BERITA TERKINI
Di Tengah Tren Startup, China Mantapkan Strategi Bangun Pabrik dan Kuasai Rantai Pasok Global

Di Tengah Tren Startup, China Mantapkan Strategi Bangun Pabrik dan Kuasai Rantai Pasok Global

Nama Zhou Qunfei mungkin tidak setenar Elon Musk atau Tim Cook, tetapi kehadirannya dalam sebuah jamuan makan malam kenegaraan yang mempertemukan Amerika Serikat dan China ikut menyita perhatian. Zhou adalah pendiri Lens Technology, perusahaan pemasok komponen layar yang digunakan berbagai merek besar seperti Apple, Samsung, dan Tesla—produk yang disentuh banyak orang setiap hari melalui ponsel dan tablet.

Perjalanan Zhou berawal dari buruh penggerinda kaca di Guangdong setelah terpaksa putus sekolah. Dari titik itu, ia membangun bisnis manufaktur yang kini menjadi bagian penting dalam rantai pasok teknologi global. Kisahnya menegaskan bahwa di balik gemerlap inovasi digital, ada kekuatan industri manufaktur dan penguasaan rantai pasokan yang menentukan.

Selama satu dekade terakhir, perhatian banyak negara cenderung tersedot pada pertumbuhan ekonomi digital berbasis aplikasi. Kemajuan sering diukur dari jumlah startup unicorn atau valuasi perusahaan teknologi. Dalam arus tersebut, aspek produksi fisik kerap terpinggirkan, termasuk pertanyaan mendasar tentang siapa yang membuat perangkat keras yang menopang revolusi digital.

Padahal, ekonomi digital tidak dapat berdiri sendiri tanpa dukungan manufaktur yang kompleks. Perangkat modern membutuhkan komponen fisik presisi agar layanan perangkat lunak bisa berjalan. Komponen yang disebut krusial dalam menopang ekosistem digital antara lain semikonduktor dan chip berperforma tinggi untuk teknologi kecerdasan buatan, baterai berkapasitas besar untuk kendaraan listrik, sensor dan panel termasuk material kaca presisi untuk ponsel pintar, serta infrastruktur fisik yang menjadi tulang punggung komputasi awan.

Daftar kebutuhan tersebut menunjukkan keterkaitan langsung antara inovasi perangkat lunak dan kesiapan perangkat keras. Tanpa penguasaan manufaktur, kemajuan digital hanya menjadi konsep yang tidak memiliki pijakan produksi.

Di tengah tren negara-negara yang berlomba membangun ekosistem aplikasi, China digambarkan mengambil jalur berbeda: memperkuat kapasitas industri dan meningkatkan kemampuan teknis untuk produksi massal secara konsisten. Menurut data World Bank yang disebut dalam naskah, kontribusi manufaktur China kini hampir mencapai sepertiga dari total output manufaktur global.

Penguatan ini mencakup sektor-sektor strategis, dari pengolahan logam tanah jarang hingga produksi robotika industri. Dampaknya, ketergantungan dunia terhadap kapasitas produksi China semakin besar—bukan sekadar sebagai tempat membeli barang, melainkan sebagai simpul penting dalam rantai pasok berbagai industri.

Gambaran tersebut menempatkan kisah Zhou Qunfei sebagai contoh bagaimana strategi manufaktur dan rantai pasok dapat menjadi fondasi kekuatan ekonomi modern. Di saat narasi ekonomi digital kerap mendominasi, penguasaan produksi fisik tetap menjadi faktor penentu dalam persaingan teknologi global.