CAST Foundation bersama Meaningful Design Group (MDG) dan Fab Lab Bali meluncurkan Desa Utak Atik, sebuah pameran sekaligus laboratorium inovasi yang menjadi bagian dari proyek Desa Hidrogen Hijau di Serangan, Bali. Inisiatif ini memperkenalkan model pembangunan alternatif berbasis komunitas yang memadukan teknologi bersih, desain kontekstual, dan kearifan lokal, seiring meningkatnya kebutuhan Indonesia mempercepat transisi energi di tengah tekanan krisis iklim.
Proyek Desa Hidrogen Hijau dirancang dengan pendekatan bottom-up yang menempatkan masyarakat desa sebagai penggerak utama inovasi. Fokusnya bukan hanya mengenalkan teknologi baru, melainkan membangun kapasitas warga agar mampu memahami, mengadaptasi, hingga menciptakan solusi energi sesuai konteks sosial dan budaya setempat.
Sejumlah pilar yang diusung meliputi penguatan ekonomi lokal melalui keterampilan fabrikasi digital, perlindungan ekosistem pesisir, serta pengembangan teknologi yang diselaraskan dengan struktur sosial Banjar dan Kampung Bugis di Serangan. Dalam praktiknya, tim juga mendirikan Kios Utak Atik sebagai ruang pembelajaran permanen di desa yang membuka akses bagi anak-anak dan remaja untuk bereksperimen dengan perangkat, fabrikasi digital, hingga teknologi energi bersih.
“Lokakarya yang kami lakukan bertujuan menumbuhkan daya pikir kritis generasi muda agar mereka menjadi pelaku utama masa depan berkelanjutan,” ujar Wan Zaleha Radzi, Founding Partner CAST Foundation.
Elemen teknologi utama yang diuji dalam proyek ini adalah hidrogen hijau, yang disebut memiliki densitas energi per massa lebih tinggi dibanding baterai lithium-ion. Dengan memanfaatkan potensi radiasi matahari Bali yang rata-rata mencapai 4,8 kWh/m2 per hari, desa dinilai memiliki peluang untuk memproduksi energi bersih secara mandiri. Pendekatan tersebut juga menekankan bahwa transisi energi tidak harus dimulai dari proyek berskala besar, melainkan dapat dipercepat melalui unit sosial yang lebih kecil seperti desa yang memiliki kedekatan dengan ekosistemnya.
Proyek ini menjadi bagian dari Koalisi Bali Emisi Nol Bersih 2045 yang melibatkan WRI Indonesia, IESR, New Energy Nexus Indonesia, dan Azura Indonesia, serta didukung penuh oleh ViriyaENB. Melalui jaringan MIT Fab Lab Network, Fab Lab Bali disebut membuka akses ke pengetahuan global dan riset internasional, sambil memastikan teknologi yang dikembangkan diuji agar sesuai dengan realitas sosial di Serangan.
“Dengan bekerja di konteks lokal, kami melihat bagaimana teknologi maju dapat diterapkan secara lebih relevan,” kata Tomas Diez, Founding Partner Meaningful Design Group.
Pameran Desa Utak Atik berfungsi sebagai arsip hidup dari keseluruhan proses, menampilkan prototipe, hasil uji lapangan, workshop, serta kolaborasi lintas-banjar. Melalui instalasi interaktif, pengunjung dapat melihat bagaimana inovasi berkembang ketika teknologi, budaya, dan partisipasi komunitas berjalan beriringan. Bagi CAST Foundation, pendekatan ini dipandang sebagai contoh demokratisasi teknologi yang memberi ruang bagi warga untuk terlibat aktif dalam industri inovasi.
“Indonesia punya talenta dan kapasitas inovasi yang besar. Yang dibutuhkan adalah kesempatan, arahan, dan kepercayaan diri,” ujar Ilham Habibie, Founding Partner CAST Foundation dan MDG.
Ke depan, Desa Utak Atik diharapkan dapat menjadi model yang bisa direplikasi di wilayah lain sebagai strategi pembangunan yang menggabungkan efisiensi ekonomi, kelestarian ekologi, dan pemberdayaan masyarakat.