Country Manager Amazon Web Services (AWS) Indonesia Anthony Amni menilai belum ada tanda-tanda “AI bubble” atau gelembung ekonomi di industri kecerdasan buatan (AI) di Indonesia. Ia mengatakan pemanfaatan AI di Tanah Air masih tumbuh secara sehat karena didorong kebutuhan bisnis yang nyata, bukan sekadar mengikuti tren.
“Saya tidak melihat ada AI bubble di Indonesia. Karena semua use case yang dibangun menyentuh masalah nyata dan dampaknya jelas bagi bisnis, bukan sekadar gimmick,” kata Anthony dalam wawancara di sela gelaran AWS re:Invent 2025 di Las Vegas, Nevada, Amerika Serikat, pada 1–5 Desember.
Dalam konteks global, istilah AI bubble merujuk pada kondisi ketika tren AI berada di puncak popularitas—perusahaan berlomba mengadopsi AI dan investor mengucurkan dana besar—namun perkembangan maupun keuntungan yang dihasilkan tidak selalu secepat atau sebesar ekspektasi.
Anthony menyebut, di Indonesia perusahaan memanfaatkan AI untuk kebutuhan yang konkret, seperti meningkatkan efisiensi operasional, memproses dokumen, menganalisis insiden, hingga memperbaiki layanan pelanggan. Menurutnya, ragam penerapan tersebut menunjukkan bahwa AI digunakan untuk menyelesaikan persoalan yang jelas dan terukur dampaknya bagi organisasi.
Ia mencontohkan penggunaan layanan AWS oleh Diskominfo Jawa Barat dan Jabar Digital Service untuk menjalankan aplikasi Sapawarga dan Pikobar. Sistem tersebut memanfaatkan layanan seperti Amazon EKS, SQS, dan CloudFront agar dapat melayani kebutuhan publik secara real time serta tetap stabil ketika trafik meningkat.
Contoh lain datang dari Bali. Diskominfo setempat mengadopsi Amazon Rekognition dan DynamoDB untuk sistem absensi dan evaluasi kinerja lebih dari 19.000 aparatur sipil negara (ASN), sekaligus mendukung sejumlah layanan seperti sensus digital.
Di sektor kesehatan digital, Halodoc menggunakan Amazon Bedrock dan model Nova Pro untuk mengotomatisasi proses klaim asuransi, mulai dari ekstraksi data hingga validasi fraud. Implementasi ini diklaim memangkas waktu proses klaim hingga 50 persen dan meningkatkan produktivitas staf lebih dari 40 persen.
Sementara itu, Telkomsel memanfaatkan generative AI untuk analisis insiden melalui sistem “Celyna” yang dibangun di atas Amazon Bedrock. Menurut AWS, sistem tersebut mempercepat analisis dan penyelesaian insiden hingga 83 persen.
Di luar contoh penggunaan tersebut, Anthony menilai Indonesia justru perlu menambah investasi AI, terutama untuk riset dan pengembangan model AI lokal. Ia juga mendorong pengembangan frontier model lokal melalui Nova Forge agar lebih relevan dengan kebutuhan budaya dan bahasa di Indonesia.