Nama DJI tiba-tiba ramai dibicarakan bukan karena manuver di langit, melainkan karena kerja senyap di lantai rumah.
DJI meluncurkan robot vacuum cleaner pertamanya, Romo Series, dan membawa warisan teknologi drone ke urusan domestik yang selama ini dianggap remeh.
Di Indonesia, kabar ini cepat masuk percakapan publik. Ia menyentuh irisan unik antara gaya hidup, teknologi, dan cara kita memaknai waktu.
Romo hadir dengan janji pembersihan lebih cerdas. Teknologi obstacle avoidance presisi tinggi dari drone diadaptasi agar pembersihan stabil dan minim hambatan.
Peluncuran dilakukan di Jakarta, Rabu (4/3/2026). DJI menyebut ini sebagai komitmen menghadirkan inovasi yang meningkatkan kualitas hidup pengguna.
-000-
Mengapa Romo Mendadak Jadi Tren di Indonesia
Tren ini bertumpu pada satu hal: pergeseran imajinasi publik tentang DJI. Dari kamera kreatif dan drone, kini masuk ke ruang paling personal, rumah.
Peralihan kategori produk seperti ini memancing rasa ingin tahu. Banyak orang ingin membuktikan, apakah reputasi presisi DJI benar-benar terasa di lantai.
Alasan pertama, efek kejutan merek. DJI selama ini identik dengan teknologi udara.
Ketika teknologi itu dibawa ke perangkat rumah tangga, publik melihatnya sebagai lompatan, bukan sekadar rilis produk rutin.
Alasan kedua, Romo menargetkan “pain point” yang akrab. Robot vacuum sering tersangkut Lego, kabel, atau rambut.
DJI secara eksplisit menyebut masalah itu. Narasi ini mudah menyambung dengan pengalaman pengguna yang sering berakhir dengan pembersihan gagal.
Alasan ketiga, kombinasi fitur dan harga memantik debat nilai. Romo P dipatok Rp 22.127.000.
Romo A Rp 16.761.000, dan Romo S Rp 14.749.000. Angka-angka ini membuat orang bertanya, “sepadan atau berlebihan?”
Di ruang digital, pertanyaan nilai selalu cepat viral. Bukan semata soal barang, melainkan soal identitas, prioritas, dan kelas konsumsi.
-000-
Teknologi Drone yang Turun ke Lantai
DJI menekankan satu fondasi: mereka mengasah navigasi presisi tinggi pada drone selama bertahun-tahun.
Teknologi itu kini diadaptasi ke Romo. Robot diklaim mampu mendeteksi objek kecil seperti kabel tipis, kartu kredit, hingga tumpahan cairan.
Akurasi yang disebut mencapai 3 mm. Angka ini penting karena sebagian besar masalah robot vacuum terjadi pada detail kecil di permukaan lantai.
Romo membawa obstacle sensing dari drone, termasuk LiDAR. DJI juga menyebut adanya dua wide-angle camera dan fish eye vision sensor.
Victor Jap, Head of DJI Product Specialist, menegaskan robot ini bahkan bisa menghindari kartu setebal 2 mm.
Jika klaim ini terbukti dalam praktik, maka “pembersihan” berubah dari rutinitas yang mudah macet menjadi proses yang lebih dapat diprediksi.
Di titik ini, teknologi tidak lagi terasa seperti aksesori. Ia menjadi sistem yang mengurangi interupsi kecil yang menguras energi harian.
-000-
Performa: Ketika Angka Menjadi Janji
DJI Romo menawarkan suction power hingga 25.000 Pascal. Ini diposisikan sebagai salah satu yang terkuat di kelasnya.
Airflow disebut mencapai 20 liter per detik, dengan tujuan memastikan debu tidak kembali keluar. Formulasi ini menonjolkan kontrol, bukan sekadar tenaga.
Untuk masalah rambut dan bulu hewan, DJI menyematkan dual anti-tangle roller brush.
Masalah rambut terlilit sering membuat pengguna berhenti di tengah jalan, membersihkan manual, lalu kehilangan alasan utama membeli robot.
DJI juga menyebut dual extendable robotic arm untuk pembersihan hingga 100% coverage.
Fokusnya pada sisi furnitur, kaki meja, dan pojok. Area-area ini sering menjadi simbol keterbatasan robot vacuum generasi awal.
Urutan kerja dibuat berlapis: vacuum dulu, lalu mopping. Tujuannya menghindari campuran debu dan air yang justru membuat lantai lebih kotor.
Water tank berkapasitas 164 ml, dengan opsi mopping lebih kuat untuk area seperti dapur yang sering terkena noda minyak.
Tekanan mopping hingga 12 Newton disebut membantu noda membandel. Kebisingan dijaga di bawah 65 dB berkat peredam suara.
Di atas kertas, ini seperti daftar spesifikasi. Namun di rumah, spesifikasi berubah menjadi rasa: lebih tenang, lebih rapi, dan lebih sedikit friksi.
-000-
Varian, Fitur Flagship, dan Simbol Kemewahan Baru
Romo Series hadir dalam tiga varian: Romo P, Romo A, dan Romo S.
DJI menyebut perbedaan utama ada pada desain dan fitur tambahan. Sensor, daya hisap, dan performa inti disebut sama di semua varian.
Romo P sebagai flagship membawa desain transparan. Ada fitur floor deodorizer menggunakan cairan khusus agar lantai lebih wangi.
Base station transparan memiliki self-cleaning system dengan high-pressure water jet.
DJI mengklaim base ini bisa bertahan hingga 200 hari tanpa perawatan intensif, cukup buang tangki kotoran dan isi air bersih.
Romo P juga memiliki UV filter pada dust bag. Ini memberi kesan kontrol kebersihan yang lebih “laboratorium”, meski tetap berada di ruang keluarga.
Di Indonesia, fitur-fitur seperti ini sering dibaca sebagai kemewahan baru. Bukan emas atau marmer, melainkan waktu luang dan rumah yang selalu siap.
-000-
Kontrol Aplikasi dan Pertanyaan Privasi yang Mengintai
Kontrol dilakukan via DJI Home App. Ada mapping ruangan dan pengaturan zona pembersihan, misalnya area hewan peliharaan atau dapur.
Fitur yang paling memantik perhatian adalah remote video call.
DJI menyebut fitur ini aman dengan password dan notifikasi suara “video is on”. Ini adalah upaya membangun rasa percaya.
Namun, setiap kamera yang masuk rumah membawa pertanyaan sosial yang lebih besar: siapa yang mengendalikan, siapa yang melihat, dan kapan ia aktif.
DJI menekankan adanya notifikasi. Meski begitu, publik Indonesia kian peka terhadap isu keamanan perangkat pintar.
Debatnya sering tidak hitam putih. Orang ingin kenyamanan, tetapi juga ingin batas yang jelas di ruang privat.
-000-
Isu Besar Indonesia: Produktivitas, Kelas Menengah, dan Ekonomi Perawatan
Romo menjadi cermin perubahan gaya hidup kelas menengah Indonesia.
Ketika jam kerja panjang, komuter melelahkan, dan rumah menjadi satu-satunya ruang pemulihan, pekerjaan domestik terasa makin berat.
Robot vacuum menjanjikan penghematan tenaga. Tetapi lebih dari itu, ia menjanjikan penghematan perhatian.
Di era notifikasi tanpa henti, perhatian adalah mata uang. Perangkat yang mengurangi beban mikro sering terasa lebih berharga daripada yang menambah fitur.
Isu ini juga terkait ekonomi perawatan, yakni kerja-kerja menjaga rumah tetap layak huni.
Di banyak keluarga, beban perawatan rumah tidak selalu terbagi rata. Teknologi rumah tangga sering dipasarkan sebagai “netral”, padahal dampaknya sosial.
Jika alat seperti Romo benar-benar mengurangi kerja berulang, ia bisa mengubah negosiasi peran di rumah.
Namun, ia juga menegaskan kesenjangan akses.
Harga belasan hingga puluhan juta rupiah membuatnya lebih dekat pada simbol aspirasi, bukan kebutuhan universal.
-000-
Kerangka Riset: Mengapa Otomasi Rumah Cepat Diadopsi
Untuk memahami tren ini, kita bisa memakai kerangka difusi inovasi.
Dalam teori Diffusion of Innovations dari Everett Rogers, adopsi teknologi dipengaruhi keunggulan relatif, kompatibilitas, kompleksitas, trialability, dan observability.
Romo menonjolkan keunggulan relatif lewat navigasi presisi dan obstacle avoidance.
Kompatibilitasnya muncul dari masalah harian yang umum: kabel, rambut, sudut sempit, dan pembersihan yang tidak tuntas.
Observability bekerja kuat di media sosial. Hasil lantai bersih, peta ruangan, dan video robot menghindari objek mudah divisualkan.
Di sisi lain, kompleksitas juga meningkat karena ada aplikasi, mapping, dan fitur kamera. Kompleksitas ini bisa menjadi hambatan bagi sebagian pengguna.
Kerangka lain yang relevan adalah Technology Acceptance Model dari Davis.
Model ini menekankan perceived usefulness dan perceived ease of use. DJI berusaha meyakinkan publik pada dua hal itu lewat klaim presisi dan minim tersangkut.
Riset-riset dalam bidang human factors juga sering menekankan bahwa kepercayaan pada otomasi dibentuk oleh konsistensi kinerja.
Artinya, bukan sekali dua kali berhasil, melainkan berkali-kali tidak mengecewakan.
Di sinilah taruhannya. Jika Romo benar-benar jarang macet, narasi “DJI membawa standar drone” akan terasa nyata.
-000-
Rujukan Luar Negeri: Pola yang Mirip, Pelajaran yang Sama
Di luar negeri, fenomena perangkat rumah tangga pintar yang viral bukan hal baru.
Robot vacuum telah lama menjadi kategori yang memadukan rasa ingin tahu, demonstrasi teknologi, dan perdebatan harga.
Banyak peluncuran global mengulang pola serupa: merek menonjolkan navigasi, penghindaran rintangan, dan stasiun pembersih otomatis.
Setiap kali fitur kamera dan pemetaan rumah ditambahkan, diskusi privasi ikut naik.
Pelajaran dari pola global sederhana: publik cepat terpikat pada otomasi, tetapi cepat pula menuntut transparansi.
Fitur keamanan seperti password dan notifikasi adalah awal, bukan akhir.
Kepercayaan biasanya dibangun oleh kebiasaan perusahaan menjelaskan batas kemampuan, cara kerja, dan kontrol pengguna, bukan hanya oleh brosur fitur.
-000-
Rekomendasi: Cara Menanggapi Tren dengan Tenang
Pertama, uji klaim pada kebutuhan nyata. Jika masalah utama Anda adalah kabel, sudut sempit, atau rambut, fokuslah pada fitur obstacle sensing dan anti-tangle.
Jangan membeli karena FOMO. Beli karena ada pekerjaan rumah yang benar-benar ingin Anda delegasikan secara konsisten.
Kedua, perhatikan aspek privasi. Jika menggunakan remote video call, pastikan password kuat dan pahami notifikasi “video is on”.
Letakkan perangkat dengan kesadaran bahwa rumah adalah ruang privat, bukan panggung teknologi.
Ketiga, hitung total nilai, bukan hanya harga. Nilai bisa berupa waktu luang, kebisingan lebih rendah, atau rumah yang lebih nyaman untuk anak dan lansia.
Namun nilai juga mencakup biaya perawatan, ketersediaan layanan, dan kebiasaan rumah yang harus menyesuaikan.
Keempat, bagi pembuat kebijakan dan pelaku industri, tren ini perlu dibaca sebagai sinyal.
Indonesia bergerak ke rumah pintar. Artinya, literasi keamanan perangkat, standar perlindungan data, dan edukasi konsumen harus ikut bergerak.
-000-
Penutup: Teknologi dan Pertanyaan tentang Hidup yang Kita Pilih
DJI Romo adalah berita teknologi, tetapi gaungnya adalah berita tentang manusia.
Kita sedang menawar ulang hubungan dengan waktu, tenaga, dan perhatian. Kita ingin hidup lebih ringan, tetapi tidak ingin kehilangan kendali.
Di lantai rumah, Romo menjanjikan pembersihan yang lebih cerdas.
Di kepala kita, ia memantik pertanyaan yang lebih sunyi: pekerjaan apa yang layak kita serahkan pada mesin, dan ruang apa yang tetap harus kita jaga.
Pada akhirnya, teknologi terbaik bukan yang paling ramai, melainkan yang membuat hidup lebih tertata tanpa membuat kita lupa cara hadir.
“Kemajuan bukan sekadar menambah kecepatan, melainkan menambah kebijaksanaan dalam memilih arah.”