungan, termasuk melalui guardrails runtime yang tervalidasi, penilaian risiko berbasis AI, serta jalur penerapan zero trust dan kesiapan pascakuantum.

Otomatisasi perlindungan berbasis AI

F5 menyoroti kebutuhan respons keamanan yang lebih cepat dan cerdas seiring organisasi memperluas aplikasi mereka dari pusat data ke hybrid multicloud hingga edge. Dalam ADSP, F5 menghadirkan perlindungan berbasis AI dengan mengotomatiskan kemampuan web application firewall (WAF) untuk mengurangi beban operasional sekaligus meningkatkan deteksi ancaman.

Salah satu fitur baru yang diperkenalkan adalah F5 AI Remediate. Fitur ini dirancang untuk menjembatani tahapan identifikasi kerentanan model AI melalui F5 AI Red Team dan penerapan perlindungan runtime melalui F5 AI Guardrails. AI Remediate mengotomatiskan pembuatan, optimasi, dan validasi paket guardrails yang terarah, sehingga tim keamanan dapat menerapkan perlindungan berbasis bukti ke lingkungan produksi dengan persetujuan manusia. F5 menyebut pendekatan ini membantu mengurangi risiko paparan tanpa mengganggu aplikasi AI yang berjalan, sekaligus mengurangi pekerjaan repetitif dan mendorong adopsi AI yang lebih akuntabel.

Pembaruan juga hadir pada F5 Distributed Cloud WAF melalui penilaian risiko berbasis AI yang mengubah proses manual menjadi perlindungan otomatis. Dengan kebijakan pemblokiran berbasis outcome, F5 menargetkan kemudahan bagi CISO, SecOps, dan NetOps untuk mengeliminasi ancaman, menekan beban operasional, dan mempercepat waktu perlindungan, sambil menjaga tingkat false positive tetap rendah melalui analisis berlapis. F5 menyebut pendekatan ini dapat meminimalkan ketergantungan pada pengecualian berbasis signature serta proses tuning yang rumit, terutama pada organisasi dengan portofolio aplikasi besar, baik di on-premise, virtual, SaaS, maupun kontainer.

Menangkal ancaman agentic AI

F5 juga memperkenalkan kemampuan baru pada F5 Distributed Cloud Bot Defense untuk merespons tantangan otomatisasi berbasis AI, termasuk distorsi analitik, penyalahgunaan otomatis, dan upaya penyamaran oleh agen AI. Dalam ADSP, Bot Defense kini diklaim memberikan visibilitas lebih dalam terhadap trafik aplikasi dengan kemampuan membedakan manusia, bot, dan agen AI. Hanya agen AI yang tepercaya dan terverifikasi yang diizinkan berinteraksi dengan aplikasi, sementara aktivitas berbahaya atau tidak terkelola dapat diblokir. F5 menyatakan tata kelola terpadu dan kontrol kebijakan yang konsisten ini ditujukan untuk melindungi pendapatan dari dampak otomatisasi berbahaya sekaligus mendukung praktik agentic commerce yang lebih aman.

Selain itu, ADSP kini mengintegrasikan F5 Distributed Cloud Web App Scanning dengan F5 BIG-IP Advanced WAF. Integrasi ini ditujukan untuk memberikan deteksi kerentanan yang skalabel dan otomatis bagi pelanggan BIG-IP, termasuk melalui automated penetration testing serta penerapan virtual patches yang presisi. F5 menyebut langkah ini menyederhanakan deteksi kerentanan dan respons terhadap eksploitasi, serta mempercepat perlindungan.

Zero trust untuk hybrid multicloud

Di sisi akses, F5 melanjutkan pengembangan BIG-IP Access Policy Manager (APM) menjadi BIG-IP Zero Trust Access, dengan penekanan pada zero trust application access (ZTAA) sebagai bagian dari ADSP. F5 menilai pendekatan ini berbeda dari solusi zero trust network access (ZTNA) berbasis SaaS karena mendukung operasi hybrid zero trust dengan penerapan kebijakan berkelanjutan berbasis identitas dan konteks untuk aplikasi modern, cloud, SaaS, hingga aplikasi legacy.

Solusi ini menerapkan validasi setiap permintaan (pre-request validation) untuk membatasi pergerakan lateral, serta mendukung Identity Aware Proxy, SSL VPN, atau IPsec VPN pada platform yang disebut siap menghadapi kriptografi pascakuantum.

Pembaruan lain datang dari F5 Distributed Cloud API Security, termasuk peningkatan kemampuan API discovery dan opsi keamanan baru. F5 menyebut dukungan out-of-band discovery kini mencakup berbagai data plane seperti BIG-IP, NGINX, Kong, dan Apigee. Perusahaan juga memperkenalkan solusi software keamanan API yang dapat diterapkan pada lingkungan air-gapped, industri yang diawasi ketat regulasi, atau kondisi dengan keterbatasan cloud. Menurut F5, pendekatan ini memungkinkan organisasi mempertahankan visibilitas dan kontrol API tanpa koneksi eksternal, sekaligus memenuhi tuntutan regulasi dan kedaulatan data.

Kesiapan pascakuantum dan crypto-agility

F5 menyatakan memperkuat kesiapan post-quantum cryptography (PQC) melalui solusi crypto-agile dalam ADSP. Dengan dukungan kelompok hybrid TLS cipher, F5 menargetkan implementasi keamanan pascakuantum tanpa mengorbankan kompatibilitas dengan alur kerja kriptografi yang sudah ada, sebagai langkah praktis menghadapi risiko komputasi kuantum di masa depan.

Secara keseluruhan, F5 menyebut inovasi terbaru ini sebagai upaya mewujudkan pendekatan platform terpadu yang menggabungkan delivery aplikasi dan keamanan siber di berbagai skenario implementasi, termasuk hybrid cloud, multicloud, edge, dan on-premises.

Dalam materi yang dikutip F5, Gartner menyarankan organisasi mengevaluasi solusi berbasis platform dan mencari kemampuan gabungan lintas kategori perlindungan untuk meminimalkan kompleksitas pengelolaan komponen serta menghindari “proxy overload” yang berpotensi meningkatkan risiko terhadap performa dan ketersediaan.