Transformasi digital di sektor perbankan disebut memasuki fase baru. Fokusnya tidak lagi sebatas aplikasi mobile atau layanan digital, melainkan pemanfaatan Agentic AI—kecerdasan buatan yang mampu bertindak otonom berbasis tujuan—untuk meningkatkan efisiensi, keamanan, dan daya saing Bank Pembangunan Daerah (BPD).
Dorongan adopsi teknologi ini menguat seiring kompetisi industri keuangan yang kian ketat. BPD dinilai tetap memegang peran strategis sebagai penggerak ekonomi daerah, namun pada saat yang sama menghadapi tekanan dari fintech, bank digital, serta tuntutan regulasi dan keamanan siber yang semakin kompleks.
Asosiasi Bank Daerah mencatat terdapat 27 BPD di Indonesia, terdiri dari 24 BPD konvensional dan 3 BPD syariah. Seluruhnya dituntut beradaptasi cepat agar tidak tertinggal dalam arus transformasi industri keuangan nasional.
Dalam BPD Forum ke-20 bertajuk “Securing Financial Transformation: Navigating Change, Driving Impact with Agentic AI” yang digelar di Bali pada 11–13 Februari 2026, PT Multipolar Technology Tbk menegaskan bahwa Agentic AI bukan sekadar tren sesaat. Senior Vice President Multipolar Technology, Achmad Fakhrudin, menyebut Agentic AI sebagai “mesin pengungkit” baru bagi perbankan daerah.
“Ini bukan lagi tentang wacana atau proyeksi. Agentic AI adalah alat nyata untuk membuka nilai bisnis dan memperkuat daya saing BPD di tengah disrupsi teknologi,” ujar Achmad.
Menurut Multipolar Technology, Agentic AI berbeda dari AI konvensional karena dirancang untuk mengambil keputusan secara mandiri dalam koridor tata kelola yang ketat. Dalam konteks perbankan, pendekatan ini dinilai penting, terutama bila dibangun di atas platform AI yang aman, terstandarisasi, dan dapat dijalankan secara on-premise guna memenuhi regulasi serta melindungi data sensitif nasabah.
Multipolar Technology memetakan empat area strategis sebagai titik masuk implementasi Agentic AI di lingkungan BPD. Pertama, AI Ops untuk memangkas biaya sekaligus meningkatkan efisiensi operasional melalui otomasi dan optimalisasi proses kerja. Kedua, AI-Driven Security untuk memperkuat pertahanan terhadap ancaman serangan siber yang semakin kompleks.
Ketiga, AI Testing untuk mempercepat proses pengujian sistem sehingga peluncuran layanan digital bisa dilakukan lebih cepat dan minim risiko. Keempat, AI Transaction Network Analysis untuk menganalisis pola transaksi secara lebih mendalam guna mendeteksi potensi risiko dan aktivitas mencurigakan sejak dini.
Keempat area tersebut dinilai akan optimal jika ditopang platform AI dengan orkestrasi model, automasi pipeline, monitoring, serta tata kelola yang jelas. Multipolar Technology juga menyatakan integrasi Agentic AI dapat dilakukan tanpa harus “mengguncang” core banking maupun sistem digital yang sudah berjalan.
Namun, penerapan AI disebut tidak akan efektif tanpa fondasi data yang kuat. Hal ini disampaikan Vice President Divisi AI & Big Data Analytics PT Bank Negara Indonesia Tbk, Robby Indarto. “AI hanya sepintar data yang dimilikinya. Bank harus memastikan data valid, andal, dan siap dianalisis,” kata Robby.
Ia menjelaskan, data analytics berfungsi membaca apa yang sudah terjadi, sementara data science memanfaatkan AI untuk prediksi, pemodelan cerdas, hingga otomasi keputusan—wilayah yang disebutnya mulai diperkuat oleh Agentic AI.
Achmad menilai Agentic AI berpotensi menjadi akselerator bagi transformasi BPD. “Agentic AI bisa menjadi akselerator besar bagi transformasi BPD. Dengan fondasi teknologi yang kuat, kami siap menjadi mitra strategis perbankan daerah untuk menghadirkan inovasi digital yang berdampak nyata bagi ekonomi daerah,” ujarnya.