Bayangkan berada di Juni 2028, ketika layar televisi dan monitor bursa saham dunia menampilkan angka yang mengkhawatirkan: tingkat pengangguran melonjak hingga 10,2 persen. Pada saat yang sama, pasar bereaksi keras. Indeks S&P 500 digambarkan anjlok 38 persen dari puncaknya, membuat triliunan dollar menguap dan memicu kepanikan investor.
Situasi itu bukan disajikan sebagai kisah film distopia, melainkan bagian dari sebuah “eksperimen pemikiran” yang disusun firma riset investasi Citrini Research bersama analis Alap Shah. Dalam laporan berjudul The 2028 Global Intelligence Crisis, mereka menulis memo makroekonomi fiktif yang seolah dibuat pada 30 Juni 2028 untuk memetakan risiko ekstrem jika kecerdasan buatan (AI) berkembang jauh melampaui ekspektasi dan menggantikan manusia terlalu cepat, sebelum sistem ekonomi sempat beradaptasi.
Citrini Research menegaskan skenario tersebut bukan prediksi pasti, apalagi narasi kiamat. Namun, simulasi itu mencoba menjawab pertanyaan kunci: bagaimana kesuksesan AI—yang mendorong produktivitas dan efisiensi perusahaan—justru dapat berbalik menjadi bumerang bagi ekonomi manusia.
Dalam skenario itu, krisis bermula dari periode euforia. Pada 2026, ekonomi global digambarkan berada di puncak kejayaan berkat AI yang semakin canggih. Sentimen positif membuat saham terus menanjak, dengan sektor teknologi menjadi penggerak utama. Per Oktober 2026, pasar saham Amerika Serikat disebut berpesta: S&P 500 mendekati level 8.000, sementara Nasdaq menembus 30.000.
Di saat optimisme menguat, gelombang pertama pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam skenario tersebut mulai terjadi pada awal 2026. Perusahaan mengurangi tenaga kerja karena sebagian fungsi dinilai bisa digantikan AI dan otomatisasi. Muncul pula istilah human obsolescence, yang menggambarkan manusia dianggap semakin “usang” untuk sejumlah lini pekerjaan, terutama pekerjaan kantoran yang mulai digantikan agen AI yang sangat efisien.
Bagi pemegang saham, PHK massal diilustrasikan sebagai kabar baik karena memangkas biaya operasional secara besar-besaran. Dampaknya, margin keuntungan perusahaan melebar, laporan pendapatan melampaui ekspektasi, dan harga saham terus melesat.
Namun, skenario itu menekankan bahwa keuntungan besar tersebut tidak mengalir untuk menciptakan pekerjaan baru bagi manusia. Dana justru diputar kembali untuk membiayai lebih banyak komputasi AI, termasuk pembelian GPU dan pembangunan infrastruktur pusat data. Siklus ini menciptakan kesan ekonomi bergerak semakin cepat, sementara fondasi konsumsi manusia secara riil mulai rapuh.
Di atas kertas, Produk Domestik Bruto (PDB) nominal digambarkan tumbuh pesat. Perusahaan berbasis AI menjadi semakin kaya ketika biaya tenaga kerja menyusut, sementara produktivitas meningkat. Output riil per jam dalam memo fiktif itu disebut naik pada tingkat yang belum terlihat sejak 1950-an, ditopang oleh agen AI yang tidak membutuhkan tidur, cuti, layanan kesehatan, atau perlindungan sosial.
Meski tampak “terlalu bagus untuk menjadi kenyataan”, Citrini Research menyoroti celah mendasar dalam skenario tersebut: mesin tidak berbelanja. AI tidak membeli kebutuhan pokok maupun konsumsi diskresioner. Kebutuhan pokok mencakup antara lain beras, listrik, air, dan biaya sekolah. Adapun konsumsi diskresioner adalah pengeluaran untuk hal yang tidak wajib, seperti liburan, menonton konser, mengganti ponsel yang masih berfungsi, makan di restoran mahal, hingga membeli barang mewah.
Dari titik inilah, memo fiktif itu menggambarkan bagaimana lonjakan efisiensi dan produktivitas yang ditopang AI dapat berhadapan dengan masalah daya beli manusia—sebuah ketegangan yang, dalam skenario ekstrem tersebut, menjadi bagian dari anatomi krisis 2028.