Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggelar kegiatan BRIN Goes to Villages sebagai upaya mendekatkan kerja-kerja laboratorium riset dengan kebutuhan nyata masyarakat desa. Program ini juga ditujukan untuk memperkuat desa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek).
Kepala BRIN Arif Satria mengatakan pembangunan Indonesia tidak akan berhasil tanpa kemajuan desa. Ia menekankan hasil riset yang dikembangkan para periset perlu menjawab persoalan riil masyarakat, mulai dari ketahanan pangan, pengelolaan lingkungan, pengembangan usaha mikro, hingga tata kelola pemerintahan desa yang lebih efektif dan transparan.
“Desa tidak boleh hanya menjadi objek pembangunan. Desa harus menjadi subjek sekaligus pusat pertumbuhan baru yang mampu menggerakkan ekonomi lokal berbasis pengetahuan, teknologi, dan inovasi,” kata Arif dalam kegiatan di Jakarta, Kamis.
Arif menyebut Indonesia memiliki lebih dari 75.000 desa dengan potensi besar sebagai motor pembangunan nasional. Namun, ia menilai masih ada sejumlah tantangan, seperti keterbatasan akses teknologi, rendahnya produktivitas ekonomi, pengelolaan lingkungan yang belum optimal, serta terbatasnya kapasitas sumber daya manusia.
Untuk menjawab tantangan tersebut, BRIN mengembangkan konsep Desa Inovasi yang dibangun di atas lima pilar utama, yakni Smart and Innovative Society, Smart and Innovative Economy, Smart and Innovative Governance, Smart and Innovative Living and Environment, serta Smart and Innovative Heritage. Kelima pilar itu dirancang untuk mendorong transformasi pembangunan desa secara menyeluruh dan berkelanjutan.
“Melalui Program Desa Inovasi, BRIN ingin memastikan bahwa hasil riset hadir dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Arif juga menegaskan desa maju tidak hanya ditandai oleh infrastruktur yang baik, tetapi juga kemampuan memanfaatkan iptek untuk meningkatkan kesejahteraan. Karena itu, ia mendorong penguatan kapasitas masyarakat desa agar lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi sekaligus mampu mengembangkan potensi lokal.
Menurutnya, riset dan inovasi perlu menjadi instrumen pemberdayaan masyarakat. Ia mencontohkan, ketika teknologi tepat guna dapat dimanfaatkan petani, pelaku UMKM, kelompok perempuan, maupun generasi muda desa, maka produktivitas dapat meningkat dan kesejahteraan tumbuh secara berkelanjutan.
Arif menambahkan, pembangunan desa berbasis inovasi memerlukan sinergi lintas sektor. Ia menilai tidak ada satu lembaga pun yang dapat bekerja sendiri untuk membangun desa yang mandiri dan berdaya saing. Dalam konteks itu, BRIN diposisikan sebagai penghubung antara dunia riset dan kebutuhan pembangunan di masyarakat.
“Kolaborasi adalah kunci. BRIN menyediakan solusi berbasis riset dan teknologi, sementara pemerintah daerah, kementerian, dunia usaha, dan masyarakat menjadi mitra dalam memastikan inovasi tersebut dapat diterapkan dan memberikan dampak nyata,” tutur Arif.