SURABAYA — Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Debarkasi Surabaya berencana menambah kapasitas internet untuk layanan seamless corridor serta menambah jumlah angkutan barang jemaah haji 1447 H/2026 M. Langkah ini dilakukan setelah evaluasi pelaksanaan pemulangan jemaah pada hari-hari awal debarkasi.
Ketua PPIH Debarkasi Surabaya Mohammad As’adul Anam mengatakan, hingga Kamis (5/6/2026) terdapat empat dari 15 kelompok terbang (kloter) yang mengalami keterlambatan pemulangan. Menurut dia, keterlambatan itu dipengaruhi kepadatan bandara di Arab Saudi, kemungkinan technical landing, serta situasi saat pendaratan di Bandara Juanda.
Anam menyebut keterlambatan yang terjadi tidak sampai memakan waktu satu jam sehingga tidak berdampak signifikan terhadap kelancaran proses pemulangan. Namun, ia mengakui capaian on time performance (OTP) tidak bisa 100 persen karena adanya empat penerbangan yang terlambat.
“Sejauh ini proses kepulangan relatif lancar,” kata Anam di Asrama Haji Kelas I Surabaya, Jumat.
Ia menjelaskan, penyesuaian diperlukan karena penerapan seamless corridor dan perubahan pengaturan barang bawaan jemaah dibanding tahun sebelumnya. Pada hari pertama, kondisi tersebut sempat membuat kepulangan beberapa kloter terlambat beberapa menit.
Untuk mendukung kelancaran layanan, PPIH Debarkasi Surabaya akan menaikkan kapasitas internet seamless corridor dari 126 Mbps menjadi 264 Mbps. Selain itu, jumlah armada angkutan barang juga ditambah. Jika sebelumnya hanya tersedia satu wing box pada setiap penerbangan kedatangan, kini akan ditambah satu mobil box angkutan barang.
“Sehingga di setiap kita ada tiga set, set A, B, C. Jadi masing-masing set sudah ada penambahan satu mobil box,” ujarnya.
Di sisi lain, Anam menyampaikan bahwa hingga pemulangan hari kelima tercatat total 48 jemaah haji wafat. Rinciannya, 45 orang meninggal di Arab Saudi saat pelaksanaan ibadah haji, dua orang wafat di Debarkasi Surabaya, dan satu orang meninggal setibanya di embarkasi saat proses pemulangan.
Menurut Anam, sebagian besar jemaah yang meninggal dunia disebabkan syok kardiogenik atau serangan jantung. Ia menambahkan, keluarga jemaah yang wafat akan menerima santunan kematian sebesar Rp 37,5 juta.
Anam mengatakan mekanisme pencairan santunan tahun ini dinilai lebih praktis. Keluarga hanya perlu menetapkan ahli waris sebagai penerima santunan, tanpa prosedur pengajuan seperti tahun sebelumnya.
“Cukup menentukan ahli warisnya. Jadi penetapan ahli warisnya siapa, penerima cover terkait dengan kematian tersebut siapa, nanti bisa langsung cair,” katanya.
Ia berharap perubahan mekanisme tersebut dapat memperlancar pencairan dan meringankan beban keluarga yang ditinggalkan. “Kita berharap nanti sebelum operasionalnya diselesaikan sudah ada pencairan itu,” ujarnya.