BERITA TERKINI
Enam Teknologi yang Diprediksi Mengubah Dunia pada 2026, Tak Hanya AI

Enam Teknologi yang Diprediksi Mengubah Dunia pada 2026, Tak Hanya AI

Pembahasan tentang teknologi masa depan kerap didominasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Namun, berbagai inovasi lain juga diproyeksikan ikut mengubah cara manusia hidup dan bekerja. Tahun 2026 bahkan disebut sebagai fase peralihan dari “era perangkat lunak” menuju “era AI fisik”, ketika sejumlah terobosan mulai keluar dari laboratorium dan masuk ke tahap penerapan nyata di berbagai sektor industri.

Berdasarkan laporan TechCon Global, terdapat sedikitnya 12 teknologi baru yang dinilai layak dicermati sepanjang tahun tersebut. Dari daftar itu, berikut enam teknologi selain AI yang diperkirakan membawa perubahan besar pada 2026.

1. Baterai sodium-ion

Dominasi baterai lithium-ion mulai ditantang oleh teknologi sodium-ion. CATL, produsen baterai terbesar di dunia, mengonfirmasi rencana penerapan komersial baterai sodium-ion pada 2026 untuk kendaraan penumpang, kendaraan komersial, sistem tukar baterai, hingga penyimpanan energi.

Generasi terbaru baterai sodium-ion buatan CATL diklaim mampu menopang jarak tempuh kendaraan listrik lebih dari 500 kilometer, dengan kepadatan energi 175 Wh/kg. Baterai ini juga disebut unggul dalam ketahanan suhu ekstrem, dari minus 40 hingga 70 derajat Celsius, serta memiliki siklus hidup lebih panjang, mencapai 8.000 hingga 10.000 siklus.

Proyeksi industri memperkirakan biaya selnya dapat turun hingga sekitar 40 dolar AS per kWh ketika produksi massal berjalan, atau hampir separuh harga baterai lithium saat ini.

2. Keamanan siber preemptif

Pendekatan keamanan siber mulai bergeser dari reaktif menjadi antisipatif. Sistem keamanan siber preemptif memanfaatkan analitik berbasis AI untuk mendeteksi anomali dan mengidentifikasi celah keamanan secara real-time sebelum serangan terjadi.

Investasi di sektor ini dilaporkan meningkat. Salah satu indikatornya, startup AiStrike meraih pendanaan 7 juta dolar AS pada Januari 2026. Gartner juga memprediksi bahwa pada 2030, sekitar 50 persen anggaran keamanan siber global akan dialihkan dari pendekatan reaktif ke proaktif, dengan memanfaatkan analitik perilaku, intelijen ancaman, dan respons otomatis.

3. Sistem AI agentik

Di luar chatbot konvensional, sistem AI agentik digambarkan sebagai sistem otonom yang mampu memahami lingkungan kompleks, menetapkan tujuan, merencanakan alur kerja, dan mengeksekusi tindakan secara mandiri.

Survei RADCOM menyebut 71 persen operator jaringan berencana menerapkan teknologi ini pada 2026. Dalam sektor telekomunikasi, contoh penerapannya adalah agen AI yang dapat memantau lalu lintas jaringan, mendeteksi anomali, mengidentifikasi akar masalah, mengalihkan sumber daya, hingga menyebarkan perbaikan secara otomatis tanpa intervensi manusia.

4. AI fisik

Perkembangan AI juga bergerak ke ranah fisik, terutama untuk robotika dan sistem otonom. Pada ajang CES 2026, CEO NVIDIA Jensen Huang menyatakan momen kebangkitan AI untuk robotika telah tiba. Physical AI merujuk pada model AI yang memahami hukum fisika dunia nyata untuk mengendalikan robot dan sistem otonom.

NVIDIA meluncurkan model fondasi Cosmos yang berfungsi sebagai simulator fisika berbasis pembelajaran mesin dan diklaim mampu memprediksi perilaku objek di dunia nyata. Perusahaan juga memperkenalkan modul Jetson T4000 dengan performa 1.200 TFLOPS pada konsumsi daya 40–70 watt.

TrendForce memproyeksikan pengiriman robot humanoid global akan tumbuh lebih dari 700 persen pada 2026.