China mulai menyiapkan langkah menuju teknologi komunikasi generasi keenam (6G), yang diproyeksikan tidak hanya meningkatkan kecepatan internet, tetapi juga memperluas konektivitas hingga mencakup darat, laut, udara, dan antariksa. Upaya ini dilakukan melalui program percontohan untuk mendorong inovasi dan pengembangan 6G.
Menurut laporan Xinhua pada Jumat, 5 Juni, Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China (MIIT) meluncurkan program percontohan kolaborasi antara kementerian dan pemerintah provinsi. Program tersebut disiapkan untuk mendukung peluncuran komersial 6G pada masa mendatang.
Fokus program mencakup pengembangan teknologi 6G, integrasi jaringan komunikasi dengan kecerdasan buatan (AI), internet satelit, serta pengindraan nirkabel. MIIT juga menyatakan akan memperkuat riset terkait stasiun pemancar 6G, perangkat jaringan inti, terminal, cip, dan sistem operasi, sehingga pengembangan tidak hanya menyasar jaringan, tetapi juga ekosistem pendukungnya.
Wilayah percontohan akan menguji penggunaan 6G sesuai kebutuhan lokal. Sejumlah bidang yang disasar meliputi komunikasi imersif, manufaktur industri, ekonomi ketinggian rendah, kecerdasan berwujud, dan operasi maritim cerdas. Komunikasi imersif merujuk pada pengalaman komunikasi yang lebih nyata, misalnya melalui teknologi virtual atau augmented reality. Ekonomi ketinggian rendah berkaitan dengan aktivitas seperti drone, kendaraan udara kecil, dan layanan logistik udara jarak pendek. Sementara itu, kecerdasan berwujud mengacu pada AI yang bekerja melalui perangkat fisik, seperti robot.
MIIT menyatakan akan memantau perkembangan 6G dan menyesuaikan rencana uji coba bila diperlukan. Selain itu, kementerian tersebut akan menggelar uji teknologi melalui IMT-2030 (6G) Promotion Group.
Laporan Xinhua menyebutkan China ingin memperkuat posisinya dalam teknologi komunikasi generasi baru. Saat ini, negara tersebut memiliki infrastruktur jaringan 5G terbesar di dunia, dengan jutaan stasiun pemancar yang telah dipasang di berbagai wilayah.
Dibandingkan 5G, 6G disebut dapat meningkatkan kinerja 10 hingga 100 kali lipat dalam kecepatan transmisi, latensi, dan keandalan. Latensi adalah jeda waktu pengiriman data; semakin kecil latensi, semakin cepat perangkat merespons. Aspek ini dinilai penting untuk kebutuhan seperti mobil otonom, robot industri, layanan kesehatan jarak jauh, dan sistem lain yang memerlukan respons sangat cepat.
Cakupan 6G juga diperkirakan lebih luas karena jaringannya tidak hanya menjangkau daratan, tetapi juga wilayah udara, antariksa, dan maritim. Dengan karakter tersebut, 6G diposisikan sebagai tulang punggung transformasi digital masa depan yang dapat memengaruhi industri, transportasi, pelabuhan, manufaktur, hingga layanan publik apabila teknologinya telah matang.
Pada awal Mei, MIIT menyatakan China telah menyetujui spektrum uji coba pada pita 6 GHz untuk pengembangan teknologi 6G. Persetujuan itu diberikan kepada IMT-2030 (6G) Promotion Group, yang berwenang menjalankan uji coba 6G di sejumlah wilayah terpilih.
Uji coba tersebut diarahkan untuk riset teknis, pengujian, dan validasi berdasarkan skenario utama serta indikator kinerja yang ditetapkan International Telecommunication Union (ITU), badan telekomunikasi internasional di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa.
IMT-2030 (6G) Promotion Group dibentuk MIIT pada Juni 2019 sebagai wadah bagi industri, perguruan tinggi, dan lembaga riset di China untuk mengembangkan teknologi komunikasi seluler 6G sekaligus memperluas kerja sama internasional.