BERITA TERKINI
Canva Sempat Down Global, Meta Tambah Kontrol Orang Tua untuk Akun Remaja, dan China Tuding AS Lakukan Serangan Siber

Canva Sempat Down Global, Meta Tambah Kontrol Orang Tua untuk Akun Remaja, dan China Tuding AS Lakukan Serangan Siber

Gangguan layanan Canva pada Senin siang, 20 Oktober 2025, menjadi perhatian karena membuat banyak pengguna tidak bisa login maupun membuka platform desain tersebut, baik melalui situs web maupun aplikasi. Keluhan muncul dari berbagai negara dan ramai dibahas di media sosial.

Pantauan menunjukkan gangguan terjadi sekitar pukul 14.22 WIB. Saat diakses, Canva menampilkan pesan “503 - Server error. That means something isn't working on our end.” Data dari Downdetector mencatat lebih dari 779 laporan terkait gangguan dalam satu jam terakhir. Rinciannya, sekitar 45 persen pengguna melaporkan tidak bisa terkoneksi dengan server, 32 persen tidak bisa membuka situs web melalui peramban, dan 23 persen mengalami kendala saat mengakses aplikasi di perangkat mobile.

Di isu lain, Meta mengumumkan langkah yang disebut berpihak pada orang tua untuk memantau akun anak remaja yang berinteraksi dengan teknologi kecerdasan buatan (AI). Kebijakan ini muncul setelah adanya sorotan terkait laporan perilaku tidak pantas dari AI buatan Meta dalam beberapa interaksi dengan remaja.

Pada Agustus 2025, Reuters melaporkan kebijakan dan aturan Meta yang disebut memungkinkan terjadinya percakapan provokatif antara chatbot buatan mereka dengan anak di bawah umur. Pemerintah Amerika Serikat kemudian melakukan pengawasan atas potensi dampak negatif dari chatbot tersebut. Merespons perhatian media dan lembaga pemerintah, Meta menyatakan setuju mengambil langkah proaktif dengan memberikan akses pemantauan bagi orang tua terhadap akun media sosial anak remaja.

Sementara itu, China menuding Badan Keamanan Nasional (NSA) Amerika Serikat berada di balik serangan siber yang disebut berlangsung pada 2023 hingga 2024. Kementerian Keamanan Negara China, melalui unggahan di WeChat, menyatakan NSA menargetkan National Time Service Center, lembaga di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan China yang berperan menghasilkan, memelihara, dan menyalurkan standar waktu nasional.

Menurut pernyataan tersebut, operasi itu menggunakan sekitar 42 jenis “senjata serangan siber khusus” untuk menyusup ke lembaga terkait. China menilai serangan itu berpotensi memicu gangguan pada komunikasi jaringan, sistem keuangan, serta pasokan listrik negara.