BERITA TERKINI
Celah di Chatbot AI Dukungan Meta Dimanfaatkan Peretas, Sejumlah Akun Instagram Profil Tinggi Terdampak

Celah di Chatbot AI Dukungan Meta Dimanfaatkan Peretas, Sejumlah Akun Instagram Profil Tinggi Terdampak

Meta mengonfirmasi adanya celah keamanan pada chatbot dukungan berbasis kecerdasan buatan (AI) miliknya yang dimanfaatkan peretas untuk mengambil alih sejumlah akun Instagram, termasuk akun dengan profil tinggi. Insiden ini menyoroti risiko baru di tengah pemanfaatan AI yang semakin luas pada layanan platform digital.

Kasus tersebut memunculkan pertanyaan soal keamanan penggunaan AI dalam proses yang berkaitan dengan akun dan kata sandi pengguna. Teknologi yang dirancang untuk membantu pengguna mengatasi masalah akun, dalam kondisi tertentu, justru dapat dieksploitasi pihak tidak bertanggung jawab.

Dikutip dari theguardian (01/06/26), beberapa akun yang disebut terdampak antara lain akun Instagram Gedung Putih pada era Presiden Barack Obama, perusahaan ritel kecantikan Sephora, serta akun milik pejabat tinggi militer Amerika Serikat.

Sejumlah peneliti keamanan siber melaporkan bahwa peretas memanfaatkan chatbot AI dukungan Meta untuk mengubah alamat email yang terhubung dengan akun korban. Setelah email berhasil diganti, pelaku dapat mengajukan reset kata sandi dan kemudian memperoleh kendali atas akun tersebut. Metode ini dinilai berbahaya karena memanfaatkan sistem otomatis yang seharusnya membantu pengguna.

Dalam beberapa demonstrasi yang beredar di media sosial dan platform pesan instan, pelaku terlihat berinteraksi dengan chatbot AI Meta untuk menjalankan rangkaian langkah yang berujung pada pengambilalihan akun.

Menanggapi temuan itu, Meta menyatakan celah telah ditutup dan perusahaan sedang mengamankan akun-akun yang terdampak. Namun, hingga kini belum diketahui secara pasti jumlah pengguna yang menjadi korban. Meta juga belum memaparkan secara rinci mekanisme perlindungan yang diperbarui, tetapi memastikan sistem yang dimanfaatkan pelaku sudah tidak bisa digunakan lagi.

Insiden ini terjadi ketika Meta memperluas penggunaan AI pada berbagai layanan, termasuk Facebook dan Instagram. Pada awal 2026, perusahaan meluncurkan fitur AI Support Assistant untuk membantu pengguna secara otomatis, mulai dari pelaporan akun palsu hingga pengaturan ulang kata sandi.

Menurut pakar keamanan siber, serangan dalam kasus ini termasuk kategori prompt injection, yakni teknik memanipulasi instruksi yang diterima sistem AI sehingga chatbot menjalankan tindakan yang tidak semestinya. Ancaman ini menjadi perhatian seiring meningkatnya penggunaan AI generatif, terutama ketika chatbot memiliki akses untuk melakukan tindakan sensitif seperti mengubah pengaturan akun atau memproses permintaan pemulihan.

Para peneliti memperingatkan kasus serupa berpotensi meningkat seiring semakin banyak perusahaan mengintegrasikan AI ke dalam layanan pelanggan dan sistem otomatis. Mereka menekankan pentingnya pengawasan dan pengamanan ketat ketika AI terhubung langsung dengan data pribadi dan identitas digital pengguna.

Untuk mengurangi risiko peretasan, pengguna disarankan mengaktifkan autentikasi dua faktor (2FA), menggunakan kata sandi yang kuat, serta memantau aktivitas akun secara berkala.